Dan firman Allah Jalla Dzikruhu: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan sampai memudaratkan-Ku sehingga kalian memudaratkan-Ku, dan kalian tidak akan sampai memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian memberi manfaat kepada-Ku,” maksudnya adalah bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala Mahakaya terhadap para hamba-Nya. Dia tidak mengambil manfaat dari ketaatan mereka dan tidak dirugikan oleh maksiat mereka.
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Kitab-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Mahapemberi Rezeki yang memiliki kekuatan yang sangat kokoh.” (QS adz-Dzariyat: 56-58)
Maka Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengambil manfaat dari siapa pun dan tidak dirugikan oleh siapa pun, karena Dia Mahakaya terhadap makhluk-Nya. Dia menciptakan mereka dengan hikmah yang Dia kehendaki, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian Dia menjanjikan pahala bagi yang taat dan mengancam dengan azab bagi yang durhaka. Ini adalah bentuk hikmah-Nya, karena Dia menciptakan Surga dan Neraka. Dia berfirman kepada keduanya:
لِكُلِّ مِنْكُمَا عَلَىٰ مِلْئِهَا
“Untuk masing-masing dari kalian (ada) yang akan mengisinya.”
Maka Neraka pasti akan diisi dan Surga pun pasti akan diisi, sebagaimana firman-Nya:
وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Dan untuk itulah mereka diciptakan. Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu: Sesungguhnya Aku benar-benar akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia semuanya.” (QS Hud: 119)
Allah Ta’ala tidak mengambil manfaat dari ketaatan orang-orang yang taat, dan tidak dirugikan oleh maksiat orang-orang yang durhaka. Tidak ada siapa pun yang dapat membahayakan-Nya, bagaimanapun keadaannya.
Karena itu, Allah berfirman setelah kalimat tersebut: “Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang pertama dan orang terakhir dari kalian, dari kalangan manusia dan jin, berada di atas hati orang yang paling bertakwa di antara kalian, hal itu tidak akan menambah sedikit pun dalam kerajaan-Ku.
Seandainya makhluk yang pertama dan yang terakhir, baik dari golongan manusia maupun jin, semuanya bertakwa mengikuti hati orang yang paling bertakwa, maka hal itu tidak akan menambah sedikit pun dalam kerajaan Allah. Sebab, kerajaan itu adalah milik-Nya, bukan milik orang-orang yang taat maupun orang-orang yang durhaka.
Demikian pula, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang pertama dan orang terakhir dari kalian, dari kalangan manusia dan jin, berada di atas hati orang paling durhaka di antara kalian, hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku.”
Seandainya seluruh hamba, baik dari golongan jin maupun manusia, yang pertama hingga yang terakhir, seluruhnya adalah orang-orang fajir (durhaka), dan semuanya mengikuti hati orang yang paling durhaka, maka hal itu tetap tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ، وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ، وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kalian kufur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya terhadap kalian, dan Dia tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya. Tetapi jika kalian bersyukur, Dia meridhainya untuk kalian.” (QS az-Zumar: 7)
Maka kerajaan Allah Jalla wa ‘Ala tidak berkurang karena maksiat orang-orang yang durhaka dan tidak bertambah karena ketaatan orang-orang yang taat. Kerajaan itu milik Allah dalam segala keadaan.
Dalam tiga kalimat ini terdapat dalil atas kekayaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, dan bahwa Dia tidak dirugikan oleh siapa pun serta tidak mengambil manfaat dari siapa pun, karena Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan siapa pun.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang pertama dan orang terakhir dari kalian, dari kalangan manusia dan jin, berkumpul di tanah yang sama lalu meminta kepada-Ku, lalu Aku beri setiap orang permintaannya, hal itu tidak akan mengurangi dari apa yang ada pada-Ku kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke laut.”
Kalimat ini menunjukkan betapa luasnya kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla dan betapa sempurnanya kekayaan-Nya Tabaraka wa Ta’ala. Seandainya seluruh manusia dan jin dari yang pertama hingga yang terakhir berdiri bersama di satu tempat dan masing-masing meminta kepada Allah apa yang diinginkan jiwa mereka dari permintaan yang paling mendasar sekali pun dan sebesar apa pun, lalu Allah memberi setiap orang apa yang dimintanya —bahkan seluruh peminta diberikan semua permintaannya— maka hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan Allah. Sebab, Allah adalah Mahadermawan, Mahamemiliki, Mahakaya, dan Mahaluas dalam pemberian-Nya ‘Azza wa Jalla, “kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke laut.”
Celupkanlah jarum ke dalam laut, lalu lihatlah! Apa yang berkurang dari laut itu? Sungguh, laut tidak berkurang sedikit pun, dan jarum itu tidak mengambil sesuatu pun dari laut yang bisa dianggap sebagai bagian darinya. Hal itu karena Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang Mahaluas kekayaan-Nya, Mahadermawan, Mahamulia, dan Mahapemurah.
Allah Ta’ala berfirman: Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya amal-amal kalian Aku catat untuk kalian, lalu Aku sempurnakan balasannya kepada kalian.”
Makna dari “Sesungguhnya amal-amal kalian Aku catat untuk kalian” adalah bahwa seluruh urusan bergantung pada amal perbuatan manusia sendiri. Allah menghitung seluruh amalnya, lalu pada Hari Kiamat Allah akan menyempurnakan balasan atas amal tersebut kepadanya, sebagaimana firman-Nya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan seberat zarah kebaikan, ia akan melihatnya. Barang siapa mengerjakan seberat zarah kejahatan, ia akan melihatnya.” (QS az-Zalzalah: 7–8)
“Maka siapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan siapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah menyalahkan kecuali dirinya sendiri,” karena dialah yang melakukan kesalahan, dan dialah yang telah menghalangi dirinya dari kebaikan.
Adapun jika ia mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah, karena Allah Ta’ala telah memberikan karunia kepadanya, dari awal hingga akhir. Karunia pertama berupa kemampuan untuk beramal dan karunia kedua berupa balasan yang berlimpah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا
“Barang siapa membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat balasan. Dan barang siapa membawa satu keburukan, maka ia tidak dibalas kecuali sebanding dengannya.” (QS al-An’am: 160)
Hadis ini adalah hadis yang agung. Para ulama telah menjelaskannya serta menggali faedah-faedah dan hukum-hukum darinya. Di antara ulama yang mengkhususkan penulisan untuk hadis ini adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang telah mensyarah hadis ini dalam sebuah kitab tersendiri.
Maka, hendaklah setiap muslim merenungkan dan memerhatikan hadis ini dengan sungguh-sungguh, terutama bagian akhir dari hadis ini, yaitu bahwa manusia akan dibalas sesuai dengan amal perbuatannya. Jika amalnya baik, maka balasannya baik, dan jika amalnya buruk, maka balasannya pun buruk.
Inilah alasan mengapa pengarang (kitab) menempatkan hadis ini dalam Bab Mujahadah, karena seseorang seharusnya bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya dan mengerjakan kebaikan, agar ia mendapati di sisi Allah balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar.
Baca juga: KEMATIAN – TIGA PERTANYAAN DI ALAM KUBUR
Baca juga: DUA ORANG YANG ALLAH ADALAH YANG KETIGANYA
Baca juga: SETIAP ZAMAN LEBIH BURUK DARI SEBELUMNYA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

