NERAKA HARAM ATAS ORANG YANG IKHLAS MENGUCAPKAN ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’

NERAKA HARAM ATAS ORANG YANG IKHLAS MENGUCAPKAN ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’

Itban bin Malik termasuk salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahli Badar. Ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku selalu salat bersama kaumku. Akan tetapi, saat hujan turun dan lembah yang memisahkan aku dan kaumku banjir, aku tidak bisa mendatangi masjid mereka. Oleh karena itu, aku sangat berharap engkau datang ke rumahku dan salat di sana, hingga aku pun menjadikannya tempat salat.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku akan melakukannya, In sya Allah.”

Ketika matahari mulai meninggi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama Abu Bakr. Kemudian beliau meminta izin dan Itban mengizinkan. Beliau tidak duduk hingga masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada Itban, “Tempat manakah yang kamu sukai aku salat?

Itban memberi isyarat pada satu tempat di rumahnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan bertakbir. Mereka pun membentuk saf. Beliau salat dua rakaat dan salam.

Setelah itu beliau duduk dan menyantap hidangan yang sudah disiapkan untuk beliau. Mereka berbincang-bincang. Salah seorang dari mereka berkata, “Di mana Malik bin Ad Dukhsyun?” Sebagian dari mereka menjawab, “Ia seorang munafik yang tidak menyukai Allah dan Rasul-Nya.”

Mendengar itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan berkata seperti itu. Bukankah ia telah mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah’. Dan ia mengucapkannya demi mencari Wajah Allah?

Laki-laki itu menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Kami berkata, “Sesungguhnya kami pernah melihat wajah dan nasihatnya kepada orang-orang munafik.”

Maka beliau bersabda,

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Karena sesungguhnya Allah mengharamkan Neraka atas orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ demi mencari Wajah Allah.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka mengatakan seperti itu karena mereka tidak mengetahui isi hati Malik bin Ad Dukhsyun, mengingat ia telah bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan sebenarnya) selain Allah. Namun demikian, Nabi tidak mengatakan bahwa Malik bin Dukhsyum adalah orang yang bersih. Beliau hanya mengucapkan kata-kata umum bahwa Allah mengharamkan Neraka atas orang yang mengucapkan, “Laa ilaaha illallu” demi mencari Wajah Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mengumbar lisan terkait hamba-hamba Allah yang secara zahir baik dengan berkata, “Dia riya,” “Dia fasik,” dan semacamnya. Jika kita memutuskan apa saja berdasarkan sangkaan, tentu hal itu dapat berdampak rusaknya dunia dan akhirat, karena banyaknya orang yang kita sangka dengan sangkaan yang buruk. Karena itulah ulama berkata, “Haram berburuk sangka kepada seorang muslim yang zahirnya tampak adil.”

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ) “Karena sesungguhnya Allah telah mengharamkan Neraka.” Maksudnya, Allah mencegah dari Neraka atau mencegah Neraka dari menyentuhnya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, (مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ) “Orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah” dengan syarat ikhlas.  Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, (يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ) “Demi mencari Wajah Allah.”

Jadi, ia harus beramal sesuai dengan kemampuan supaya sampai kepada-Nya, sebab orang yang mencari sesuatu, pasti ia berusaha sekuat tenaga untuk sampai kepadanya. Ini berarti bahwa kita tidak memerlukan pernyataan az-Zuhri setelah ia menyebutkan hadis ini seperti yang disebutkan dalam kitab Shahih Muslim. Ia berkata, “Setelah itu ada beberapa perkara yang wajib dan beberapa perkara yang haram. Maka tidak seharusnya seseorang terkecoh dengan hadis ini.”

Hadis ini sangat jelas menunjukkan disyaratkannya amal bagi orang yang mengucapkan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah,” karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi mencari Wajah Allah.” Karena itulah, ketika menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kunci Surga adalah Laa ilaaha illallah,” (HR al-Bukhari) sebagian orang salaf berkata, “Tetapi, siapa saja membawa kunci tanpa gerigi, tentu ia tidak akan mampu membuka pintu.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Orang yang mencari (Wajah Allah) harus melengkapi dirinya dengan berbagai wasilah (sarana) pencarian. Jika ia telah menyempurnakannya, maka Neraka diharamkan atasnya secara mutlak. Jika ia melakukan kebaikan-kebaikan secara sempurna, maka Neraka diharamkan menyentuhnya secara mutlak. Namun, jika ia melakukan sesuatu yang mengurangi kesempurnaan, maka pencariannya pun tidak sempurna sehingga pengharaman Neraka atasnya merupakan pengharaman yang tidak sempurna. Hanya saja, tauhid menghalanginya dari kekal selama-lamanya di dalam Neraka, seperti orang yang berzina, meminum khamar, dan mencuri. Jika ia melakukan kemaksiatan itu sambil berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan sebenarnya) selain Allah, dan aku mengucapkannya demi mencari Wajah Allah,’ maka ia telah berdusta dalam pernyataannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah seorang pezina melakukan perzinaan sementara ia dalam keadaan mukmin.’ (Muttafaq ‘alaih)

Apalagi jika ia mengaku mencari Wajah Allah ketika mengucapkan kalimat tauhid, sementara ia sedang berbuat dosa.”

Dalam hadis ini terdapat bantahan terhadap kelompok Murji’ah yang berkata, “Cukup mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah’ tanpa mencari Wajah Allah.” Juga terdapat bantahan terhadap kelompok Khawarij dan Mu’tazilah, karena zahir hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa melakukan perbuatan-perbuatan haram, ia tidak kekal di dalam Neraka, meski ia layak mendapatkan siksa. Sementara Khawarij dan Mu’tazilah mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kekal di dalam Neraka selama-lamanya.

Baca juga: MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH

Baca juga: ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’ LEBIH BERAT DALAM TIMBANGAN DARIPADA LANGIT DAN BUMI BESERTA ISINYA

Baca juga: PENGERTIAN AHLI SUNAH WALJAMAAH

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah