TAKDIR DAN HIKMAH DI BALIKNYA

TAKDIR DAN HIKMAH DI BALIKNYA

1️⃣9️⃣Takdir tidak mengandung keburukan. Keburukan hanya terdapat pada sesuatu yang ditakdirkan.

Penjelasannya adalah bahwa takdir, jika ditinjau dari perbuatan Allah, seluruhnya merupakan kebaikan. Hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Artinya, keburukan tidak disandarkan kepada Allah. Maka hakikat ketetapan Allah Ta’ala tidak mengandung keburukan sama sekali, karena ia bersumber dari rahmat dan hikmah. Sebab, keburukan yang murni tidak mungkin terjadi kecuali dari pihak yang jahat, sedangkan Allah Ta’ala Mahabaik dan Mahakekal.

Kalau begitu, bagaimana kita beriman kepada takdir —yang baik maupun yang buruk?

Jawabannya adalah dengan mengatakan bahwa kebaikan dan keburukan terdapat pada hal-hal yang terjadi dan pada makhluk-makhluk, sedangkan hakikat perbuatan Allah Ta’ala —yaitu takdir— tidak mengandung keburukan sama sekali.

Contohnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS ar-Rum: 41)

Ayat ini menjelaskan sebab terjadinya kerusakan di bumi.

Adapun hikmahnya, Allah berfirman:

لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Agar Dia merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS ar-Rum: 41)

Maka musibah-musibah seperti kekeringan bumi, penyakit, atau kemiskinan —meskipun tampak sebagai keburukan— namun akibat akhirnya menuju kepada kebaikan. Dengan demikian, keburukan tidak dinisbatkan kepada Rabb, melainkan kepada hal-hal yang terjadi dan makhluk-makhluk. Itu pun keburukan dari satu sisi dan kebaikan dari sisi yang lain. Ia buruk jika dilihat dari penderitaan yang ditimbulkannya, tetapi baik karena menghasilkan akibat akhir yang terpuji, sebagaimana firman-Nya: “Agar Dia merasakan kepada mereka sebagian dari apa yang telah mereka kerjakan, supaya mereka kembali.” (QS ar-Rum: 41)

Termasuk hikmah Allah adalah adanya kebaikan dan keburukan pada makhluk. Sebab, jika tidak ada keburukan, niscaya kebaikan tidak akan dikenal, sebagaimana dikatakan, “Dengan lawannya, segala sesuatu menjadi jelas.”

Seandainya seluruh manusia berada dalam kebaikan, tentu kita tidak akan mengenal keburukan. Dan seandainya mereka seluruhnya berada dalam keburukan, tentu kita tidak akan mengenal kebaikan.

Demikian pula, keindahan tidak akan dikenal kecuali dengan adanya sesuatu yang buruk. Seandainya segala sesuatu seluruhnya indah, niscaya kita tidak akan mengenal keburukan.

Apabila ada yang bertanya, “Mengapa Allah menetapkan adanya keburukan?”

Jawabannya:

Pertama, agar kebaikan dapat dikenal dengannya.

Kedua, agar manusia berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ketiga, agar mereka bertobat kepada Allah.

Betapa banyak manusia yang tidak terdorong untuk menjaga wirid —baik siang maupun malam— kecuali karena rasa takut terhadap keburukan makhluk. Maka kamu dapati ia menjaga wirid-wirid agar wirid tersebut melindunginya dari berbagai keburukan. Dengan demikian, keburukan-keburukan yang ada pada makhluk itu justru mendorong manusia kepada zikir, wirid, dan semisalnya. Maka, pada hakikatnya ia adalah kebaikan.

Apabila kamu mengetahui bahwa perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla —yang seluruhnya adalah perbuatan-Nya— semuanya merupakan kebaikan, niscaya kamu akan merasa tenang terhadap apa yang Allah ‘Azza wa Jalla takdirkan dan akan berserah diri sepenuhnya. Maka kamu pun akan menjadi sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS at-Taghabun: 11)

‘Alqamah berkata, “Yaitu seseorang yang tertimpa musibah, lalu ia mengetahui bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah, maka ia pun ridha dan berserah diri.”

Manusia apabila benar-benar ridha terhadap takdir, niscaya ia akan terbebas dari kesedihan dan kegelisahan. Hal ini ditunjukkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا، فَإِنَّ (لَوْ) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, maka janganlah engkau berkata, ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu,’ karena kata “seandainya” membuka pintu perbuatan setan.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam hal-hal yang bermanfaat. Kemudian apabila keadaan tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan, hendaklah ia berkata, “Ini adalah takdir Allah. Apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Yang penting adalah bahwa keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah Ta’ala, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

Dan keburukan tidak dinisbatkan kepada-Mu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Keburukan itu dinisbatkan kepada makhluk-makhluk.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb waktu subuh dari keburukan apa yang Dia ciptakan.”

Maka keburukan dinisbatkan kepada makhluk-makhluk.

Di sini ada sebuah persoalan. Apakah dalam penetapan dan penciptaan makhluk-makhluk yang jahat terdapat hikmah?

Jawabannya: Ya, terdapat hikmah yang sangat besar. Seandainya tidak ada makhluk-makhluk yang jahat, niscaya kita tidak akan mengetahui nilai makhluk-makhluk yang baik.

Serigala, misalnya, bertubuh kecil jika dibandingkan dengan unta, namun serigala dapat memakan manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Yusuf melalui lisan Ya’qub ‘alaihissalam:

فَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ

Maka aku khawatir serigala akan memakannya.” (QS Yusuf: 13)

Telah diketahui bahwa unta tidak memakan manusia. Bahkan unta yang kuat dan besar tubuhnya tunduk kepada seorang anak kecil. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ ۝ وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ

Tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka hewan-hewan ternak dari apa yang Kami kerjakan dengan tangan Kami, lalu mereka menjadi pemiliknya. Dan Kami tundukkan hewan-hewan itu bagi mereka. Sebagian darinya mereka tunggangi dan sebagian darinya mereka makan.” (QS Yusuf: 71-72)

Maka perhatikanlah hikmah yang sangat mendalam. Allah Ta’ala menciptakan unta-unta dengan tubuh yang besar, dan Allah memerintahkan kita untuk merenunginya dengan firman-Nya:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” (QS al-Ghasiyah: 17)

Dia menciptakan serigala-serigala dan yang semisalnya —yang menyakiti anak-anak Adam— agar manusia mengetahui dengan itu kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla dan bahwa seluruh urusan berada di tangan-Nya.

Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA TAKDIR

Baca juga: JANGAN SALAH MEMAHAMI TAKDIR

Baca juga: PERINTAH MENGINGAT AYAT-AYAT ALLAH DAN SUNAH DI RUMAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Arba'in an-Nawawiyyah