HIKMAH LIMA RUKUN ISLAM DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN

HIKMAH LIMA RUKUN ISLAM DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Dia telah mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya melalui agama ini syariat yang paling sempurna dan agama yang paling mudah. Dia menjadikan umat ini sebagai sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Umat ini adalah umat terakhir di dunia dan umat pertama pada hari kiamat, karena agama mereka yang merupakan penutup seluruh agama samawi mengandung berbagai kebaikan bagi umat manusia dalam sumber-sumbernya, tujuan-tujuannya, hukum-hukumnya, dan syariat-syariatnya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang menempuh jalan beliau serta berpegang teguh dengan sunnah beliau, serta semoga Allah melimpahkan salam yang banyak kepada mereka.

Amma ba’du.

Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa agama Islam adalah nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS al-Ma’idah: 3)

Islam yang agung ini dibangun di atas lima rukun. Apabila engkau merenungkannya, engkau akan mendapati bahwa setiap rukunnya mengandung kemaslahatan yang besar dan manfaat yang sangat banyak, yang tidak mungkin dibatasi jumlahnya. Cukuplah dalam kesempatan ini kita menyinggung sebagian darinya yang dimudahkan oleh Allah, berdasarkan petunjuk dalil-dalil syariat serta yang dibuktikan oleh kenyataan dan pengalaman. Sesungguhnya termasuk bentuk syukur terhadap nikmat adalah menyebut dan menampakkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Rabb-mu, maka ceritakanlah.” (QS adh-Dhuha: 11)

Dua Kalimat Syahadat

Adapun rukun yang pertama, yaitu dua kalimat syahadat: syahadat bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Rukun ini mengandung makna memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan memurnikan sikap mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa menunaikannya dengan sebenar-benarnya, maka ia berhak memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Adapun di dunia, dengan syahadat seseorang keluar dari agama kekafiran menuju agama Islam, serta darah dan hartanya menjadi terlindungi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِذَا قَالُوهَا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah.’ Jika mereka telah mengucapkannya, maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 22)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

Barang siapa mengucapkan, ‘Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah,’ dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Surga, apa pun amal yang ia miliki.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 28)

Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membatalkan berbagai bid’ah yang menyesatkan. Dengan mengikutinya, seseorang akan memperoleh kecintaan Allah kepadanya dan ampunan atas dosa-dosanya.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS Ali ‘Imran: 31)

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)

Jadi, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk makna dari persaksian bahwa beliau adalah utusan Allah.

Menegakkan Shalat

Adapun rukun Islam yang kedua, yaitu menegakkan shalat.

Shalat adalah hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Dengannya ia mendekatkan diri kepada-Nya, mengangkat berbagai kebutuhan dan permohonannya kepada-Nya, serta mengharapkan penghapusan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya.

Shalat mencakup berbagai jenis ibadah, baik ibadah yang berupa ucapan maupun perbuatan, ibadah hati maupun anggota badan, yang tidak terkumpul secara sempurna pada ibadah lainnya sebagaimana terkumpul dalam shalat.

Shalat juga merupakan sarana pertolongan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan beratnya kehidupan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan shalat.” (QS al-Baqarah: 45)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah: 153)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu urusan yang berat, beliau segera menuju shalat. Hal itu karena beliau mendapatkan di dalam shalat ketenangan bagi hatinya dan kenikmatan bagi rohnya yang membuatnya melupakan berbagai kesusahan dunia, membantunya menghadapi beratnya kehidupan, serta membuka baginya berbagai pintu kelapangan.

Shalat juga memperbaiki perilaku manusia, mengarahkannya kepada kebaikan, dan menjauhkannya dari ucapan serta perbuatan yang buruk.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran.” (QS al-’Ankabut: 45)

Bahkan yang lebih agung dari itu, shalat mengandung dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Sungguh mengingat Allah itu lebih besar.” (QS al-’Ankabut: 45)

Shalat juga mendidik jiwa serta menjadikan seseorang memiliki kesabaran ketika tertimpa kesusahan dan rasa syukur ketika memperoleh kelapangan.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ۝ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ۝ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا ۝ إِلَّا الْمُصَلِّينَ

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Apabila mendapat kebaikan, ia menjadi kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS al-Ma’arij: 19–22)

Shalat juga merupakan perjumpaan dan pertemuan dengan Allah Jalla Sya’nuhu. Sebagaimana telah sahih dalam hadis bahwa Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah orang yang sedang shalat, mendengar munajatnya, dan menjawabnya ketika ia membaca Surah al-Fatihah yang kalian baca pada setiap rakaat, yang di dalamnya terdapat pujian kepada Allah dan doa kepada-Nya.

Menunaikan Zakat

Adapun rukun Islam yang ketiga, yaitu menunaikan zakat, maka di dalamnya terdapat berbagai manfaat yang sangat nyata dan dapat disaksikan secara langsung.

Zakat merupakan sarana penyucian jiwa dari sifat kikir dan bakhil, yang keduanya termasuk penyakit jiwa yang paling buruk.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Hasyr: 9)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil terhadap apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Bahkan itu buruk bagi mereka. Apa yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kepada mereka pada Hari Kiamat.” (QS Ali ‘Imran: 180)

Dalam menunaikan zakat juga terdapat pengembangan harta dan sebab turunnya keberkahan di dalamnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ

Tidaklah harta berkurang karena sedekah.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar no. 1022, ath-Thabarani dalam al-Ausath no. 2770 dan ash-Shaghir no. 142. Hadis ini memiliki penguat dalam Shahih Muslim no. 2588)

Bahkan sedekah akan menambahnya.

Makna ini juga dapat dipahami dari kata zakat itu sendiri, karena maknanya adalah pertumbuhan dan penambahan.

Dalam menunaikan zakat terdapat pula kebaikan kepada orang-orang fakir, bantuan kepada orang-orang yang terlilit utang, serta pertolongan kepada musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.

Allah Ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS at-Taubah: 103)

Allah Ta’ala berfirman:

فَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

Maka berikanlah kepada kerabat haknya, demikian pula kepada orang miskin dan musafir. Yang demikian itu adalah lebih baik.” (QS ar-Rum: 38)

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ ۝ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Orang-orang yang pada harta mereka terdapat hak yang telah ditentukan, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS al-Ma’arij: 24–25)

Dalam ayat-ayat yang mulia ini dan ayat-ayat lain yang semakna dengannya terdapat isyarat bahwa zakat memberikan manfaat bagi orang yang menunaikannya maupun bagi orang yang menerimanya. Oleh karena itu, zakat merupakan salah satu sarana membangun masyarakat Islam.

Puasa

Adapun rukun Islam yang keempat, yaitu puasa, maka di dalamnya terdapat manfaat dan faedah yang sangat besar.

Di antaranya adalah mendahulukan ketaatan kepada Allah di atas ketaatan kepada diri sendiri dan hawa nafsu. Sebab, orang yang berpuasa melaksanakan perintah Rabb-nya dengan meninggalkan berbagai syahwat dirinya. Ia meninggalkan hal-hal yang paling diinginkan oleh jiwanya, yaitu makanan, minuman, dan hubungan suami istri, demi mengharap wajah Rabb-nya, karena ia mengetahui bahwa dalam hal itu terdapat keridhaan-Nya.

Orang yang berpuasa juga dididik melalui puasa untuk memiliki kesabaran, keteguhan, dan daya tahan. Ia bersabar menghadapi rasa lapar dan pedihnya dahaga. Oleh karena itu, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan kesabaran.

Tidak diragukan lagi bahwa kedudukan sabar merupakan kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Banyak ayat dalam Kitab Allah yang memberikan wasiat tentang pentingnya kesabaran serta memuji orang-orang yang memilikinya. Sifat sabar tersebut dapat diperoleh melalui puasa.

Dalam puasa juga terdapat pendidikan bagi jiwa dan pengendalian diri agar tidak menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sesungguhnya orang yang berpuasa dilarang menyakiti orang lain dengan sesuatu yang merugikan mereka, seperti ghibah, adu domba, atau mencaci maki. Bahkan jika seseorang mencacinya, maka tidak sepatutnya ia membalas dengan yang serupa.

Dalam hadis disebutkan:

فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

Jika seseorang mencacinya, hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1894, 1904 dan Muslim no. 1151)

Dalam puasa juga terdapat pengingat akan nikmat Allah yang diberikan kepada orang yang berpuasa berupa kemudahan memperoleh makanan dan minuman. Sebab, ketika ia menahan diri dari keduanya padahal sangat membutuhkannya, ia akan merasakan beratnya menjauhi makanan dan minuman tersebut serta menyadari betapa besar kebutuhannya kepada keduanya untuk mempertahankan kehidupannya.

Dalam puasa juga terdapat pengingat bagi orang yang berpuasa akan keadaan fakir dan miskin yang tidak mendapatkan makanan ketika mereka membutuhkannya, sehingga ia terdorong untuk berbelas kasih kepada mereka. Selain itu, puasa juga mengekang gejolak hawa nafsu dan menutup jalan-jalan masuk setan ke dalam diri manusia. Sebab, kenyang dan membiarkan diri mengikuti syahwatnya termasuk hal yang mendorong kepada kesombongan dan sikap melampaui batas.

Allah Ta’ala berfirman:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى ۝ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup.” (QS al-’Alaq: 6–7)

Dalam puasa juga terdapat rahasia-rahasia yang menakjubkan dan berbagai kebaikan yang banyak, yang dapat dipahami dari firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa merupakan sebab untuk meraih ketakwaan, yang Allah jadikan sebagai landasan bagi setiap kebaikan dan yang dengannya Allah menyifati para pemiliknya dengan berbagai sifat kebajikan.

Haji

Adapun rukun Islam yang kelima, yaitu haji, maka di dalamnya terdapat manfaat-manfaat duniawi dan ukhrawi yang tidak dapat dibatasi jumlahnya.

Telah diriwayatkan sebuah hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan keutamaannya. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Bazzar meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Aku sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid Mina. Lalu datang seorang laki-laki dari kalangan Anshar dan seorang laki-laki dari Tsaqif. Keduanya mengucapkan salam, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, kami datang untuk bertanya kepada engkau.”

Beliau bersabda,

إِنْ شِئْتُمَا أَخْبَرْتُكُمَا بِمَا جِئْتُمَا تَسْأَلَانِي عَنْهُ فَعَلْتُ، وَإِنْ شِئْتُمَا أَمْسَكْتُ وَسَأَلْتُمَانِي فَعَلْتُ

Jika kalian berdua menghendaki, aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang hendak kalian tanyakan kepadaku, maka akan aku lakukan. Jika kalian berdua menghendaki, aku diam dan kalian yang bertanya kepadaku, maka akan aku lakukan.”

Keduanya berkata, “Beritahukanlah kepada kami, wahai Rasulullah.”

Lalu orang Tsaqif berkata kepada orang Anshar, “Bertanyalah.”

Orang Anshar berkata, “Beritahukanlah kepadaku, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda,

جِئْتَنِي تَسْأَلُنِي عَنْ مَخْرَجِكَ مِنْ بَيْتِكَ تَؤُمُّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ وَمَا لَكَ فِيهِ، وَعَنْ رَكْعَتَيْكَ بَعْدَ الطَّوَافِ وَمَا لَكَ فِيهِمَا، وَعَنْ طَوَافِكَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَمَا لَكَ فِيهِ، وَعَنْ وُقُوفِكَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ وَمَا لَكَ فِيهِ، وَعَنْ رَمْيِكَ الْجِمَارَ وَمَا لَكَ فِيهِ، وَعَنْ نَحْرِكَ وَمَا لَكَ فِيهِ مَعَ الْإِفَاضَةِ

Engkau datang kepadaku untuk bertanya tentang keluarmu dari rumahmu menuju Baitullah al-Haram dan pahala yang engkau peroleh darinya, tentang dua rakaatmu setelah thawaf dan pahala yang engkau peroleh darinya, tentang sa’imu antara Shafa dan Marwah dan pahala yang engkau peroleh darinya, tentang wukufmu pada sore hari Arafah dan pahala yang engkau peroleh darinya, tentang lempar jumrahmu dan pahala yang engkau peroleh darinya, serta tentang penyembelihan kurbanmu dan pahala yang engkau peroleh darinya bersama ifadhahmu.”

Orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, untuk itulah aku datang bertanya kepada engkau.”

Beliau bersabda,

فَإِنَّكَ إِذَا خَرَجْتَ مِنْ بَيْتِكَ تَؤُمُّ الْبَيْتَ الْحَرَامَ لَا تَضَعُ نَاقَتُكَ خُفًّا وَلَا تَرْفَعُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَكَ بِهِ حَسَنَةً وَمَحَا عَنْكَ خَطِيئَةً، وَأَمَّا رَكْعَتَاكَ بَعْدَ الطَّوَافِ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيلَ، وَأَمَّا طَوَافُكَ بِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ كَعِتْقِ سَبْعِينَ رَقَبَةً، وَأَمَّا وُقُوفُكَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ فَإِنَّ اللَّهَ يَهْبِطُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ يَقُولُ: عِبَادِي جَاؤُونِي شُعْثًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي، فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبُكُمْ كَعَدَدِ الرَّمْلِ أَوْ كَقَطْرِ الْمَطَرِ النَّثْرِ أَوْ زَبَدِ الْبَحْرِ لَغَفَرْتُهَا، أَفِيضُوا عِبَادِي مَغْفُورًا لَكُمْ وَلِمَنْ شَفَعْتُمْ لَهُ. وَأَمَّا رَمْيُكَ الْجِمَارَ فَلَكَ بِكُلِّ حَصَاةٍ رَمَيْتَهَا تَكْفِيرُ كَبِيرَةٍ مِنَ الْمُوبِقَاتِ. وَأَمَّا نَحْرُكَ فَمَدْخُورٌ لَكَ عِنْدَ رَبِّكَ. وَأَمَّا طَوَافُكَ بِالْبَيْتِ بَعْدَ ذَلِكَ فَإِنَّكَ تَطُوفُ وَلَا ذَنْبَ لَكَ، يَأْتِي مَلَكٌ حَتَّى يَضَعَ بَيْنَ كَتِفَيْكَ فَيَقُولُ: اعْمَلْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ فَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا مَضَى

Sesungguhnya ketika engkau keluar dari rumahmu menuju Baitullah al-Haram, tidaklah untamu meletakkan telapak kakinya dan tidak pula mengangkatnya melainkan Allah menuliskan untukmu satu kebaikan dan menghapus darimu satu kesalahan.

Adapun dua rakaatmu setelah thawaf, maka pahalanya seperti memerdekakan seorang budak dari keturunan Ismail.

Adapun sa’imu antara Shafa dan Marwah, maka pahalanya seperti memerdekakan tujuh puluh budak.

Adapun wukufmu pada sore hari Arafah, maka sesungguhnya Allah turun ke langit dunia lalu membanggakan kalian di hadapan para malaikat. Dia berfirman, ‘Hamba-hamba-Ku datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dari berbagai penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku. Seandainya dosa-dosa kalian sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, atau sebanyak buih lautan, niscaya Aku akan mengampuninya. Bertolaklah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni, demikian pula orang-orang yang kalian beri syafaat untuknya.

Adapun lempar jumrahmu, maka setiap batu yang engkau lempar menjadi sebab dihapuskannya satu dosa besar yang membinasakan.

Adapun penyembelihan kurbanmu, maka pahalanya tersimpan untukmu di sisi Rabb-mu.

Adapun thawafmu di Baitullah setelah itu, maka engkau melakukan thawaf dalam keadaan tidak memiliki dosa. Satu malaikat datang lalu meletakkan tangannya di antara kedua pundakmu dan berkata, ‘Beramallah untuk masa yang akan datang, karena sungguh telah diampuni bagimu dosa-dosa yang telah lalu.’” (Diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid (3/274–275) seperti ini. Ia menisbatkannya kepada al-Bazzar dan ath-Thabarani dengan lafaz yang semisal. Hadis ini juga terdapat dalam al-Mu’jam al-Kabir (12/425 no. 13561))

al-Bazzar berkata, “Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur, dan kami tidak mengetahui jalur yang lebih baik daripada jalur ini.”

al-Hafizh al-Mundziri berkata dalam at-Targhib wat Tarhib, “Ini adalah jalur yang tidak mengapa digunakan. Seluruh perawinya dinilai terpercaya.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban.

Wahai hamba-hamba Allah, inilah agama Islam yang dibangun di atas rukun-rukun yang agung ini, yang sebagian manfaatnya telah kalian dengar.

Di antara rukun-rukun tersebut ada yang dituntut dari kalian untuk terus-menerus menjaganya setiap saat, yaitu dua kalimat syahadat. Ada pula yang dituntut dari kalian lima kali dalam sehari semalam, yaitu shalat lima waktu. Ada pula yang dituntut dari kalian setiap tahun, yaitu zakat dan puasa. Dan ada pula yang dituntut dari kalian sekali seumur hidup, yaitu haji. Adapun yang lebih dari itu, maka hukumnya adalah sunah (ibadah tambahan).

Maka pujilah Allah yang telah memberi kalian petunjuk kepada Islam, dan mohonlah kepada-Nya agar Dia meneguhkan kalian di atas Islam hingga datang kematian.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali ‘Imran: 102)

Baca juga: HUKUM-HUKUM SHALAT

Baca juga: MENGINGAT NIKMAT ISLAM

Baca juga: NIAT SEBAGAI DASAR DITERIMANYA AMAL (2)

Baca juga: SIFAT SHALAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Baca juga: LEBIH MAHAL DARI UNTA MERAH: HARGA SEBUAH PETUNJUK

(Syekh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan)

Khotbah