RASULULLAH DIBERI SYAFAAT

RASULULLAH DIBERI SYAFAAT

Yang keempat: Sabda beliau,

وأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

Aku diberi syafaat.”

Syafaat ini adalah syafaat yang khusus bagi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu syafaat agung. Beliau akan memberi syafaat bagi seluruh makhluk pada Hari Kiamat ketika mereka dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Tanpa alas kaki artinya mereka tidak memakai sandal, telanjang artinya mereka tidak memakai pakaian, dan belum dikhitan artinya mereka belum dikhitan. Maksudnya adalah orang yang telah dikhitan pun, kulup (kulit penutup kepala zakar) yang telah dipotong darinya akan dikembalikan pada Hari Kiamat.

Dalam sebagian lafaz hadis disebutkan kata “bihman,” (Diriwayatkan oleh Ahmad) maksudnya, mereka tidak membawa harta apa pun, baik orang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, pemilik maupun yang dimiliki —semuanya berada di satu tanah lapang.

Ketika ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, (apakah) laki-laki dan perempuan (juga)?” Maksudnya, mereka dibangkitkan semuanya dalam keadaan telanjang? Beliau menjawab,

نَعَمِ الرِّجالُ وَالنِّساءُ، وَلَٰكِنَّ الأَمْرَ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَهُمَّهُم ذٰلِكَ.

Ya, laki-laki dan perempuan. Tapi perkara (hari itu) terlalu dahsyat hingga mereka tidak sempat memikirkan hal itu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

Karena kedahsyatan hari itu amat luar biasa: hari itu panjangnya lima puluh ribu tahun; matahari berada di atas kepala sejauh satu mil; gunung-gunung beterbangan menjadi debu yang berhamburan; manusia ditimpa kesedihan dan kesempitan yang tidak mereka sanggupi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya guncangan (kejadian) kiamat itu adalah perkara yang besar.” (QS al-Hajj: 1)

Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Carilah orang yang dapat memberi syafaat untuk kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Mereka pun mendatangi Nabi Adam ‘alaihissalam —beliau adalah bapak seluruh manusia. Mereka memujinya dengan pujian yang telah Allah khususkan baginya dan mengingatkannya akan nikmat Allah kepadanya, bahwa Allah menciptakannya dengan tangan-Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, dan mengajarkannya nama segala sesuatu.

Mereka berkata, “Berilah syafaat untuk kami kepada Rabb-mu.”

Adam menolak dan menyebutkan kesalahannya, bahwa Allah telah melarangnya memakan buah dari pohon itu, namun dia memakannya. Ia pun merasa malu untuk memberi syafaat kepada Allah, karena pernah durhaka kepada-Nya, walaupun ia telah bertobat dari memakan buah pohon itu, dan Allah pun menerima tobatnya, memilihnya, mensucikannya, dan memberinya petunjuk. Namun, keadaan itu adalah keadaan yang sangat agung, keadaan yang amat berat dan sulit.

Mereka mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam dan berkata kepadanya, “Engkau adalah rasul pertama yang Allah utus ke bumi,” lalu mereka menyebutkan nikmat-nikmat Allah kepadanya. Kemudian mereka berkata, “Berilah syafaat kepada Rabb-mu bagi kami dari keadaan yang dahsyat ini.” Ia (Nuh) meminta maaf karena pernah meminta sesuatu yang tidak ia ketahui ilmunya. Hal itu terjadi ketika Allah berfirman kepadanya,

إِنَّهُ سَيُنَجِّيهِ وَأَهْلَهُ

Sesungguhnya Dia akan menyelamatkannya dan keluarganya.” Maka Allah menyelamatkannya dan keluarganya, kecuali satu anaknya yang kafir. Allah menenggelamkannya.

Nuh berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan janji-Mu pasti benar. Engkau menjanjikanku bahwa Engkau akan menyelamatkanku dan keluargaku.” Maka Allah berfirman:

إنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِك، إنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَاهِلِينَ

Sesungguhnya dia bukan bagian dari keluargamu. Sesungguhnya (permintaanmu) itu adalah amal yang tidak saleh, maka janganlah engkau meminta kepada-Ku tentang sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang jahil.” (QS Hud: 46)

Ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam, yang merupakan rasul pertama dan termasuk Ulul ‘Azmi. Allah menyampaikan kepadanya perkataan agung ini: “Sesungguhnya dia bukan dari keluargamu,” maksudnya adalah permintaanmu agar dia diselamatkan padahal dia kafir. “(Permintaanmu itu adalah) amal yang tidak saleh, maka janganlah engkau meminta kepada-Ku tentang sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

Semisal perkataan yang agung ini adalah firman Allah Ta’ala kepada penutup para rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ

Dan (ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah beri nikmat kepadanya dan engkau pun telah berbuat baik kepadanya, ‘Tahanlah istrimu (jangan ceraikan dia),” dan dia adalah Zaid bin Haritsah.

أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَىٰهُ ۚ

dan bertakwalah kepada Allah,’ dan engkau menyembunyikan dalam dirimu apa yang Allah hendak menampakkannya, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk engkau takuti.” (QS al-Ahzab: 37)

Ini juga merupakan pelajaran yang sangat besar dan keras untuk sebaik-baik para rasul –’alaihishshalatu wassalam. Allah berfirman demikian kepadanya karena Allah Mahaagung lagi Mahaperkasa. Tidak berguna di sisi-Nya kedudukan karena nasab ataupun kehormatan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” Semoga Allah menganugerahi kita ketakwaan.

Maka tidak ada yang dekat dan tidak pula yang jauh, melainkan semua manusia di sisi Rabb semesta alam adalah sama, kecuali orang-orang yang bertakwa.

Kemudian setelah itu mereka mendatangi Ibrahim ‘alaihishshalatu wassalam, imam para khalifah dan kekasih ar-Rahman ‘Azza wa Jalla. Mereka meminta syafaat kepadanya dan menyebut-nyebut nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Ibrahim mengemukakan alasan bahwa ia pernah berkata dusta sebanyak tiga kali. Meskipun kedustaan-kedustaan tersebut hanya berupa tauriyah (kiasan) yang tidak menjadikan seseorang berdosa, tetapi karena saat itu merupakan situasi (permintaan) syafaat dan urusannya sangat agung, maka ia memandang bahwa perkara-perkara seperti itu (tauriyah) menghalanginya untuk maju memberikan syafaat. Maka ia pun mengemukakan alasan.

Selanjutnya mereka pergi kepada Musa ‘alaihishshalatu wassalam, yang merupakan nabi paling utama dari kalangan Bani Israil. Kisahnya dikenal dalam al-Qur’an. Ia adalah sosok yang kuat dalam menegakkan urusan Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka menyebut-nyebut nikmat Allah kepadanya, bahwa Allah Ta’ala telah berbicara langsung kepadanya, memilihnya dengan firman-Nya, dan menuliskan Taurat untuknya dengan tangan-Nya. Namun Musa mengemukakan alasan bahwa ia pernah membunuh seseorang yang ia tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Orang itu adalah seorang Qibthi yang dilihatnya bertengkar dengan seorang laki-laki dari Bani Israil, dari kaum Musa. Maka ia mengemukakan alasan, meskipun ia telah bertobat dari hal itu dan telah diberi risalah. Akan tetapi, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, keadaan saat itu adalah keadaan yang sangat agung, urusannya sangat berat, dan syafaat bukan perkara yang ringan.

Kemudian mereka mendatangi ‘Isa ‘alaihishshalatu wassalam. ‘Isa pun mengemukakan alasan, tetapi tidak menyebutkan satu dosa pun. Hanya saja ia mengatakan bahwa ada kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukannya, yaitu kedudukan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Pergilah kalian kepada Muhammad, seorang hamba yang telah Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.”

Mereka pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta kepadanya agar beliau memberi syafaat bagi mereka kepada Allah, agar Allah menyelamatkan mereka dari kesusahan dan kesedihan yang mereka alami. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنَا لَهَا

Akulah orangnya untuk itu.”

Kemudian beliau memohon izin kepada Rabb-nya, Dzat Yang Mahaperkasa dan Mahamulia, untuk memberi syafaat. Allah pun mengizinkannya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim) Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafaat pada momen yang agung ini bagi seluruh manusia.

Syafaat ini diberikan kepada Rasul ‘alaihishshalatu wassalam saja, tidak seorang pun berbagi dengannya dalam hal ini. Syafaat ini termasuk dalam firman Allah Ta’ala:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebagian malam, bertahajudlah dengannya sebagai ibadah tambahan bagimu. Semoga Rabb-mu membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji.” (QS al-Isra’: 79)

Demi Allah, inilah kedudukan yang terpuji itu, di mana seluruh umat berada di bawah syafaat beliau ini —baik orang mukmin maupun kafir, dari umat beliau maupun dari umat selainnya. Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari kesusahan yang besar ini melalui syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai bentuk pemuliaan Allah terhadap beliau di hadapan seluruh makhluk.

Perhatikanlah Rabb kita Jalla wa ‘Ala, bagaimana Dia menghendaki untuk menampakkan keutamaan Nabi ini. Dia mengilhamkan kepada manusia agar mereka pergi kepada Adam, kemudian kepada Nuh, kemudian Ibrahim, lalu Musa, kemudian ‘Isa ‘alaihimussalam, hingga akhirnya mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya Allah menghendaki, tentu mereka langsung pergi kepada Muhammad sejak awal, tanpa terjadi proses pengalihan dari nabi ke nabi. Namun Allah Jalla wa ‘Ala, dan bagi-Nya segala puji, keutamaan, dan karunia menghendaki agar kemuliaan Nabi yang mulia ini ditampakkan dengan cara seluruh nabi mengemukakan alasan untuk tidak memberikan syafaat, hingga akhirnya (permintaan syafaat itu) sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini merupakan salah satu nikmat Allah atas kita, bahwa imam kita, panutan kita, dan rasul kita adalah orang yang memiliki kedudukan yang agung ini. Oleh karena itu, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat ini, dan kita memohon kepada-Nya Subhanahu agar menjadikan kita benar-benar sebagai pengikutnya, mewafatkan kita di atas agamanya, membangkitkan kita dalam golongannya, dan memasukkan kita dalam syafaatnya.

Baca juga: MACAM-MACAM SYAFAAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Baca juga: MEMBERI SYAFAAT KEPADA ORANG LAIN

Baca juga: KEUTAMAAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (1/3)

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Bulughul Maram