ANJURAN UNTUK MENUNTUT ILMU DAN MENGAMALKANNYA

ANJURAN UNTUK MENUNTUT ILMU DAN MENGAMALKANNYA

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menjadikan kegelapan dan cahaya. Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan ilmu atas kebodohan. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS az-Zumar: 9)

Kami bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Mahamengetahui tentang siapa yang pantas untuk ilmu dan agama. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, yang bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadis Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)

Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat, serta semoga Allah melimpahkan salam dengan sebenar-benarnya.

Amma ba’du.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, pelajarilah hukum-hukum syariat-Nya, dan tuntutlah ilmu yang bermanfaat. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya dan petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan dan kesesatan.

Pelajarilah apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya berupa wahyu, karena para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak dari warisan mereka.

Pelajarilah ilmu, karena ilmu merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat, serta pahalanya terus berlangsung hingga Hari Kiamat.

Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS al-Mujadilah: 11)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ مِنْ بَعْدِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seorang hamba meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat darinya setelahnya, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan an-Nasa’i dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Perhatikanlah jejak para ulama rabbani. Jejak-jejak mereka masih tetap ada hingga hari ini, sepanjang bulan dan tahun. Jejak-jejak mereka terpuji, jalan hidup mereka tersebar luas, penyebutan mereka ditinggikan, dan nama mereka dikenang dengan baik. Apabila mereka disebut dalam berbagai majelis, orang-orang akan mendoakan rahmat untuk mereka. Apabila amal-amal saleh dan adab-adab luhur mereka disebutkan, mereka menjadi teladan bagi manusia dalam hal itu.

Wahai manusia, pelajarilah ilmu dan amalkanlah. Sesungguhnya mempelajari ilmu adalah jihad di jalan Allah, dan mengamalkannya merupakan cahaya dan petunjuk dari Allah.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

Apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan dia dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengan cahaya itu dia berjalan di tengah-tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (QS al-An’am: 122)

Wahai manusia, sesungguhnya kita berada di ambang tahun ajaran baru. Pada tahun itu para pelajar akan menerima berbagai ilmu, dan para guru akan menyambut mereka. Mereka akan menerima dari para guru ilmu, adab, dan akhlak. Seandainya aku mengetahui apa yang dipersiapkan oleh masing-masing dari mereka untuk menyambutnya.

Para pelajar hendaklah menyambut tahun ini dengan kesungguhan dan semangat, berusaha keras memperoleh ilmu melalui setiap jalan dan pintu yang memungkinkan, serta mengerahkan segenap kemampuan untuk menanamkan ilmu dengan kokoh di dalam hati mereka. Hendaklah mereka bersungguh-sungguh sejak awal tahun. Hal itu merupakan sebab kokohnya ilmu dan kemudahan dalam memperolehnya. Apabila seseorang bersungguh-sungguh sejak awal tahun, ia akan memperoleh ilmu sedikit demi sedikit sehingga menjadi mudah baginya. Adapun jika ia bermalas-malasan pada awal tahun, maka setelah itu ilmu akan terasa berat baginya, berbagai ilmu akan menumpuk di atasnya, dan pemahamannya terhadap ilmu hanya menjadi pemahaman yang dangkal. Ilmu itu tidak tertanam kuat di dalam hatinya dan tidak menetap dalam pikirannya.

Termasuk kewajiban seorang pelajar, apabila ia telah memahami suatu masalah ilmu, adalah menerapkannya pada dirinya sendiri dan mengamalkannya agar ilmunya menjadi bermanfaat baginya. Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan oleh seseorang, dan mengamalkan ilmu adalah buah dari ilmu itu sendiri.

Orang yang bodoh lebih baik daripada orang berilmu yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya dan tidak mengamalkannya. Sebab, ilmu adalah senjata; bisa menjadi senjata yang menguntungkanmu dalam menghadapi musuhmu, dan bisa pula menjadi senjata yang berbalik merugikanmu.

Wahai pelajar, apabila kalian telah mengetahui suatu masalah agama, maka amalkanlah. Jika tidak, apa manfaat ilmu itu? Bagaimana jika seseorang mempelajari ilmu kedokteran, tetapi ia tidak pernah berobat dengannya dan tidak mengobati orang lain? Apa manfaat ilmunya?

Demikian pula ilmu-ilmu syariat. Ilmu-ilmu itu merupakan ilmu yang paling agung. Jika kalian mengamalkannya, maka ia adalah ilmu yang paling bermanfaat. Jika kalian menyelisihinya, maka ilmu itu akan menjadi hujah atas dirimu.

Wahai para guru, sesungguhnya kalian memikul tanggung jawab yang besar dan mempelajari hak-hak yang agung. Tunaikanlah tugas itu dengan ikhlas karena Allah dan dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Niscaya anak-anak kalian akan memperoleh manfaat dan orang-orang yang belajar dari kalian akan mengambil ilmu dari kalian dengan tujuan yang benar.

Ikhlaskanlah niat dalam mengajar, tempuhlah cara yang paling mudah dan paling dekat untuk memberikan pemahaman, serta tempatkanlah segala sesuatu pada tempatnya. Mengajar para pemula tidaklah sama dengan mengajar mereka yang sudah mahir.

Kalian harus menampilkan di hadapan para pelajar setiap akhlak yang mulia dan sifat yang terpuji, serta menjauhi setiap akhlak yang rendah dan tercela. Sesungguhnya seorang pelajar menerima akhlak dari gurunya sebagaimana ia menerima ilmu darinya.

Arahkanlah anak-anak didik kalian pada setiap kesempatan yang kalian lihat sebagai peluang untuk itu. Sebab, guru yang tulus akan memadukan antara pengajaran dan pendidikan yang baik. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Allah Ta’ala berfirman:

الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ۝ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan kepada cahaya dengan izin Rabb mereka, menuju jalan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji. Allah, yang milik-Nya segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi.” (QS Ibrahim: 1–2)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Baca juga: KEUTAMAAN ILMU AGAMA (1)

Baca juga: KEUTAMAAN ILMU AGAMA (2)

Baca juga: MENGAPA HARUS BERILMU?

Baca juga: AL-QUR’AN PEMBELA BAGI ORANG YANG MENGAMALKANNYA

Baca juga: MEMERINTAHKAN YANG MA’RUF TETAPI TIDAK MENGAMALKANNYA: ANCAMAN DAN HUKUMAN BERAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Khotbah