Syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang saleh, dan para malaikat adalah sesuatu yang telah ditetapkan (pasti) berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki syafaat yang beragam, yang telah disebutkan dalam al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah. Syafaat-syafaat itu adalah sebagai berikut:
Pertama: Syafaat al-’uzhma (syafaat agung) atau al-maqam al-mahmud (kedudukan yang terpuji), yang tidak sanggup diemban oleh Adam dan para rasul Ulul Azmi.
Sesungguhnya manusia di Padang Mahsyar, ketika mereka ditimpa kelelahan dan kepayahan yang sangat berat, Allah memberi ilham kepada mereka untuk mendatangi Adam dan memintanya agar memberikan syafaat kepada mereka di hadapan Rabb mereka agar Dia memutuskan perkara di antara mereka, supaya mereka terbebas dari kesulitan yang tengah mereka alami. Namun Adam, Nuh, Ibrahim, dan Musa semuanya menolak memberikan syafaat. Masing-masing menyebut alasan yang menghalangi mereka dari memberikan syafa’at. Hingga ‘Isa ‘alaihissalam menunjukkan mereka kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara yang datang dalam hadis Anas bin Malik tentang syafaat agung ini adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَيَأْتُونِي فَأَقُولُ أَنَا لَهَا، فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَيُؤْذَنُ لِي، وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لَا تَحْضُرُنِي الْآنَ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ، وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا، فَيَقُولُ: يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ، وَسَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أُمَّتِي أُمَّتِي… الْحَدِيثُ
“Maka mereka mendatangiku. Lalu aku berkata, ‘Akulah yang akan melakukannya.’ Lalu aku meminta izin kepada Rabb-ku, maka aku diberi izin. Aku diilhami pujian-pujian yang dengannya aku memuji-Nya yang saat ini belum aku ketahui. Maka aku memuji-Nya dengan pujian-pujian tersebut dan bersujud kepada-Nya. Dikatakan: ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu dan katakanlah, niscaya akan didengar; mintalah, niscaya akan diberi; berilah syafaat, niscaya engkau akan diberi izin untuk memberi syafa’at.’ Lalu aku berkata, ‘Wahai Rabbku, umatku, umatku…’” (hingga akhir hadis) (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Syafaat ini khusus bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak seorang pun berbagi dengannya dalam hal ini.
Kedua: Syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para penghuni Surga agar mereka bisa memasukinya. Ketika para penghuni Surga telah melewati Shirath dan mereka telah dibersihkan dan disucikan, mereka tidak akan masuk ke dalam Surga sampai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi orang yang pertama kali masuk ke dalamnya dan orang pertama yang memberi syafa’at.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا أَوَّلُ شَفِيعٍ فِي الْجَنَّةِ
“Aku adalah orang pertama yang memberi syafa’at di Surga…” (akhir hadis) (Diriwayatkan oleh Muslim)
Ketiga: Syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi suatu kaum dari orang-orang yang berdosa dari umatnya yang telah pantas masuk Neraka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafa’at kepada mereka agar mereka tidak memasukinya.
Keempat: Syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengeluarkan para pelaku dosa dari kalangan ahli tauhid dari Neraka. Dalil-dalil syar’i tentang hal ini sangat banyak. Jenis syafa’at ini diingkari oleh banyak ahli bid’ah dari kalangan Khawarij dan Mu’tazilah, karena berpegang pada prinsip rusak mereka bahwa pelaku dosa besar akan kekal di Neraka.
Namun dalil-dalil syar’i menunjukkan bahwa pelaku dosa besar dari kalangan ahli tauhid berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazab mereka, namun Allah juga akan mengeluarkan mereka dari Neraka sebagai balasan atas tauhid mereka —dan sebelumnya karena karunia dan rahmat-Nya kepada mereka.
Dalam hadis Anas disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَيَأْتُونِي فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي، فَإِذَا رَأَيْتُهُ وَقَعْتُ سَاجِدًا، فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يُقَالُ لِي: ارْفَعْ رَأْسَكَ، سَلْ تُعْطَهْ، وَقُلْ يُسْمَعْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَرْفَعُ رَأْسِي، فَأَحْمَدُ رَبِّي بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِيهِ، ثُمَّ أَشْفَعُ، فَيُحَدُّ لِي حَدًّا، ثُمَّ أُخْرِجُهُمْ مِنَ النَّارِ، وَأُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ، ثُمَّ أَعُودُ فَأَقَعُ سَاجِدًا مِثْلَهُ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، حَتَّى مَا بَقِيَ فِي النَّارِ إِلَّا مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ
“Mereka datang kepadaku, lalu aku meminta izin kepada Rabb-ku. Ketika aku melihat-Nya, aku langsung bersujud. Dia membiarkanku bersujud selama yang Dia kehendaki. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Angkatlah kepalamu, mintalah, niscaya akan diberi; katakanlah, niscaya akan didengar; berilah syafa’at, niscaya syafa’atmu akan diterima.’ Maka aku mengangkat kepalaku, memuji Rabb-ku dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku. Lalu aku memberi syafa’at dan Dia menetapkan batas bagiku. Kemudian aku mengeluarkan mereka dari Neraka dan memasukkan mereka ke Surga. Kemudian aku kembali, bersujud lagi seperti sebelumnya —pada kali ketiga atau keempat— hingga tidak tersisa di Neraka kecuali orang yang ditahan oleh al-Qur’an.”
Qatadah berkata tentang bagian ini: “Yaitu orang yang wajib kekal di Neraka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Syafa’at jenis ini juga diberikan oleh para malaikat, para nabi, dan orang-orang beriman.
Kelima: Syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meninggikan derajat orang-orang beriman. Hal ini dipahami dari doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Salamah ketika ia wafat. Beliau bersabda,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ، وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah. Tinggikanlah derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk. Berikanlah pengganti untuknya pada keturunannya di kalangan orang-orang yang masih hidup. Ampunilah kami dan dia, wahai Rabb semesta alam. Luaskanlah kuburnya dan berilah cahaya di dalamnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Syafa’at semacam ini juga dilakukan oleh orang-orang beriman yang mendoakan orang-orang yang telah meninggal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيهِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu berdiri di atas jenazahnya empat puluh orang laki-laki yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, melainkan Allah akan memberikan syafa’at mereka untuknya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Keenam: Syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pamannya, Abu Thalib, agar azab diringankan darinya pada Hari Kiamat. Itu sebagai balasan atas pertolongan dan perlindungannya terhadap beliau dari gangguan kaum kafir Makkah. Maka Allah menerima syafa’at beliau terhadapnya, dan meringankan azab darinya pada Hari Kiamat.
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disebutkan pamannya Abu Thalib bersabda,
لَعَلَّهُ تَنْفَعُهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُجْعَلُ فِي ضَحْضَاحٍ مِنَ النَّارِ، يَبْلُغُ كَعْبَيْهِ، يَغْلِي مِنْهُ أَمُّ دِمَاغِهِ
“Mungkin syafa’atku akan bermanfaat baginya pada Hari Kiamat. Maka dia akan ditempatkan di genangan api Neraka yang hanya mencapai kedua mata kakinya, namun otaknya mendidih karenanya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Ya Allah, perkenankanlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafa’at untuk kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat syafa’atnya. Ya Allah, ampunilah kaum muslimin yang telah wafat, yang bersaksi bahwa Engkau Mahaesa dan bahwa Nabi-Mu adalah utusan-Mu, dan mereka wafat dalam keyakinan tersebut. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya.
Baca juga: SYAFAAT YANG DITETAPKAN DAN SYAFAAT YANG DINAFIKAN
Baca juga: MEMBERI SYAFAAT KEPADA ORANG LAIN
Baca juga: MARAH BILA HUKUM ALLAH DILECEHKAN
(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

