Allah Ta’ala menurunkan rasa kantuk kepada sekelompok kaum mukminin yang bersedih atas apa yang menimpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saudara-saudara mereka pada perang Uhud, sehingga mereka dapat tertidur sejenak. Ketika mereka bangun, Allah telah menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka, mengembalikan semangat mereka, dan mereka pun melanjutkan perjuangan dalam membela Nabi mereka.
Abu Thalhah al-Anshari termasuk di antara mereka yang mendapat rasa kantuk tersebut hingga pedangnya berulang kali terjatuh dari tangannya dan ia kembali mengambilnya. Berkenaan dengan hal ini, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:
“Kemudian setelah kalian berdukacita, Allah menurunkan kepada kalian keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kalian, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’ Katakanlah, ‘Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Mahamengetahui isi hati.” (QS Ali Imran: 154)
Adapun orang-orang munafik, baik yang menarik diri bersama Ibnu Salul maupun yang terus berjalan bersama kaum mukminin, Allah berfirman tentang mereka dalam ayat yang sama:
“…sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’” (QS Ali Imran: 154)
Baca sebelumnya: TURUNNYA JIBRIL DAN MIKAIL DI PERANG UHUD
Baca sesudahnya: JANJI DI MAKKAH, TERPENUHI DI UHUD: KISAH UBAY BIN KHALAF
(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

