AKHLAK, ADAB, DAN RUKUN ISLAM

AKHLAK, ADAB, DAN RUKUN ISLAM

Hadis ini mengandung banyak faedah. Seandainya seseorang ingin menghimpun seluruh faedah yang dapat disimpulkan darinya, baik dari sisi lafaz (manthuq) maupun makna yang dipahami (mafhum), niscaya hal itu memerlukan satu atau beberapa kitab tersendiri. Namun kami akan memberi isyarat singkat kepada sebagian faedahnya, dengan izin Allah Ta’ala, di antaranya sebagai berikut:

1️⃣ Penjelasan tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat mulia, yaitu beliau duduk bersama para sahabatnya dan mereka pun duduk bersama beliau. Beliau tidak menyendiri dan tidak memisahkan diri di hadapan mereka. Bahkan, seorang budak perempuan dapat memegang tangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu membawanya ke mana pun ia kehendaki, dan beliau memenuhi kebutuhannya. Ini termasuk bentuk tawaduk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Diriwayatkan oleh al-Hakim)

Ketahuilah, setiap kali kamu bertawaduk karena Allah, niscaya kamu akan ditambah kemuliaan, karena siapa yang bertawaduk karena Allah, Allah ‘Azza wa Jalla akan mengangkat derajatnya.

2️⃣ Bolehnya murid-murid duduk di hadapan syekh mereka atau orang yang lebih unggul dari mereka, namun hal ini dengan syarat, yaitu tidak menyia-nyiakan waktu syekh dan tidak mengganggu orang yang lebih unggul darinya dalam ilmu.

Sebagian orang mendatangi seseorang yang menjaga waktunya dan memanfaatkannya untuk ilmu, lalu ia duduk di sisinya dan memperpanjang pembicaraan. Padahal orang yang menjaga waktunya itu merasa tidak nyaman, dan memberi isyarat —misalnya dengan mempersingkat waktu malam atau hal-hal semisalnya— agar pembicaraan diakhiri. Namun orang yang lain, karena besarnya rasa cinta dan keinginannya untuk terus berbincang, tetap tinggal dan melanjutkan pembicaraan.

3️⃣ Bahwa para malaikat ‘alaihimussalam dapat menampakkan diri dalam bentuk selain bentuk aslinya, karena Jibril ‘alaihimussalam datang dalam rupa seorang laki-laki, sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Jika ada yang bertanya, “Apakah hal ini kembali kepada mereka (para malaikat), atau kepada Allah ‘Azza wa Jalla?”

Maka jawabannya, “Hal ini kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dengan makna bahwa satu malaikat tidak mampu menampakkan diri dengan rupa selain rupanya kecuali dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.”

4️⃣ Adab bersama guru, sebagaimana yang dilakukan Jibril ‘alaihissalam, yaitu duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan duduk yang penuh adab, agar pelajaran dapat diambil darinya.

5️⃣ Bolehnya menggunakan tauriyah (ungkapan yang bermakna tidak langsung) dalam ucapan “Wahai Muhammad”. Ungkapan ini adalah ungkapan orang Arab Badui, sehingga dengannya Jibril memberi kesan seolah-olah dirinya seorang Badui. Jika tidak demikian, maka penduduk kota yang berakhlak mulia tidak memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan panggilan seperti ini.

6️⃣ Keutamaan Islam, dan bahwa Islam seharusnya menjadi perkara pertama yang ditanyakan. Oleh karena itu, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus para utusan untuk berdakwah kepada Allah, beliau memerintahkan mereka untuk memulai dakwahnya dengan menyeru kepada syahadat, yaitu bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.

7️⃣ Bahwa Rukun Islam ada lima, dan hal ini dikuatkan oleh hadis ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ

Islam dibangun di atas lima perkara.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan hadis ini akan datang —in sya Allah Ta’ala.

8️⃣ Keutamaan shalat, dan bahwa shalat didahulukan atas amalan-amalan lainnya setelah dua syahadat.

9️⃣ Dorongan untuk menegakkan shalat, melaksanakannya dengan benar dan lurus, serta bahwa shalat merupakan salah satu rukun Islam.

🔟 Bahwa menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah termasuk rukun-rukun Islam.

Baca juga: BOLEH SHALAT TATHAWWU DENGAN DUDUK

Baca juga: LEBIH MAHAL DARI UNTA MERAH: HARGA SEBUAH PETUNJUK

Baca juga: ADAB MENGERJAKAN PUASA YANG WAJIB

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Adab Arba'in an-Nawawiyyah