ADAB MAJELIS (1)

ADAB MAJELIS (1)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ، وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا، يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ، وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berluas-luaslah di majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan (urusan) untuk kalian. Apabila dikatakan, ‘Berdirilah kalian,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS al-Mujadilah: 11)

Adab-Adab Majelis:

1. Keutamaan Berdzikir kepada Allah dalam Majelis, dan Larangan dari Majelis-majelis yang tidak Disebut di Dalamnya Nama Allah

Telah datang larangan yang keras terhadap majelis-majelis yang tidak disebut di dalamnya nama Allah, seperti dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ، وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

Tidaklah suatu kaum bangkit dari suatu majelis yang di dalamnya mereka tidak berdzikir kepada Allah, melainkan mereka bangkit dari majelis itu seperti bangkai keledai, dan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dinilai sahih oleh al-Albani. Juga diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi)

Dalam lafaz hadis ini terdapat ancaman dan penakutan yang sangat kuat. Sabda beliau, “melainkan mereka bangkit seperti bangkai keledai,” yakni seperti bangkai itu dalam bau busuk dan kotornya. Hal itu disebabkan pembicaraan mereka yang membahas kehormatan manusia dan selainnya. Adapun “penyesalan” adalah rasa sedih dan kecewa karena telah menyia-nyiakan waktu mereka tanpa mengingat Allah.

Sebaliknya, jika majelis itu dihidupkan dengan dzikir kepada Allah, pujian kepada-Nya, dan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka majelis tersebut dicintai oleh Allah. Orang-orang yang mengisinya senantiasa bertambah dalam berbagai kebaikan.

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut menjelaskan hal itu. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: إِلَى حَاجَتِكُمْ. قَالَ: فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا. قَالَ: فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ: مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالُوا: يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْنِي؟ قَالُوا: فَيَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا لَكَ أَشَدَّ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا. قَالَ: يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالَ: يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ. قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ، يَا رَبِّ، مَا رَأَوْهَا. قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ: يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ. قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا. قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً. قَالَ: فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. قَالَ: يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ: فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ. قَالَ: هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling memanggil, ‘Datanglah ke tempat yang kalian cari.’ Maka para malaikat itu menaungi mereka dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia. Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka —padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu, dan mengagungkan-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah bertanya lagi, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Seandainya mereka melihat-Mu, niscaya mereka akan lebih sungguh-sungguh beribadah kepada-Mu dan lebih besar lagi dalam mengagungkan-Mu. Mereka juga memuji-Mu dan lebih banyak lagi bertasbih kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka meminta Surga kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Apakah mereka pernah melihatnya?’ Para malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb kami, mereka belum pernah melihatnya.’ Allah berfirman, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Para malaikat menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, tentu mereka akan lebih besar semangatnya terhadapnya, lebih kuat lagi dalam mencarinya, dan lebih besar keinginannya kepadanya.’ Allah berfirman, ‘Dari apa mereka meminta perlindungan?’ Para malaikat menjawab, ‘Dari Neraka.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihatnya?’ Malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb kami, mereka belum pernah melihatnya.’ Allah berfirman, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Malaikat menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, tentu mereka akan lebih keras melarikan diri darinya dan lebih besar rasa takut mereka terhadapnya.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Aku persaksikan kalian bahwa sungguh Aku telah mengampuni mereka.’ Satu malaikat berkata, ‘Di antara mereka ada si fulan yang bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena suatu keperluan.’ Allah berfirman, ‘Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan at-Tirmidzi)

2. Memilih Teman dalam Majelis

Di antara perkara yang sangat penting dalam kehidupan seseorang adalah memilih teman duduk dalam majelis, karena manusia pasti akan terpengaruh oleh teman duduknya, bagaimanapun kuat dan kokohnya dirinya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita untuk memilih teman dekat yang baik melalui sabda beliau,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dinilai hasan oleh al-Albani; juga diriwayatkan oleh Ahmad, dan at-Tirmidzi)

Makna hadis ini adalah bahwa seseorang akan mengikuti kebiasaan, jalan hidup, dan perilaku temannya. Maka hendaklah ia memperhatikan dan merenungkan dengan siapa ia berteman. Siapa yang diridhai agama dan akhlaknya maka bertemanlah dengannya, sedangkan yang tidak demikian maka jauhilah dia, karena tabiat itu saling mencuri (saling memengaruhi).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan perumpamaan untuk menjelaskan pengaruh teman terhadap temannya. Beliau bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Pelajaran: Hadis ini jelas dalam memperingatkan dari duduk bersama orang-orang buruk, serta menganjurkan untuk duduk bersama orang-orang saleh dan bertakwa. Teman duduk yang buruk bisa berupa ahli bid‘ah ataupun orang fasik.

Apabila teman duduk adalah seorang ahli bid‘ah, maka telah datang banyak ucapan para salaf dalam memperingatkan dari mereka dan melarang duduk bersama mereka. Sebab, mereka membahayakan agama dan dunia. Majelis-majelis ahli bid‘ah tidak lepas dari dua keadaan: bisa jadi seseorang tenggelam dalam bid‘ah mereka atau tertimpa kebingungan dan keraguan akibat syubhat-syubhat menyesatkan yang mereka lontarkan. Keduanya adalah keburukan.

Di antara ucapan para salaf dalam mencela ahli bid‘ah dan memperingatkan dari duduk bersama mereka adalah perkataan al-Hasan al-Bashri, “Janganlah kalian duduk bersama ahli hawa nafsu, jangan berdebat dengan mereka, dan jangan mendengarkan perkataan mereka.”

Abu Qilabah berkata, “Janganlah duduk bersama mereka, jangan bergaul dengan mereka, karena aku khawatir mereka akan mencelupkan kalian ke dalam kesesatan mereka dan mencampuradukkan banyak hal yang kalian ketahui.”

Ibnu al-Mubarak berkata, “Hendaklah majelismu bersama orang-orang miskin, dan jauhilah duduk bersama pelaku bid’ah.”

Fudhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang mencari halaqah-halaqah dzikir. Maka, perhatikanlah dengan siapa engkau duduk. Jangan duduk bersama pelaku bid’ah, karena Allah tidak akan memandang mereka. Tanda kemunafikan adalah seseorang duduk bersama pelaku bid’ah.”

Jika teman duduk adalah seorang fasik, maka kamu tidak akan selamat dari mendengar ucapan kotor, perkataan batil, dan gibah. Hal itu juga dapat disertai dengan kelalaian dalam melaksanakan shalat dan berbagai maksiat lainnya yang dapat mematikan hati. Oleh karena itu, kita mendapati bahwa sebagian orang yang sebelumnya istiqamah kemudian menyimpang, disebabkan oleh pergaulan mereka dengan orang-orang fasik.

Baca juga: TEMAN BAIK DAN TEMAN BURUK

Baca juga: KAFARAT MAJELIS

Baca juga: DAHSYATNYA PENGARUH TEMAN

(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

Adab Kitabul Aadab