◼️ Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Yang benar, rintihan terbagi menjadi dua bagian:
Pertama: rintihan berupa keluhan. Maka ini dibenci.
Kedua: rintihan untuk mendapatkan kenyamanan dan keringanan. Maka ini tidak mengapa. Allah lebih mengetahui.”
◼️ Boleh bagi orang sakit untuk menyebutkan apa yang ia rasakan, seperti mengatakan, “Aku sedang kesakitan,” atau “Aku demam,” atau “Kepalaku sakit,” atau ungkapan semisalnya, dengan syarat hal itu tidak dilakukan dalam rangka mengeluh dan menunjukkan ketidaksenangan.
Dalilnya adalah ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَارَأْسَاهُ
“Aduh, kepalaku.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 7217)
Demikian pula ucapan beliau yang telah disebutkan sebelumnya kepada Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika ia berkata, “Sesungguhnya engkau benar-benar menderita demam yang sangat berat.”
Beliau menjawab,
أَجَلْ، كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ
“Benar, seperti demam yang dialami oleh dua orang di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571)
◼️ Jika ia telah putus harapan dari hidupnya (yakni diduga kuat akan meninggal), maka hendaklah ia berdoa kepada Allah agar Allah menolongnya dalam menghadapi sakaratul maut, dan hendaklah ia berdoa kepada Allah dengan memohon ampunan dan rahmat serta agar Allah mempertemukannya dengan orang-orang saleh.
Telah sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sakit yang menyebabkan wafatnya mengusap wajahnya dengan air seraya mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَسَكَرَاتِ الْمَوْتِ
“Ya Allah, bantulah aku menghadapi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut.”
Dalam ash-Shahihain, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau bersandar kepadaku, mengucapkan,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى
“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan ar-Rafiq al-A’la (Teman Yang Mahatinggi).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4440 dan 5674; Muslim no. 2444; dan at-Tirmidzi no. 3496)
◼️ Hendaklah ia menghadirkan dalam pikirannya bahwa ini adalah waktu-waktu terakhirnya di dunia, sehingga ia berusaha menutup hidupnya dengan kebaikan.
Apabila ia menghadapi sakaratul maut, hendaklah ia memperbanyak mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah,” agar kalimat itu menjadi ucapan terakhirnya.
◼️ Hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Telah disebutkan sebelumnya ucapan Imam an-Nawawi rahimahullah tentang dianjurkannya bagi orang sakit untuk memperbanyak dzikir dan doa.
Aku berkata: Di antara yang mendukung hal tersebut adalah hadis Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa keduanya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، صَدَّقَهُ رَبُّهُ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَأَنَا أَكْبَرُ
“Barang siapa mengucapkan, ‘Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Mahabesar,’ maka Rabb-nya membenarkannya seraya berfirman: ‘Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Aku dan Aku Mahabesar.’”
Apabila ia mengucapkan,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata,” maka Allah berfirman:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Aku semata.”
Apabila ia mengucapkan,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya,” maka Allah berfirman:
صَدَقَ عَبْدِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَحْدِي لَا شَرِيكَ لِي
“Hamba-Ku benar. Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Aku semata, tidak ada sekutu bagi-Ku.”
Apabila ia mengucapkan,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian,” maka Allah berfirman:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا لِيَ الْمُلْكُ وَلِيَ الْحَمْدُ
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Aku. Milik-Kulah kerajaan dan milik-Kulah segala pujian.”
Apabila ia mengucapkan,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,” maka Allah berfirman:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِي
“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Aku, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan-Ku.”
Beliau bersabda,
مَنْ قَالَهَا فِي مَرَضِهِ ثُمَّ مَاتَ لَمْ تَطْعَمْهُ النَّارُ
“Barang siapa mengucapkannya ketika sakitnya, lalu ia meninggal, niscaya Neraka tidak akan memakannya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2430 dan ia menilainya hasan serta Ibnu Majah no. 3794. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib)
Baca juga: ADAB ORANG SAKIT SESUAI AL-QUR’AN DAN SUNAH
Baca juga: ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT
Baca juga: ADAB ADZAN
Baca juga: URGENSI DAN PEMBAGIAN TAUHID
Baca juga: KEUTAMAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIHAPUS KARENANYA
(Syekh Abu Abdurrahman Adil bin Yusuf al-Azazy)

