RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA MALAIKAT

RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Sabdanya, “dan malaikat-malaikat-Nya” disebutkan lebih dahulu sebelum para rasul dan kitab-kitab, karena malaikat termasuk alam ghaib, sedangkan para rasul dan kitab-kitab termasuk alam yang dapat ditangkap oleh indera. Para malaikat tidak tampak secara inderawi kecuali dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Allah menciptakan malaikat dari cahaya, sebagaimana telah ditetapkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak membutuhkan makan dan minum. Karena itu dikatakan bahwa mereka adalah shamad, yakni tidak memiliki rongga perut, sehingga tidak memerlukan makan dan minum. Maka kita beriman bahwa ada suatu alam ghaib, yaitu alam para malaikat.

Para malaikat terdiri dari berbagai golongan. Tugas mereka beragam sesuai dengan hikmah Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana manusia memiliki berbagai golongan dan tugas.

Iman kepada malaikat mencakup beberapa hal, di antaranya:

Pertama, beriman kepada nama-nama malaikat yang kita ketahui, yaitu meyakini bahwa ada malaikat tertentu dengan nama tertentu, seperti malaikat Jibril.

Kedua, beriman kepada tugas-tugas mereka. Sebagai contoh: Jibril ditugaskan dengan wahyu, yaitu menurunkannya dari sisi Allah kepada para rasul-Nya. Mikail ditugaskan dengan al-qathr yaitu hujan dan an-nabat yaitu tumbuhan bumi. Israfil ditugaskan dengan meniup sangkakala.

Ketiga malaikat ini biasa disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membuka shalat malam. Beliau berdoa,

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ

Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil.” (HR Muslim)

Hikmah penyebutan mereka adalah karena masing-masing ditugaskan pada satu jenis kehidupan: Jibril ditugaskan dengan wahyu, dan wahyu adalah kehidupan bagi hati, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu roh dari urusan Kami.” (QS asy-Syura: 52)

Mikail ditugaskan dengan hujan dan tumbuh-tumbuhan, yang merupakan kehidupan bagi bumi.

 

Israfil ditugaskan dengan meniup sangkakala, yang menjadi sebab kehidupan manusia pada kehidupan yang abadi.

Keterkaitannya jelas, karena ketika kamu bangun dari tidur, sesungguhnya kamu telah dibangkitkan dari suatu kematian, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ

Dan Dia-lah yang mewafatkan kalian pada malam hari dan mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangkitkan kalian di dalamnya.” (QS al-An’am: 60)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمّى

Allah mewafatkan jiwa-jiwa ketika kematiannya dan (mewafatkan) jiwa yang belum mati dalam tidurnya, lalu Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematian baginya dan melepaskan yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS az-Zumar: 42).

Apabila bangun pada malam hari merupakan suatu kebangkitan, sementara ketiga malaikat mulia tersebut masing-masing ditugaskan dengan urusan kehidupan, maka keterkaitannya pun menjadi jelas.

Demikian pula, wajib beriman terhadap tugas-tugas khusus yang diemban oleh sebagian malaikat. Di antaranya adalah malaikat-malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan hamba-hamba. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ۝ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ ۝ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat amal, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS Qaf: 16–18)

Malaikat-malaikat ini ditugaskan untuk mencatat amal perbuatan anak-anak Adam.

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman dalam ayat yang lain:

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ ۝ وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝ كِرَامًا كَاتِبِينَ

Sekali-kali tidak! Bahkan kalian mendustakan hari pembalasan. Dan sesungguhnya atas kalian benar-benar ada para penjaga, yang mulia lagi mencatat.” (QS al-Infithar: 9–11)

Mereka mencatat setiap ucapan yang diucapkan manusia.

Zahir ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa mereka mencatat apa yang menguntungkan manusia, apa yang merugikannya, bahkan apa yang tidak menguntungkan dan tidak merugikannya. Hal ini karena firman Allah “min qawlin” (dari suatu ucapan) berbentuk nakirah dalam konteks penafian yang dikuatkan dengan kata min, sehingga menunjukkan makna umum. Akan tetapi, apa yang tidak menguntungkan dan tidak merugikan tidak akan dihisab. Hanya saja dikatakan bahwa orang tersebut telah luput darinya kebaikan yang banyak.

Disebutkan bahwa seorang laki-laki masuk menemui Ahmad bin Hanbal rahimahullah —seorang ahli fikih di kalangan ahli hadis, ahli hadis di kalangan ahli fikih, dan imam Ahlus Sunnah. Ketika orang itu masuk, Imam Ahmad sedang mengerang karena rasa sakit. Orang itu berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah, engkau mengerang, padahal Tawus ibnu Kaysan berkata, ‘Sesungguhnya malaikat mencatat hingga erangan orang yang sakit.’”

Imam Ahmad rahimahullah pun menahan diri dari mengerang. Ini termasuk bentuk pengagungan terhadap atsar para salaf di kalangan para salaf sendiri.

Di antara para malaikat terdapat malaikat yang ditugaskan berkeliling di bumi untuk mencari majelis-majelis dzikir dan ilmu. Apabila mereka menemukannya, mereka pun duduk (menghadirinya).

Di antara mereka pula terdapat malaikat yang ditugaskan menjaga anak-anak Adam. Di antara mereka terdapat malaikat yang ditugaskan mencabut roh anak-anak Adam. Di antara mereka terdapat malaikat yang ditugaskan menanyai orang yang meninggal di dalam kuburnya.

Di antara mereka terdapat malaikat yang ditugaskan menyambut orang-orang beriman pada Hari Kiamat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ

Dan para malaikat menyambut mereka.” (QS al-Anbiya: 103)

Ada pula malaikat yang ditugaskan memberi salam kepada para penghuni Surga, sebagaimana firman-Nya:

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ ۝ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ

Para malaikat masuk menemui mereka dari setiap pintu, (seraya berkata), ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian.’” (QS ar-Ra’d: 23–24)

Di antara mereka terdapat malaikat yang senantiasa beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla siang dan malam tanpa henti, sebagaimana firman-Nya:

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

Mereka bertasbih malam dan siang tanpa pernah henti.” (QS al-Anbiya: 20)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا مِنْ مَوْضِعِ أَرْبَعِ أَصَابِعَ مِنْهَا إِلَّا وَفِيهِ مَلَكٌ قَائِمٌ لِلَّهِ أَوْ رَاكِعٌ أَوْ سَاجِدٌ

Langit berbunyi (berderit) dan memang pantas ia berderit. Tidak satu tempat selebar empat jari pun di langit kecuali di sana terdapat satu malaikat yang berdiri, rukuk, atau sujud kepada Allah.” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Derit adalah bunyi seperti derit pelana di atas unta ketika bebannya berat.

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH

Baca juga: SYIRIK ADALAH DOSA YANG MEMBINASAKAN

Baca juga: KISAH ORANG YANG BERPENYAKIT KUSTA, ORANG BOTAK, DAN ORANG BUTA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Arba'in an-Nawawiyyah