TERSEBARNYA HADIS-HADIS PALSU

TERSEBARNYA HADIS-HADIS PALSU

Di antara tanda akhir zaman (tanda Kiamat) adalah tersebarnya hadis-hadis palsu yang didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya adalah agar akidah masyarakat terkotori dan agama mereka kacau. Juga tujuan lain yang bermuatan politis, fanatisme, dan kesukuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya akan bahaya kedustaan besar tersebut. Mereka diperingatkan agar tidak terjebak ke dalam tipu daya keji para pendusta agama yang menyebabkan penyimpangan dan kesesatan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يكونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ. يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ. فَإِيَّاكُمْ وَإيَّاهُمْ. لَا يُضِلُّونَكُمْ وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ

Di akhir zaman nanti akan muncul para dajal pendusta besar. Mereka akan menyampaikan kepada kalian hadis-hadis yang belum pernah kalian dengar dan tidak pula ayah-ayah kalian dengar. Maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka. Jangan sampai mereka menyesatkan kalian dan menggoda kalian.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, identitas pertama orang Islam adalah jujur dalam berkata, teliti dalam menyampaikan sesuatu, dan teratur dalam berbicara. Adapun berkata dusta, melakukan pengaburan, dan merekayasa sesuatu merupakan tanda-tanda orang munafik.

Apabila dusta secara umum merupakan perbuatan hina yang dapat merusak hati pelakunya, maka dusta secara khusus atas nama agama Allah merupakan salah satu kemungkaran yang sangat keji. Sebabnya adalah pendusta agama menisbatkan sesuatu kepada Allah atau kepada Rasul-Nya yang Allah atau Rasul-Nya tidak mengucapkannya. Ini merupakan jenis dusta yang pada hakekatnya sangat tercela dan berakibat fatal.

Dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ. مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, silakan ia menempati tempat duduknya di Neraka.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Barangsiapa menceritakan dariku suatu hadis yang menurutnya dusta, maka dia termasuk salah seorang pendusta.” (HR al-Bukhari dan at-Tirmidzi)

Termasuk ke dalam dusta jenis ini adalah bidah yang dibuat oleh orang-orang bodoh yang mereka nisbatkan kepada agama Allah, berupa perkara-perkara yang direkayasa dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali. Karena perbuatan ini orang-orang awam menjadi sesat. Mereka menyangkanya sebagai agama, padahal kedustaan dan penistaan terhadap agama.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan keras agar kita tidak mengekor di belakang para pendusta agama supaya tidak terjerumus ke dalam perangkap mereka.

Hanya Allah-lah yang bisa dimintai pertolongan.

Baca juga: BERBANGGA-BANGGA DENGAN MASJID DAN MENGHIASNYA

Baca juga: ALAT MUSIK MERAJALELA DAN DIHALALKAN

(Mushthafa Abu an-Nashr as-Silbi)

Akidah