TIGA TANDA ORANG MUNAFIK

TIGA TANDA ORANG MUNAFIK

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tiga tanda orang munafik: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari janjinya; dan apabila diberi amanah, ia berkhianat.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

Sekalipun ia berpuasa, shalat, dan mengaku bahwa dirinya seorang muslim.”

PENJELASAN

Kata “ayah” berarti tanda, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرائيلَ

Apakah tidak cukup menjadi tanda bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?”  (QS asy-Syu’ara: 197)

Maksudnya, bukankah telah ada tanda bagi mereka yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, benarnya syariat beliau, dan bahwa al-Qur’an ini adalah benar, yaitu bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya dan mengetahui bahwa dialah yang telah diberitakan kabar gembiranya oleh Isa ‘alaihis salam?

Demikian pula firman Allah Ta’ala:

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

Suatu tanda bagi mereka adalah bahwa Kami mengangkut keturunan mereka di dalam kapal yang penuh muatan.” (QS Yasin: 41)

Kata “ayah” di sini juga berarti tanda.

Tanda orang munafik ada tiga:

Orang munafik adalah orang yang menyembunyikan keburukan dan menampakkan kebaikan. Di antara bentuknya adalah orang yang menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keislaman.

Asal kata munafik diambil dari nafiqa’ al-yarbu’, yaitu lubang persembunyian hewan yarbu’ (sejenis tikus gurun).

Hewan yarbu’ —yang biasa kita sebut jarbu’— membuat liang di dalam tanah. Ia membuat sebuah pintu masuk, lalu di ujung liangnya ia menggali sebuah lubang untuk keluar. Akan tetapi, lubang itu tersembunyi dan tidak diketahui orang. Jika seseorang menutup pintu masuknya, ia akan memukul lubang yang berada di bagian bawah dengan kepalanya, lalu melarikan diri melalui lubang itu.

Maka orang munafik menampakkan kebaikan, tetapi menyembunyikan keburukan. Ia menampakkan kebaikan, tetapi di dalam hatinya menyimpan kekufuran.

Kemunafikan mulai tampak pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Perang Badar. Ketika para pemuka Quraisy terbunuh dalam perang Badar dan kemenangan berada di pihak kaum muslimin, muncullah kemunafikan. Orang-orang munafik itu menampakkan diri sebagai muslim, padahal mereka kafir, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ

Apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanyalah memperolok-olok.’” (QS al-Baqarah: 14)

Allah Ta’ala juga berfirman:

اَللّٰهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS al-Baqarah: 15)

Allah juga berfirman tentang mereka:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّه

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar rasul Allah.” (QS al-Munafiqun: 1 )

Mereka menguatkan ucapan mereka dengan kata “bersaksi”, dengan “inna”, dan dengan “lam”. Namun Allah Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS al-Munafiqun: 1)

Allah memberikan kesaksian yang lebih kuat daripada kesaksian mereka, bahwa mereka benar-benar berdusta dalam ucapan mereka, “Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar rasul Allah.”

Mereka berdusta dalam persaksian mereka bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Oleh karena itu, Allah menyusulkannya dengan firman-Nya: “Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.”

Orang munafik memiliki tanda-tanda yang dapat dikenali oleh orang yang Allah Ta’ala karuniai firasat dan cahaya dalam hatinya. Ia dapat mengenali orang munafik dengan memperhatikan dan menelusuri keadaan-keadaannya.

Ada pula tanda-tanda yang tampak jelas dan tidak memerlukan firasat. Di antaranya adalah tiga tanda yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Pertama: “Apabila berbicara, ia berdusta.”

Misalnya ia berkata, “Si fulan telah melakukan ini dan itu,” namun ketika diteliti, ternyata ia berdusta dan orang tersebut tidak melakukan apa pun.

Jika kamu melihat seseorang sering berdusta, ketahuilah bahwa di dalam hatinya terdapat salah satu cabang kemunafikan.

Kedua: “Apabila berjanji, ia mengingkari janjinya.”

Ia berjanji kepadamu, tetapi tidak menepatinya. Misalnya, ia berkata kepadamu, “Aku akan datang menemuimu pada pukul tujuh pagi,” tetapi ternyata ia tidak datang. Atau ia berkata, “Aku akan datang menemuimu besok setelah shalat Zhuhur,” tetapi ternyata ia tidak datang. Atau ia berkata, “Aku akan memberimu ini dan itu,” tetapi ia tidak memberikannya. Maka ia termasuk orang yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila berjanji, ia mengingkari janjinya.”

Adapun seorang mukmin, apabila berjanji, ia menepatinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا

Orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji.” (QS al-Baqarah:177)

Akan tetapi, orang munafik berjanji kepadamu dan membuatmu terpedaya. Jika kamu mendapati seseorang sering mengingkari janji dan tidak menepatinya, maka ketahuilah bahwa di dalam hatinya terdapat salah satu cabang kemunafikan —wal’iyadzu billah.

Ketiga: “Apabila diberi amanah, ia berkhianat.”

Inilah bagian hadis yang menjadi dalil dalam bab ini.

Orang munafik, apabila kamu mempercayainya dalam urusan harta, ia akan mengkhianatimu. Jika kamu mempercayainya dalam rahasia antara dirimu dan dirinya, ia akan mengkhianatimu. Jika kamu mempercayainya terhadap keluargamu, ia akan mengkhianatimu. Jika kamu mempercayainya dalam urusan jual beli, ia akan mengkhianatimu. Setiap kali kamu memberinya amanah dalam suatu perkara, ia berkhianat —wal’iyadzu billah. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam hatinya terdapat salah satu cabang kemunafikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal ini karena dua tujuan:

Tujuan pertama adalah agar kita berhati-hati dari sifat-sifat tercela tersebut, karena sifat-sifat itu termasuk tanda-tanda kemunafikan. Dikhawatirkan kemunafikan dalam amal ini dapat mengantarkan kepada kemunafikan dalam akidah —wal’iyadzu billah— sehingga seseorang menjadi munafik dalam akidah dan keluar dari Islam tanpa ia sadari. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal ini kepada kita agar kita berhati-hati darinya.

Tujuan kedua adalah agar kita berhati-hati terhadap orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, dan mengetahui bahwa ia adalah seorang munafik yang menipu kita, mempermainkan kita, dan memperdaya kita dengan manisnya ucapannya serta indahnya perkataannya. Oleh karena itu, kita tidak mempercayainya dan tidak mengandalkannya dalam suatu urusan pun, karena ia adalah seorang munafik —wal’iyadzu billah.

Sebaliknya, kebalikan dari sifat-sifat itu merupakan tanda-tanda keimanan.

Seorang mukmin, apabila ia berjanji, ia menepatinya. Seorang mukmin, apabila diberi amanah, ia menunaikan amanah tersebut sebagaimana mestinya. Demikian pula, apabila berbicara, ia jujur dalam ucapannya dan menyampaikan apa yang benar-benar terjadi.

Sangat disayangkan, ada sebagian orang yang bodoh di kalangan kita. Jika kamu membuat janji kepada mereka, mereka berkata, “Apakah ini janji Inggris atau janji Arab?” Maksudnya, orang Inggris-lah yang menepati janji. Tidak diragukan lagi bahwa ucapan seperti ini merupakan kebodohan dan sikap terpedaya oleh orang-orang kafir tersebut. Orang Inggris memang ada yang muslim dan beriman, tetapi secara umum mereka adalah orang-orang kafir. Jika mereka menepati janji, mereka tidak melakukannya karena mengharapkan wajah Allah, tetapi karena ingin memperindah citra mereka di hadapan manusia agar orang-orang tertipu oleh mereka.

Pada hakikatnya, orang mukminlah yang benar-benar paling menepati janji. Siapa yang menepati janji, maka ia adalah seorang mukmin. Siapa yang mengingkari janji, maka pada dirinya terdapat salah satu sifat kemunafikan.

Kita memohon kepada Allah agar Dia melindungi kami dan kalian dari kemunafikan dalam amal maupun kemunafikan dalam akidah.

Sesungguhnya Dia Mahapemurah lagi Mahamulia.

Baca juga: SIFAT ORANG MUNAFIK

Baca juga: WASPADA TERHADAP KEMUNAFIKAN

Baca juga: SEMANGAT DALAM MERAIH KEBAIKAN

Baca juga: ILMU HARI KIAMAT DAN TANDA-TANDANYA

Baca juga: TERSEBARNYA HADIS-HADIS PALSU

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Riyadhush Shalihin