Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjadikan berbagai kegelapan dan cahaya. Dia mengutamakan ilmu di atas kebodohan.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS az-Zumar: 9)
Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya dalam agama-Nya, maka ia menjadi bagian dari orang-orang yang berilmu dan mendapat petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia melimpahkan karunia dan berbuat adil. Dia Mahamengetahui tempat untuk menempatkan risalah-Nya dan lebih mengetahui siapa yang berhak mendapatkan petunjuk. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, utusan Allah kepada umat ini dan kepada umat-umat sebelumnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Pembalasan, serta semoga Allah melimpahkan salam dengan sebenar-benarnya salam.
Amma ba’du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan pahamilah agama kalian. Sesungguhnya
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya tentang agama.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (71) dan Muslim (1037) dari hadis Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)
Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya dan petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan, kesesatan, dan kesengsaraan.
Tuntutlah ilmu.
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، فَالْأَنْبِيَاءُ لَمْ يُوَرِّثُوا دِرْهَمًا وَلَا دِينَارًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (5/196), Abu Dawud (3641), at-Tirmidzi (2682), dan Ibnu Majah (223) dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu) dari warisan mereka
Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya ilmu syar’i merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat, serta pahalanya terus mengalir bagi pemiliknya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS al-Mujadilah: 11)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seorang hamba meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat darinya, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (2/377), Muslim (1631), Abu Dawud (2880), at-Tirmidzi (1376), Ibnu Majah (242), dan an-Nasa’i (6/251) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Tuntutlah ilmu agar kalian memiliki nama baik yang terus dikenang oleh generasi setelah kalian. Sesungguhnya jejak ilmu akan tetap ada setelah pemiliknya tiada. Para ulama rabbani, jejak-jejak mereka tetap terpuji, jalan hidup mereka tetap tersebar, nama mereka tetap dikenang dengan baik, dan kedudukan mereka tetap tinggi. Apabila mereka disebut dalam berbagai majelis, majelis-majelis itu dipenuhi dengan pujian dan doa untuk mereka. Apabila amal-amal saleh dan adab-adab luhur mereka disebutkan, mereka menjadi teladan bagi manusia dalam hal itu.
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
“Dan apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan dia dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengan cahaya itu dia berjalan di tengah-tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (QS al-An’am: 122)
Wahai manusia, pelajarilah ilmu demi ilmu itu sendiri, agar kalian memperoleh keberkahannya dan memetik buahnya. Pelajarilah ilmu untuk diamalkan, agar kalian dapat mengamalkannya dan mengajak manusia kepadanya. Janganlah kalian berdebat dan berbantah-bantahan dengannya. Sebab, siapa yang menuntut ilmu untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau bersaing dengan para ulama, maka ia telah menjadikan dirinya terancam mendapatkan hukuman Allah dan telah menurunkan dirinya kepada tujuan yang paling rendah.
Janganlah kalian menuntut ilmu demi harta. Sesungguhnya ilmu terlalu mulia untuk dijadikan sarana memperoleh harta. Justru harta lebih pantas dijadikan sarana untuk memperoleh ilmu, karena harta akan lenyap sedangkan ilmu akan tetap ada.
Wahai manusia, sesungguhnya kita berada di ambang awal masa belajar, saat para guru dan para pelajar menyambutnya dengan semangat intelektual dan aktivitas mereka. Maka, seandainya aku mengetahui apa yang telah kita persiapkan untuk tahun ini?
Kita harus terus berjalan di atas jalan kesungguhan sejak awal agar tidak menyesal pada akhirnya.
Para guru hendaklah berupaya keras agar benar-benar menguasai ilmu yang akan mereka sampaikan kepada para pelajar sebelum berdiri di hadapan mereka, sehingga tidak seorang pun dari mereka kebingungan ketika menghadapi pertanyaan dan diskusi. Sebab, salah satu unsur terbesar dalam kepribadian seorang guru adalah kekuatannya dalam ilmu dan penguasaannya terhadap materi. Kekuatan ilmiahnya tidak akan berkurang karena keteguhan dan penguasaannya dalam membentuk kepribadian.
Sesungguhnya seorang guru, apabila tampak gugup di hadapan murid-muridnya, kedudukannya akan jatuh dalam pandangan mereka. Jika ia menjawab dengan keliru, mereka tidak akan percaya kepada ilmunya. Jika ia menghindar dari pertanyaan dan diskusi, mereka pun tidak akan mendengarkannya. Oleh karena itu, seorang guru harus mempersiapkan diri, bersiap dengan baik, bersabar, dan mampu menanggung berbagai kesulitan.
Para pelajar juga harus mengerahkan segenap kesungguhan mereka sejak awal tahun agar mereka memahami ilmu dengan pemahaman yang hakiki, sehingga ilmu itu tertanam kuat dalam hati mereka dan mengakar dalam jiwa mereka. Apabila mereka bersungguh-sungguh sejak awal tahun, mereka akan menerima ilmu sedikit demi sedikit sehingga menjadi mudah bagi mereka, tertanam dalam hati mereka, dan mereka mampu menguasainya dengan sempurna. Apabila mereka menyia-nyiakan awal tahun dan bermalas-malasan, waktu akan berlalu begitu saja hingga mereka tidak tersadar kecuali ketika telah berada di penghujung tahun. Pelajaran pun telah menumpuk, sementara waktu untuk memahaminya menjadi sempit. Akibatnya, mereka tidak mampu memahami pelajaran tersebut, apalagi mewujudkannya dalam praktik, sehingga pada akhirnya mereka akan menyesal ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat.
Wahai manusia, jika keberhasilan seorang guru terletak pada kuatnya pengetahuan dan kepribadiannya, maka termasuk keberhasilannya pula memiliki niat, tujuan, dan pengarahan yang baik. Ia harus berniat dengan pengajarannya untuk berbuat baik kepada murid-muridnya, membimbing mereka kepada hal-hal yang bermanfaat bagi agama dan dunia mereka, sehingga pengajarannya memberikan pengaruh yang besar. Selain itu, ia harus menampilkan di hadapan mereka penampilan yang pantas berupa akhlak yang mulia dan adab yang luhur yang berlandaskan pada berpegang teguh kepada syariat Allah dan petunjuk Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar ia menjadi teladan dalam ilmu dan amal. Sesungguhnya seorang murid lebih banyak menerima akhlak dan adab dari gurunya daripada ilmu yang diterimanya darinya dalam hal pengaruh. Sebab, adab dan akhlak seorang pengajar merupakan gambaran nyata yang tampak dalam dirinya dan terlihat dalam perilakunya. Gambaran ini akan tercermin sepenuhnya dalam perilaku muridnya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS Fushshilat: 33)
Wahai kaum muslimin, apabila para guru memiliki kewajiban yang harus mereka tunaikan, maka demikian pula pihak pengelola sekolah. Mereka wajib memperhatikan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab mereka, baik para guru, pengawas, maupun para pelajar, karena mereka akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka di hadapan Allah, kemudian di hadapan masyarakat mereka.
Apabila ada kewajiban yang harus ditunaikan oleh pihak sekolah, maka para ayah dan wali murid juga memiliki kewajiban yang harus mereka tunaikan. Mereka harus memerhatikan anak-anak mereka, meninjau perjalanan mereka serta arah ilmiah, pemikiran, dan praktik mereka. Janganlah mereka membiarkan anak-anak begitu saja, tidak meneliti keadaan mereka, tidak menanyakan jalan yang mereka tempuh, teman-teman mereka, dan orang-orang yang bergaul dengan mereka. Sebab, membiarkan mereka demikian berarti menyia-nyiakan dan menzalimi mereka. Mereka adalah amanah yang berada di atas pundak para ayah dan wali mereka. Para wali wajib menunaikan hak pemeliharaan terhadap mereka. Jika mereka menyia-nyiakannya, niscaya mereka akan menyesal karena telah menyelisihi perintah Allah dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di atasnya ada malaikat-malaikat yang keras dan kasar. Mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)
Semoga Allah memberikan taufik kepadaku dan kalian untuk melaksanakan apa yang wajib kita dakwahkan, dengan ilmu yang benar dan pemahaman yang mendalam, serta mengamalkan apa yang telah kita ketahui dengan cara yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Baca juga: KEUTAMAAN ILMU AGAMA (1)
Baca juga: KEUTAMAAN ILMU AGAMA (2)
Baca juga: MENGAPA HARUS BERILMU?
Baca juga: BANYAKNYA JALAN KEBAIKAN
Baca juga: ANJURAN UNTUK MENUNTUT ILMU DAN MENGAMALKANNYA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

