HAKIKAT KEMURTADAN PASCA WAFAT NABI DAN BANTAHAN TERHADAP SYUBHAT RAFIDHAH

HAKIKAT KEMURTADAN PASCA WAFAT NABI DAN BANTAHAN TERHADAP SYUBHAT RAFIDHAH

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa akan didatangkan sejumlah laki-laki dari umat beliau, lalu mereka dibawa ke arah kiri, yaitu menuju jalan penghuni Neraka —wal’iyadzu billah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَصْحَابِي

Sahabat-sahabatku,” yaitu beliau memohon syafaat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mereka. Namun dikatakan kepada beliau:

إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka ada-adakan setelahmu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengucapkan sebagaimana ucapan hamba yang saleh —yaitu Isa putra Maryam— ketika pada Hari Kiamat Allah Ta’ala bertanya kepadanya:

أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Apakah engkau yang mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua sembahan selain Allah?” sebagaimana yang diklaim orang Nasrani bahwa mereka adalah pengikutnya.

Isa berkata,

سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

Mahasuci Engkau, tidak pantas bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku.” (QS al-Ma’idah: 116)

Hal itu karena keilahian bukan hak siapa pun kecuali Allah, Rabb seluruh alam.

Kemudian ia berkata:

إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ ۝ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Jika aku pernah mengatakannya, maka sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahamengetahui perkara-perkara ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku dan Rabb kalian. Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah mereka. Namun ketika Engkau mewafatkanku, Engkau-lah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Mahamenyaksikan segala sesuatu.” (QS al-Ma’idah: 116–117)

Ketika dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hari Kiamat, “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka ada-adakan setelahmu,” beliau akan berkata sebagaimana Isa putra Maryam berkata, “Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah mereka. Namun ketika Engkau mewafatkanku, Engkau-lah yang menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau Mahamenyaksikan atas segala sesuatu.”

Kemudian dikatakan kepada Rasul ‘alaihish-shalatu was-salam, “Sesungguhnya mereka senantiasa murtad, berbalik ke belakang, sejak engkau berpisah dari mereka.”

Maka Nabi ‘alaihis shalatu was salam berkata,

سُحْقًا سُحْقًا

Menjauhlah! Menjauhlah!” atau “Binasalah mereka!”

Ucapan dalam hadis: “Sesungguhnya mereka senantiasa murtad, berbalik ke belakang, sejak engkau berpisah dari mereka,” dijadikan pegangan oleh kelompok Rafidhah yang mengatakan bahwa seluruh sahabat telah murtad dari Islam —wal’iyadzu billah— termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Adapun Ali dan Ahlul Bait radhiyallahu ‘anhum, menurut klaim mereka, tidak murtad.

Tidak diragukan bahwa mereka (Rafidhah) dalam hal ini adalah para pendusta. Keempat khalifah tidak terjadi kemurtadan dari mereka, menurut kesepakatan kaum muslimin. Demikian pula mayoritas sahabat Nabi ‘alaihish-shalatu was-salam; tidak terjadi kemurtadan dari mereka berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Yang ada hanyalah sekelompok orang Arab dusun yang baru saja masuk Islam. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, mereka terguncang, kemudian murtad dan kembali ke belakang, serta menolak membayar zakat. Hingga khalifah yang lurus, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, memerangi mereka. Kebanyakan dari mereka kembali kepada Islam.

Tetapi kaum Rafidhah, karena sangat marah dan bencinya terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berpegang kepada zahir hadis ini. Adapun Ahlus Sunnah wal Jama‘ah mengatakan bahwa hadis ini bersifat umum, tetapi yang dimaksud adalah kelompok tertentu. Betapa banyak lafaz umum yang sebenarnya bermaksud khusus.

Maka ucapannya, “Sahabat-sahabatku,” bukan berarti seluruh sahabat, melainkan mereka yang murtad, kembali ke belakang. Demikianlah yang dikatakan kepada Rasul ‘alaihish-shalatu was-salam: “Sesungguhnya mereka senantiasa murtad, berbalik ke belakang, sejak engkau berpisah dari mereka.”

Telah diketahui bahwa para khalifah yang lurus serta mayoritas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak murtad berdasarkan ijma’. Seandainya mereka murtad, tentu tidak tersisa kepercayaan bagi kita terhadap syariat. Karena itu, mencela para sahabat berarti mencela syariat Allah, mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mencela Allah Rabb semesta alam.

Orang-orang yang mencela para sahabat, celaan mereka itu mencakup empat bahaya dan kemungkaran besar —wal’iyadzu billah— yaitu (1) mencela para sahabat, (2) mencela syariat, (3) mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan (4) mencela Rabb semesta alam, Tabaraka wa Ta’ala. Mereka adalah kaum yang tidak memahami,

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَعْقِلُون

Tuli, bisu, dan buta. Maka mereka tidak mengerti.” (QS al-Baqarah: 171)

Adapun sisi bahwa hal itu merupakan celaan terhadap syariat adalah karena yang menyampaikan syariat kepada kita adalah para sahabat. Jika mereka dianggap murtad, sementara syariat datang melalui jalur mereka, maka syariat tidak dapat diterima. Sebab berita dari orang kafir tidak diterima, bahkan dari orang fasik pun tidak diterima, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا

Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS al-Hujurat: 6)

Adapun sisi bahwa hal itu merupakan celaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa apabila para sahabat Nabi dianggap berada pada tingkatan kekufuran dan kefasikan seperti itu, maka itu berarti mencela Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab seseorang berjalan di atas agama temannya, dan setiap orang akan dicela karena teman-temannya apabila mereka buruk.

Dikatakan “Si fulan tidak ada kebaikannya, karena teman-temannya adalah si fulan, si fulan, dan si fulan dari kalangan orang-orang jahat.” Maka mencela para sahabat berarti mencela orang yang bersahabat dengan mereka, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun sisi bahwa hal itu merupakan celaan terhadap Allah Rabb semesta alam, maka hal itu sangat jelas, yakni bahwa menurut klaim mereka, Allah menjadikan risalah yang paling utama, paling luas, dan paling baik melalui tangan seorang nabi yang para sahabatnya adalah orang-orang yang mereka tuduh telah murtad. Demikian pula, menurut anggapan mereka, Allah menjadikan para sahabat nabi yang merupakan nabi terbaik —shalawatullah wa salamu ‘alaihi— sebagai orang-orang yang kembali murtad setelah beliau wafat.

Karena itu, kami meyakini bahwa tuduhan tersebut adalah kedustaan besar terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan merupakan agresi terhadap Allah, Rasul-Nya, serta syariat Allah. Tidak diragukan bahwa kami menyimpan rasa cinta kepada seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga keluarga beliau yang beriman. Kami memandang bahwa keluarga Nabi yang beriman memiliki dua hak: hak karena iman mereka, dan hak karena kedekatan mereka dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepada kalian upah apa pun kecuali kecintaan kedekatan (kerabat).’” (QS asy-Syura: 23)

Maksudnya, kecuali agar kalian mencintai kerabatku, menurut salah satu tafsir.

Tafsir lain dari firman Allah Ta’alakecuali kecintaan dalam kedekatan (kerabat)” adalah kecuali bahwa kalian mencintaiku karena adanya hubungan kekerabatan antara aku dan kalian.

Bagaimanapun keadaannya, hadis ini bukan sama sekali peluang bagi Rafidhah untuk mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab hadis ini hanya berlaku bagi mereka yang murtad. Adapun mereka yang tetap di atas Islam dan kaum muslimin telah berijma’ atas hidayah dan keilmuan mereka, maka mereka tidak termasuk dalam hadis ini.

Dikatakan bahwa yang mengkhususkan hadis ini adalah ijma’ kaum muslimin bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak murtad. Yang murtad hanyalah suatu kelompok yang diperangi oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan kebanyakan dari mereka kembali kepada Islam.

Allah-lah yang memberi taufik.

Baca juga: BEBERAPA UCAPAN YANG MERUSAK TAUHID

Baca juga: KEUTAMAAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Baca juga: BEBERAPA KEUTAMAAN PARA SAHABAT NABI

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Riyadhush Shalihin