SIFAT ORANG MUNAFIK

SIFAT ORANG MUNAFIK

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Empat perkara, barang siapa memilikinya maka ia adalah seorang munafik sejati. Dan barang siapa memiliki satu sifat dari sifat-sifat tersebut, maka pada dirinya terdapat satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya: apabila diberi amanah ia berkhianat, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji atau mengadakan perjanjian ia mengingkarinya, dan apabila berselisih ia melampaui batas.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 34 dan Muslim no. 58/106)

PENJELASAN

Kemunafikan adalah dasar segala keburukan. Kemunafikan adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Definisi ini mencakup kemunafikan besar yang bersifat i’tiqadi (keyakinan), yaitu seseorang yang menampakkan Islam, tetapi menyembunyikan kekafiran. Jenis kemunafikan ini mengeluarkan pelakunya dari agama secara keseluruhan, dan pelakunya berada pada tingkatan paling bawah di dalam Neraka.

Allah telah menyifati orang-orang munafik ini dengan seluruh sifat keburukan, seperti kekafiran, tidak beriman, memperolok agama dan para pemeluknya, merendahkan mereka, serta sepenuhnya berpihak kepada musuh-musuh agama karena kesamaan mereka dalam memusuhi agama Islam. Mereka ada pada setiap zaman, terutama pada zaman ini ketika materialisme, ateisme, dan kebebasan tanpa batas telah merajalela.

Namun yang dimaksud di sini adalah jenis kemunafikan yang kedua, yaitu kemunafikan yang disebutkan dalam hadis ini. Kemunafikan amaliah ini, meskipun tidak mengeluarkan seseorang dari agama secara keseluruhan, merupakan jalan menuju kekafiran. Barang siapa memiliki keempat sifat tersebut, berarti seluruh keburukan telah berkumpul pada dirinya dan sifat-sifat orang munafik telah sempurna padanya. Sebab, kejujuran, menunaikan amanah, menepati janji, dan menjaga diri dari melanggar hak-hak manusia merupakan himpunan seluruh kebaikan dan termasuk sifat-sifat yang paling menonjol dari orang-orang beriman. Barang siapa kehilangan salah satu dari sifat-sifat tersebut, berarti ia telah meruntuhkan satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Islam dan iman. Lalu, bagaimana lagi jika ia kehilangan semuanya?

Kedustaan dalam ucapan mencakup berdusta atas nama Allah dan berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentangnya beliau bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka.” (HR al-Bukhari no. 6197 dan Muslim no. 2134)

Dan firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah?” (QS. Ash-Shaff: 7)

Kedustaan juga mencakup segala berita yang disampaikan seseorang, baik yang berkaitan dengan perkara-perkara umum maupun perkara-perkara khusus.

Barang siapa memiliki sifat seperti ini, maka ia telah menyerupai orang-orang munafik dalam salah satu sifat mereka yang paling khas, yaitu berdusta. Tentang hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Jauhilah oleh kalian kedustaan, karena sesungguhnya kedustaan menuntun kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun kepada Neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)

Orang yang apabila diberi amanah berupa harta, hak-hak, atau rahasia, lalu ia mengkhianatinya dan tidak menunaikan amanah tersebut, maka di manakah imannya? Di manakah hakikat keislamannya? Demikian pula orang yang melanggar janji-janji yang ada antara dirinya dengan Allah, maupun janji-janji yang ada antara dirinya dengan sesama manusia, maka ia telah memiliki salah satu sifat buruk dari sifat-sifat orang munafik. Begitu pula orang yang tidak menjaga diri dari mengambil harta dan hak-hak manusia, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendapatkannya, lalu bersengketa dengan cara yang batil untuk menetapkan kebatilan atau menolak suatu kebenaran. Sifat-sifat ini hampir tidak mungkin berkumpul pada seseorang sementara ia masih memiliki iman yang mencukupi atau memadai, karena sifat-sifat tersebut sangat bertentangan dengan iman.

Ketahuilah bahwa termasuk prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa pada diri seorang hamba dapat berkumpul sifat-sifat kebaikan dan sifat-sifat keburukan, serta sifat-sifat iman dan sifat-sifat kekafiran atau kemunafikan.

Seseorang berhak mendapatkan pahala dan hukuman sesuai dengan sebab-sebab yang ada pada dirinya yang mengharuskan hal tersebut. Banyak dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan prinsip ini. Karena itu, seluruh dalil wajib diamalkan dan semuanya wajib dibenarkan.

Kita juga wajib berlepas diri dari mazhab Khawarij yang menolak dalil-dalil yang menunjukkan tetap adanya iman dan tetap adanya agama pada diri seseorang, meskipun ia melakukan berbagai macam kemaksiatan, selama ia tidak melakukan sesuatu yang mengeluarkannya dari keimanan.

Khawarij menolak seluruh hal tersebut. Mereka berpendapat bahwa orang yang melakukan salah satu dosa besar, atau melakukan salah satu sifat kekafiran atau sifat kemunafikan, telah keluar dari agama dan kekal di dalam Neraka. Pendapat ini adalah mazhab yang batil berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijmak para salaf umat ini.

Baca juga: WASPADA TERHADAP KEMUNAFIKAN

Baca juga: NERAKA DIHARAMKAN ATAS ORANG YANG IKHLAS MENGUCAPKAN ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’

Baca juga: MENGINGKARI KEMUNGKARAN

Baca juga: TIGA TANDA ORANG MUNAFIK

Baca juga: PERINTAH MENUNAIKAN AMANAH

(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Akidah Bahjatu Qulubil Abrar