MENYAMBUT BULAN RAMADAN YANG DIBERKATI

MENYAMBUT BULAN RAMADAN YANG DIBERKATI

Bulan yang agung dan musim mulia akan datang kepada kita. Di dalamnya pahala amal kebaikan dilipatgandakan dan dosa kejahatan dibesarkan. Itulah bulan Ramadan, yang pada bulan itu al-Qu’ran diturunkan. Itulah bulan dilaksanakannya siam (puasa), kiam (tarawih), sedekah, dan amal kebajikan lain. Pada bulan itu Allah Ta’ala mengaruniakan lima hal kepada umat ini yang tidak pernah dikaruniakan-Nya kepada umat lainnya.

1️⃣ Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah Ta’ala adalah lebih harum daripada aroma kesturi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

Bau mulut orang yang sedang berpuasa adalah lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

2️⃣ Para malaikat terus memohonkan ampun untuk orang-orang yang berpuasa hingga mereka berbuka.

وَتَسْتَغْفرُ لَهُمْ اْلمَلَائِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوْا

Dan para malaikat memohonkan ampun untuk orang-orang yang berpuasa sampai mereka berbuka.” (HR Ahmad)

3️⃣ Setiap hari di bulan Ramadan Allah Ta’ala menghiasi Surga-Nya sambil berfirman: “Hamba-hamba-Ku yang saleh tidak lama lagi dibebaskan dari beban dan gangguan serta akan menuju kepadamu.”

4️⃣ Pada bulan Ramadan setan-setan yang durhaka dibelenggu sehingga mereka tidak leluasa melakukan apa yang biasa mereka lakukan dengan leluasa di bulan lain.

5️⃣ Allah Ta’ala mengampuni umat ini di setiap akhir malam bulan Ramadan.

Ramadan adalah bulan yang barangsiapa berpuasa di dalamnya dengan landasan iman dan mengharap pahala Allah Ta’ala, niscaya Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Barangsiapa melaksanakan tarawih di dalamnya dengan landasan iman dan mengharap pahala Allah Ta’ala, niscaya Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya di masa lalu. Ramadan adalan bulan pintu-pintu Surga dibuka dan pintu-pintu Neraka ditutup.

Dalam ash-Shahihain diriwayatkan sebuah hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Setiap kebaikan anak Adam dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman,Kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan memberikan balasannya. Ia telah meninggalkan syahwat dan makan demi Aku. Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Ketika berbuka, ia bergembira karena dua hal. Pertama, puasanya hari itu telah sempurna. Allah Ta’ala telah mengaruniakan kemampuan kepadanya untuk melaksanakan puasa pada hari itu. Ia telah memakan dan meminum apa yang dihalalkan oleh Allah baginya. Kedua, ia bergembira ketika kelak berjumpa dengan Rabb-nya, karena di sisi Rabb-nya ia kelak memperoleh pahala puasa yang disimpan untuknya.

Bulan Ramadan adalah bulan keberuntungan. Oleh karena itu, raihlah keuntungan bulan ini dengan banyak beribadah: melaksanakan shalat, membaca al-Qur’an, dzikir, memaafkan sesama manusia, dan kebajikan lainnya. Hilangkanlah permusuhan dan kebencian di antara kalian. Sesungguhnya, amal-amal manusia dihadapkan kepada Allah Ta’ala pada hari Senin dan Kamis. Barangsiapa memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, niscaya Dia mengampuninya. Barangsiapa bertobat, niscaya tobatnya diterima. Sementara orang-orang yang memiliki kedengkian ditolak lantaran kedengkian itu, kecuali mereka telah bertobat dan memperbaiki diri.

Hendaklah pada bulan Ramadan kalian banyak melakukan empat hal. Dua hal kalian lakukan untuk meraih rida Allah, dan dua hal lagi merupakan perkara yang justru sangat kalian butuhkan.

Dua hal untuk meraih rida Allah adalah syahadat bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan istigfar. Adapun dua hal yang sangat kalian butuhkan adalah memohon Surga kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada-Nya dijauhkan dari Neraka. Selain itu, bersemangatlah dalam berdoa pada saat berbuka puasa, karena disebutkan dalam sebuah hadis bahwa orang yang berpuasa mempunyai doa yang tidak akan ditolak saat berbuka.

Ketahuilah bahwa puasa disyariatkan semata-mata agar manusia menyandang sifat takwa dan mencegah organ-organ tubuh dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Ia harus meninggalkan segala perbuatan yang diharamkan, seperti curang, menipu, zalim, mengurangi takaran dan timbangan, menghalangi hak orang lain, melepaskan pandangan yang diharamkan, dan mendengarkan lagu-lagu yang diharamkan. Mendengarkan lagu-lagu harus ditinggalkan karena dapat mengurangi pahala puasa. Orang yang berpuasa juga harus meninggalkan semua ucapan yang diharamkan, seperti berdusta, menggunjing, mengadu domba, mencerca, dan memaki. Apabila ada orang yang mencerca atau memaki dirinya, hendaklah ia berkata, “Aku sedang berpuasa.” Janganlah membalas dengan makian serupa. Janganlah menyamakan hari kalian berpuasa dengan hari kalian tidak berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلُ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ للَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta, Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minum.” (HR al-Bukhari)

Biasakan pula anak-anak kalian, baik laki-laki maupun perempuan berpuasa, jika mereka sudah mampu menjalankan puasa, agar mereka terbiasa melakukannya. Para sahabat dahulu membiasakan anak-anak mereka berpuasa sejak kecil, hingga di antara anak-anak itu ada yang menangis kelaparan. Sahabat memberinya mainan agar sang anak bermain dengan mainan itu hingga tiba waktu berbuka. Anak-anak itu mendapatkan sendiri pahala puasa yang mereka kerjakan, sedangkan kedua orang tua atau walinya memperoleh pahala mendidik dan mengarahkan.

Lihatlah hilal (bulan sabit) pada malam ketigapuluh bulan Syakban. Jika kalian dapat melihat hilal, maka berpuasalah. Jika tidak, janganlah kalian berpuasa hingga menggenapkan hitungan bulan Syakban tiga puluh hari. Barangsiapa berpuasa pada hari yang ia ragukan, berarti ia telah bermaksiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa telah melihat hilal, hendaklah ia melaporkannya kepada kadi. Barangsiapa telah mendengar terbitnya hilal melalui televisi, hendaklah ia berpuasa, bila memang televisi itu telah mengumumkan kepastian bulan Ramadan.

Janganlah berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadan, kecuali orang yang terbiasa melakukan puasa sunah pada hari-hari tertentu yang bertepatan dengan sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadan. Orang ini tidak mengapa berpuasa pada hari itu.

Baca juga: KEWAJIBAN PUASA RAMADAN DAN WAKTUNYA

Baca juga: LARANGAN KERAS TIDAK BERPUASA PADA BULAN RAMADAN TANPA UZUR

Baca juga: PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Fikih