Segala puji bagi Allah yang memberikan pemahaman agama kepada orang yang Dia kehendaki kebaikan baginya, dan mengangkat kedudukan para ulama di atas seluruh manusia. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia bersaksi atas keesaan-Nya, demikian pula para malaikat-Nya dan para ulama dari kalangan orang-orang beriman. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus sebagai petunjuk bagi seluruh alam, teladan bagi orang-orang yang beramal, dan hujah atas seluruh manusia. Semoga shalawat Allah tercurah kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan, serta semoga Allah memberikan salam yang banyak.
Amma ba’du, wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan perdalamlah pemahaman kalian terhadap agama kalian. Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberinya pemahaman dalam agama.
Fikih dalam agama adalah mengetahui apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya berupa hukum-hukum beserta dalil-dalilnya, serta apa yang terkait dengannya berupa pahala dan sanksi. Dengan mengetahui hal tersebut, seseorang menjadi hamba Allah yang beribadah dengan penuh pemahaman dan menjadi bermanfaat bagi hamba-hamba Allah lainnya dalam ibadah dan muamalah mereka, baik yang rinci maupun yang global. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan kebaikan yang agung dan keutamaan yang besar.
Dalam mendalami agama, Allah meninggikan derajat dan mengalirkan amal seorang hamba selama hidupnya dan setelah kematiannya. Dengan mendalami agama, seseorang menjadi pewaris para nabi ‘alaihimush-shalatu wassalam.
Dalam mendalami agama, jalan menuju Surga dimudahkan bagi seseorang, serta memudahkannya untuk sampai kepada Rabb bumi dan langit. Dalam mendalami agama, seseorang menjadi bagian dari para ulama, yaitu orang-orang yang takut kepada Allah dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah. Penuntut ilmu dikelilingi oleh para malaikat dengan sayap-sayap mereka dan mereka menunduk padanya karena ridha terhadap apa yang ia cari. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقاً إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.”
وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضاً بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ
“Sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu sebagai tanda ridha terhadap apa yang ia lakukan. Dan sesungguhnya makhluk yang ada di langit dan di bumi akan memohonkan ampun untuknya, bahkan ikan-ikan di dalam air pun.”
وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلَا دِرْهَماً وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang besar.” (Diriwayatkan secara lengkap oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu)
Barang siapa mengajarkan ilmu, maka ia mendapatkan pahala dari orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikit pun. Beliau bersabda,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا
“Apabila kalian melewati taman-taman Surga, maka bersenang-senanglah.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan taman-taman Surga?”
Beliau menjawab,
مَجَالِسُ الْعِلْمِ
“Majelis-majelis ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la dan ath-Thabarani, serta al-Hakim dan at-Tirmidzi dengan lafaz: ‘Dan taman-taman Surga itu adalah masjid-masjid.’)
Dalam riwayat lain disebutkan:
حِلَقُ الذِّكْرِ
“Halaqah-halaqah dzikir.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ketika menyebutkan hadis ini, berkata, “Ketahuilah, aku tidak bermaksud (halaqah) penceramah biasa, tetapi halaqah fikih.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, ath-Thabrani, al-Hakim, dan at-Tirmidzi dengan lafaz: “Apa itu taman-taman Surga?” Beliau menjawab, “Masjid-masjid.”)
Dalam Musnad Imam Ahmad dari Qaisah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya,
مَا جَاءَ بِكَ؟
“Apa yang membawamu datang?”
Aku menjawab, “Usiaku yang telah tua, tulangku yang telah rapuh, dan aku datang kepadamu untuk mengajarkan kepadaku sesuatu yang bermanfaat bagiku di sisi Allah.”
Beliau bersabda,
يَا قَيْصَةُ، مَا مَرَرْتَ بِحَجَرٍ وَلَا شَجَرٍ وَلَا مَدَرٍ إِلَّا اسْتَغْفَرَ لَكَ
“Wahai Qaisah, tidaklah engkau melewati sebuah batu, pohon, atau tanah liat, kecuali semuanya memohonkan ampun untukmu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)
Maka hadis-hadis ini, serta yang semisalnya dan lebih banyak lagi, semuanya menunjukkan keutamaan ilmu syar’i, baik mempelajarinya maupun mengajarkannya. Bagaimana mungkin ilmu tidak memiliki keutamaan sebesar ini, sedangkan di dalamnya terdapat penjagaan agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimana mungkin ilmu tidak berada pada kedudukan yang tinggi ini, sementara dengannya tercapai segala kebaikan yang diharapkan?
Ketahuilah —semoga Allah merahmati kalian— bahwa siapa saja di antara kalian yang menghadiri satu majelis ilmu, kemudian mendapatkan manfaat berupa satu masalah (ilmu), lalu mengamalkannya dan mengajarkannya kepada saudara-saudaranya, maka ia akan memperoleh banyak kebaikan. Pahalanya akan terus mengalir untuknya, termasuk pahala orang-orang yang mengamalkannya hingga Hari Kiamat. Selain itu, terdapat pahala yang besar bagi siapa saja yang menghadiri majelis ilmu.
Janganlah kalian mengira bahwa keutamaan ilmu hanya diperoleh oleh orang yang telah banyak mendalami ilmu. Sesungguhnya Allah Ta’ala akan memberikan balasan kepada setiap orang yang mengamalkan ilmunya, meskipun sedikit, dan mereka tidak akan dizalimi sedikit pun.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (Bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari)
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim’?” (QS Fushshilat: 33)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Baca juga: MENGAPA HARUS BERILMU?
Baca juga: AL-QUR’AN DAN KEUTAMAANNYA
Baca juga: KEUTAMAAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

