SIFAT SALAT NABI – MENGANGKAT KEDUA TANGAN KETIKA BERTAKBIR

SIFAT SALAT NABI – MENGANGKAT KEDUA TANGAN KETIKA BERTAKBIR

Ketika bertakbir orang yang sedang salat mengangkat kedua tangannya. Dalilnya adalah sebagaimana disebutkan oleh as-Sunnah dalam beberapa hadis, seperti hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika memulai salat. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga sejajar dengan kedua pundaknya. Apabila beliau bertakbir untuk rukuk, beliau melakukan hal serupa (yaitu mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya). Apabila beliau mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah’, beliau melakukan hal serupa, kemudian beliau mengucapkan ‘Rabbana walakal hamdu’. Beliau tidak melakukannya apabila bangkit dari sujud.” (HR al-Bukhari, al-Nasa-i, dan al-Baihaqi)

Telah diriwayatkan secara sahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya ketika berdiri dari duduk tasyahud pertama. (HR al-Bukhari)

Itulah empat tempat yang disebutkan oleh as-Sunnah untuk mengangkat kedua tangan, dan tidak perlu mengangkat kedua tangan di selain tempat-tempat tersebut.

Posisi Jari-jemari Ketika Mengangkat Kedua Tangan

Mengangkat kedua tangan adalah dengan membuka jari-jemarinya lurus ke atas (tidak menggenggam) serta merapatkan jari-jemari.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salat, beliau mengangkat kedua tangannya sambil membuka jari-jemarinya lurus ke atas.” (HR Abu Dawud, an-Nasa-i, at-Tirmidzi, ath-Thahawi, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ath-Thayalisi, al-Baihaqi, dan Ahmad)

Dalam lafaz al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah, “Apabila berdiri untuk mengerjakan salat, beliau melakukan hal seperti ini -Ibnu ‘Amir (salah seorang perawi) memberi isyarat dengan kedua tangannya-, tidak merenggangkan jari-jemari dan tidak pula menggenggamnya.”

Sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya ia boleh merenggangkannya.” Namun pendapat yang benar adalah dengan merapatkannya, karena itulah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perempuan adalah sama seperti laki-laki dalam mengangkat kedua tangan. Itu karena mengangkat kedua tangan bersifat umum, yang berlaku bagi laki-laki dan perempuan.

Tanya: Apa dalil yang menunjukkan keumuman hukum tersebut bagi laki-laki dan perempuan?

Jawab: Dalilnya adalah tidak ada dalil yang menunjukkan pengkhususan. Hukum asal adalah bahwa segala sesuatu yang berlaku pada laki-laki berlaku pula pada perempuan, dan segala sesuatu yang berlaku pada perempuan berlaku pula pada laki-laki, kecuali jika ada dalil yang membedakannya. Sedangkan dalam permasalahan mengangkat kedua tangan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa perempuan tidak boleh mengangkat kedua tangannya. Bahkan nashnash itu bersifat umum.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.” (HR al-Bukhari)

Perintah yang tercantum di dalam hadis ini bersifat umum yang berlaku pada laki-laki dan perempuan.

Batas Mengangkat Kedua Tangan

Batas mengangkat kedua tangan berbeda-beda.

1️⃣ Hingga sejajar dengan kedua pundak

Mengangkat kedua tangan adalah dengan mengangkatnya hingga sejajar dengan kedua pundak, sebagaimana hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas. Jadi, pada hadis ini batas akhir mengangkat kedua tangan adalah kedua pundak.

Tanya: Jika seseorang cacat sehingga tidak dapat mengangkat kedua tangannya sampai kedua pundak, apa yang harus ia lakukan?

Jawab: Ia harus mengangkat kedua tangannya sampai batas yang ia mampu. Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian.” (QS at-Taghabun: 16)

Tanya: Jika seseorang cacat sehingga tidak dapat mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, melainkan lebih dari itu, seperti siku-sikunya tidak dapat dibengkokkan, apakah ia tetap mengangkat kedua tangannya?

Jawab: Dia tetap harus mengangkatnya, karena Allah Ta’ala berfirman: “Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian.” (QS at-Taghabun: 16)

Jika ia tidak mampu mengangkat salah satu tangannya, maka ia mengangkat satu tangan yang lain, berdasarkan ayat tersebut. Juga berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau wukuf di Arafah, dimana saat itu tali kekang untanya jatuh, padahal beliau sedang mengangkat kedua tangannya sambil berdoa. Maka beliau mengambil tali kekang itu dengan salah satu tangannya, sedangkan tangan yang lain tetap terangkat sambil berdoa kepada Allah Ta’ala. (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa-i)

2️⃣ Hingga sejajar dengan kedua daun telinga

Orang yang salat boleh juga mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua daun telinganya.

Dari Malik bin Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya…” (HR Muslim, al-Bukhari, Abu Dawud, ad-Darimi, Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan Ahmad)

Dengan demikian, tata cara mengangkat kedua tangan di awal salat termasuk di antara ibadah-ibadah yang diriwayatkan dengan cara yang berbeda-beda.

Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat tentang ibadah yang diriwayatkan dengan cara berbeda-beda, apakah lebih afdal melakukan salah satu cara saja, atau melakukan semua cara di waktu yang berbeda-beda, atau menggabungkan cara-cara tersebut? Yang sahih adalah pendapat kedua, yakni bahwa ibadah yang diriwayatkan dengan cara yang berbeda-beda dilakukan sesekali dengan cara yang satu dan sesekali dengan cara yang lain.

Dalam permasalah yang sedang dibahas ini, mengangkat kedua tangan diriwayatkan sampai sejajar dengan kedua pundak, dan diriwayatkan sampai sejajar dengan kedua daun telinga. Semuanya adalah sunah. Maka yang lebih afdal adalah kamu melakukannya dengan cara-cara tersebut dalam kesempatan yang berbeda-beda, agar kamu melaksanakan sunah dengan kedua cara tersebut dan agar sunah tetap hidup.

Jika kamu menggunakan satu cara dan meninggalkan cara yang lain, maka cara yang lain akan mati. Sunah-sunah itu tidak akan hidup, kecuali diamalkan dalam kesempatan yang berbeda-beda. Jika seseorang melakukan cara-cara tersebut dalam kesempatan yang berbeda-beda, maka hatinya akan selalu menyadari bahwa ia sedang melaksanakan sunah. Berbeda bila ia melakukan satu cara secara terus menerus, dimana ia akan melakukannya seperti sebuah mesin mekanis. Dan itu kita dapat saksikan bersama. Oleh karena itu, orang yang terus menerus mengucapkan doa iftitah “Subahanaka Allahumma wa bihamdika”, kamu dapati bahwa setiap mulai bertakbir ia akan membaca “Subahanaka Allahumma wa bihamdika” tanpa ia sadari. Jika ia membaca doa iftitah bergantian dengan bacaan doa iftitah yang lain dalam kesempatan yang berbeda, maka ia akan membacanya secara sadar.

Dengan melakukan ibadah-ibadah yang diriwayatkan dengan cara yang berbeda-beda kita akan mendapatkan tiga faedah, yaitu mengikuti sunah, menghidupkan sunah, dan  menghadirkan hati. Bisa jadi ia mendapatkan faedah yang keempat, yaitu apabila salah satu cara lebih ringan dari cara yang lain, seperti zikir setelah salat, maka ketika ia sedang ingin segera keluar dari masjid, ia dapat meringkas bacaan zikir dengan membaca tasbih sepuluh kali, hamdalah sepuluh kali, dan takbir sepuluh kali. Dengan demikian ia dapat mengamalkan sunah sekaligus memenuhi kebutuhannya. Tidak masalah seseorang melakukan hal tersebut bila ia memiliki keperluan lain, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang orang yang berhaji:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ

Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (QS al-Baqarah: 198)

Sebagian ulama berusaha menggabung cara mengangkat kedua tangan yang berbeda-beda tersebut. Mereka mengatakan bahwa yang sejajar dengan kedua daun telinga adalah telapak tangan bagian atas, dan yang sejajar dengan kedua pundak adalah telapak tangan bagian bawah. Akan tetapi kami tegaskan bahwa kita tidak perlu menggabung cara-cara tersebut, sebab pada asalnya yang dimaksud dengan telapak tangan adalah seluruh telapak tangan, bukan bagian atasnya dan bukan pula bagian bawahnya. Zahirnya adalah bahwa seseorang bebas memilih, karena cara-cara tersebut sebagiannya hampir sama dengan sebagian yang lain.

Permulaan Mengangkat Kedua Tangan

Hadis-hadis tentang permulaan mengangkat kedua tangan memaparkan cara mengangkat kedua tangan yang berbeda-beda.

1️⃣ Sebelum bertakbir

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk mengerjakan salat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, lalu bertakbir…” (HR Muslim, al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa-i, ad-Daraquthni, dan al-Baihaqi)

2️⃣ Setelah bertakbir

Dari Malik bin Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya…” (HR Muslim, al-Bukhari, Abu Dawud, ad-Darimi, Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan Ahmad)

3️⃣ Ketika bertakbir

Yaitu permulaan takbir berbarengan dengan permulaan mengangkat kedua tangan, dan akhir takbir berbarengan dengan akhir mengangkat kedua tangan.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika memulai salat. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga sejajar dengan kedua pundaknya.” (HR al-Bukhari, an-Nasa-i, dan al-Baihaqi)

Kami tegaskan bahwa kamu bebas memilih, apakah kamu mengangkat kedua tanganmu lalu bertakbir, apakah kamu bertakbir lalu mengangkat kedua tanganmu, atau apakah kamu mengangkat kedua tanganmu bersamaan dengan takbir. Cara manapun yang kamu lakukan, kamu telah mengamalkan sunah.

Hikmah Mengangkat Kedua Tangan

Hikmah mengangkat kedua tangan adalah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan itulah seseorang dapat selamat dari kekacauan pikirannya. Oleh karena itu, ketika Ummu al-mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya, “Mengapa perempuan haid diperintahkan mengkada puasa tetapi tidak diperintahkan mengkada salat?” Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Dahulu haid menimpa kami, lalu kami diperintahkan untuk mengkada puasa dan tidak diperintahkan untuk mengkada salat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha hanya beralasan dengan nash, karena nash adalah tujuan akhir setiap mukmin, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS al-Ahzab: 36)

Seorang mukmin, apabila dikatakan kepadanya, “Ini adalah hukum Allah dan Rasul-Nya,” wajib mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” Meskipun demikian, ia dapat melakukan penelitian agar mendapatkan hikmah dari perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita katakan bahwa hikmah dari mengangkat kedua tangan adalah mengagungkan Allah Azza wa Jalla, sehingga berkumpul pengagungan ucapan dan pengagungan perbuatan dengan penyembahan kepada Allah. Tidak diragukan bahwa, jika makna ucapan “Allahu Akbar” ditaburi dengan benar, maka semua kemewahan dunia akan hilang dari hati seseorang. Hal itu karena Allah Ta‘ala Mahabesar dari segala sesuatu. Dan sekarang ia sedang berdiri (dalam salat) di hadapan Zat yang Mahabesar dari segala sesuatu.

Sebagian ulama memberi hikmah yang lain, yaitu bahwa mengangkat kedua tangan di awal salat mengisyaratkan terangkatnya hijab yang menutupi seorang hamba dari Allah Ta’ala. Biasanya seseorang mengangkat sesuatu dan melakukan sesuatu dengan mengggunakan kedua tangannya.

Sebagian ulama memberi hikmah yang ketiga, yaitu bahwa mengangkat kedua tangan di awal salat termasuk perhiasan salat. Jika seseorang berdiri dan bertakbir tanpa melakukan gerakan apapun, maka salatnya tidak terlihat baik dan sempurna.

Tidak mustahil bahwa semua itu adalah hikmah yang dimaksud.

Baca juga: NIAT ADALAH SALAH SATU SYARAT SAH SALAT

Baca juga: TAKBIR DALAM SALAT

Baca juga: LARANGAN MENDAHULUI IMAM DALAM SALAT BERJAMAAH

Baca juga: DOA BERJALAN KE MASJID UNTUK MENGHADIRI SALAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Fikih