Segala puji bagi Allah yang mengangkat derajat para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan menyiapkan bagi mereka pahala yang besar di negeri kemuliaan (Surga). Dia meninggikan kedudukan dan sebutan mereka, serta mengharumkan nama mereka dalam kehidupan dan setelah kematian. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dalam uluhiyyah, rububiyyah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, manusia pilihan di antara seluruh makhluk. Semoga shalawat Allah tercurah kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikut mereka dengan kebaikan sepanjang masa, serta semoga Allah memberikan salam yang banyak.
Amma ba’du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekat kepada-Nya. Bersungguh-sungguhlah dalam mempelajari dan memahami ilmu-ilmu syariat, niscaya kalian akan memperoleh pahala yang besar dan beribadah kepada Allah di atas ilmu dan keyakinan yang jelas. Sesungguhnya para nabi ‘alaihimush shalatu wassalam tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi, maka sungguh ia telah memperoleh keberuntungan yang besar. Seandainya ditanyakan, “Siapakah pewaris para nabi itu?” Maka jawabannya adalah para ulama. (Diriwayatkan secara lengkap oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.)
Wahai saudara-saudaraku, sungguh kebodohan telah banyak dan tersebar luas dengan penyebaran yang besar, hingga para ulama menjadi sedikit dan dihitung dengan jari. Ini merupakan bahaya yang sangat besar. Sesungguhnya umat ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama masih ada pewaris para nabi di tengah-tengah mereka. Jika pewaris para nabi telah hilang, maka keselamatan agama dan iman mereka pun terancam.
Wahai kaum muslimin, pelajarilah agama kalian, amalkanlah ilmu yang telah kalian ketahui, dan hadirilah majelis-majelis dzikir, karena sesungguhnya majelis-majelis itu adalah taman-taman surga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا
“Jika kalian melewati taman-taman Surga, maka singgahlah di sana.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah taman-taman surga itu?”
Beliau menjawab,
مَجَالِسُ الْعِلْمِ
“Majelis-majelis ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, dan ath-Thabarani, serta al-Hakim. at-Tirmidzi meriwayatkannya dengan lafaz: “Dan taman-taman Surga itu adalah masjid-masjid.”)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga.” (Diriwayatkan secara lengkap oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu)
Beliau bersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (Ini merupakan bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberinya pemahaman dalam agama.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu)
Wahai hamba-hamba Allah, carilah kebaikan, tempuhlah jalan menuju Surga, singgahlah di taman-taman Surga itu, tuntutlah ilmu, dan bersungguh-sungguhlah dalam mencarinya. Tuntutlah ilmu yang diwariskan oleh Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum waktu berlalu, sebelum kebodohan merajalela, dan sebelum bahaya semakin besar. Tuntutlah ilmu, karena sesungguhnya ilmu adalah kemuliaan di dunia dan simpanan pahala di akhirat. Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya setelah ia wafat, atau anak saleh yang mendoakannya.
Sesungguhnya generasi salaf yang saleh radhiyallahu ‘anhum dahulu menginfakkan harta-harta mereka, mengorbankan jiwa dan umur mereka, serta bersusah payah siang dan malam demi memperoleh ilmu, mempelajarinya, dan memberikan manfaat kepada umat dengannya. Demi umurku, sungguh mereka telah memperoleh keuntungan yang sangat besar, dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sungguh, Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah melakukan perjalanan kepada ‘Abdullah bin Unais hanya untuk mendapatkan satu hadis, dengan menempuh perjalanan selama satu bulan. Mereka dahulu menempuh hari-hari dan malam-malam yang panjang dalam menuntut hadis.
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mempunyai seorang tetangga dari kalangan Anshar, dari Bani Umayyah bin Zaid, yang tinggal di daerah ‘Awali Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehari ia hadir dan sehari aku yang hadir. Jika aku hadir, aku membawa berita wahyu dan selainnya pada hari itu kepadanya. Jika ia yang hadir, maka ia melakukan hal yang sama.”
Demikianlah keadaan generasi salaf yang saleh. Mereka melakukan perjalanan dan saling bergantian dalam menuntut ilmu serta mencari penghidupan mereka, karena mereka mengetahui besarnya kecintaan Allah terhadap ilmu, serta banyaknya kebaikan dan pahala dalam menuntutnya. Sampai-sampai dalam hadis disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ، وَلَأَنْ تَغْدُوَ فَتَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ بِهِ، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ
“Wahai Abu Dzar, sungguh engkau pergi mempelajari satu ayat dari Kitabullah adalah lebih baik bagimu daripada engkau mengerjakan seratus rakaat shalat. Engkau pergi mempelajari satu bab ilmu, baik diamalkan maupun tidak, adalah lebih baik bagimu daripada engkau mengerjakan seribu rakaat shalat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Menuntut ilmu adalah amalan yang paling utama bagi orang yang niatnya benar.” Ia juga berkata, “Ilmu tidak ada yang dapat menandinginya.” Ia juga berkata, “Mengulang kaji ilmu pada sebagian malam lebih aku sukai daripada menghidupkannya dengan ibadah.”
Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya menuntut ilmu memiliki banyak cara. Di antaranya adalah dengan mengambil kitab-kitab terpercaya yang diyakini keilmuannya, lalu mempelajari dan memahaminya, serta bertanya kepada para ulama tentang hal-hal yang sulit dipahami. Hal ini mudah dilakukan bahkan di rumah dan pada waktu luang kalian.
Di antaranya juga adalah menghadiri masjid-masjid untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh imam masjid atau selainnya. Oleh karena itu, para imam masjid hendaklah mengharapkan pahala dan kebaikan, membacakan kepada manusia hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, serta mengarahkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Karena hal itu termasuk menyebarkan ilmu. Hendaklah mereka bersungguh-sungguh dalam memilih kitab-kitab bermanfaat yang sesuai dengan keadaan para pendengar.
Wahai kaum muslimin, tidaklah seseorang yang mendengar keutamaan ilmu sebagaimana yang telah kami sebutkan, kecuali hanya sedikit dari mereka yang benar-benar bersungguh-sungguh dan sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ilmu. Padahal seseorang yang memahami suatu masalah, mengambil manfaat darinya, lalu mengajarkannya kepada orang lain, akan memperoleh kebaikan dunia dan segala isinya, serta pahala yang terus mengalir baginya semasa hidup dan setelah wafatnya.
Wahai kaum muslimin, janganlah setan menghalangi kalian dari menuntut ilmu dan menghadiri majelis dzikir. Janganlah kalian menyia-nyiakan waktu kalian untuk perkara yang tidak ada kebaikan di dalamnya, lalu meninggalkan sesuatu yang merupakan kebaikan bagi kalian.
Wahai kaum muslimin, dengarkanlah firman Allah Ta’ala:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS az-Zumar: 9)
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS Fathir: 28)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Baca juga: PERINTAH UNTUK MENJAGA SUNAH DAN ADAB-ADABNYA
Baca juga: MENJAGA SUNAH HARUS DENGAN ILMU DAN AMAL
Baca juga: HUKUM PERGI KE MASJID YANG JAUH AGAR BISA SALAT DI BELAKANG IMAM YANG BAGUS BACAANNYA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

