ADAB MENGERJAKAN PUASA YANG WAJIB

ADAB MENGERJAKAN PUASA YANG WAJIB

Ketahuilah bahwa puasa itu mempunyai banyak sekali adab. Puasa menjadi sempurna dan utuh jika adab-adabnya dilaksanakan.

Adab-adab mengerjakan puasa terbagi menjadi dua: adab mengerjakan puasa yang bersifat wajib yang memang ‘harus’ (wajib) dijaga oleh orang yang berpuasa, dan adab mengerjakan puasa yang bersifat ‘disukai’ (sunah) yang sebaiknya dijaga dan dipelihara oleh orang yang berpuasa.

Di antara adab mengerjakan puasa yang wajib adalah orang yang berpuasa harus benar-benar melaksanakan semua yang diwajibkan oleh Allah, baik berupa ibadah ucapan (qauliyah) maupun ibadah perbuatan (fi’liyah).

Di antara adab mengerjakan puasa yang wajib yang paling penting adalah salat fardu lima waktu yang merupakan rukun Islam yang paling ditekankan sesudah dua kalimat syahadat. Ia wajib menjaganya, melaksanakan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya dan syarat-syaratnya. Ia harus melaksanakannya pada waktunya dengan berjamaah di masjid. Itu semua merupakan bagian dari takwa yang menjadi tujuan ibadah puasa. Mengabaikan salat fardu berarti meniadakan takwa dan membuatnya menerima sanksi dari Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا؛ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ شَيْـًٔا

Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsu sehingga mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, maka mereka akan masuk Surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS Maryam: 59-60)

Di antara orang-orang yang mengerjakan puasa ada yang mengabaikan salat berjamaah, padahal salat berjamaah merupakan suatu kewajiban. Allah Ta’ala telah memerintahkannya dalam Kitab-Nya dengan berfirman:

وَاِذَا كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلٰوةَ فَلْتَقُمْ طَاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوْٓا اَسْلِحَتَهُمْ ۗ فَاِذَا سَجَدُوْا فَلْيَكُوْنُوْا مِنْ وَّرَاۤىِٕكُمْۖ وَلْتَأْتِ طَاۤىِٕفَةٌ اُخْرٰى لَمْ يُصَلُّوْا فَلْيُصَلُّوْا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَاَسْلِحَتَهُمْ

Apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan rakaat), hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh). Dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum salat, lalu hendaklah mereka salat denganmu. Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (QS an-Nisa’: 102)

Allah Ta’ala menyuruh kita untuk mengerjakan salat berjamaah dalam keadaan perang dan ketakutan. Maka dalam keadaan tenang dan aman, perintah ini tentu lebih tegas lagi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki buta berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak punya penuntun yang bisa membawaku ke masjid.”

Beliau memberi keringanan (rukhshah) kepadanya. Ketika orang itu berpaling, beliau memanggilnya dan bertanya,

هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ

Apakali engkau mendengar panggilan (azan) untuk salat?

Ia menjawab, “Ya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَجِبْ

Kalau begitu, penuhi panggilan itu!” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan rukhshah kepadanya untuk meninggalkan salat berjamaah, padahal ia adalah seorang laki-laki buta yang tidak punya penuntun yang bisa membawanya ke masjid.

Orang yang meninggalkan salat jamaah dan mengabaikan yang wajib berarti telah menghalangi dirinya dari mendapatkan kebaikan yang banyak, yaitu dilipatgandakannya kebaikan. Salat berjamaah pahalanya dilipatgandakan. Ini seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Salat berjamaah adalah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, orang yang meninggalkan salat berjamaah telah kehilangan berbagai keuntungan sosial yang mestinya diperoleh oleh kaum muslimin dengan berkumpul dan berjamaah dalam salat, yaitu tertanamnya rasa cinta dan kesatuan, mengajar orang yang bodoh, membantu orang yang membutuhkan dan lain-lain.

Meninggalkan salat berjamaah juga menyebabkan seseorang terancam mendapatkan hukuman dari Allah Ta’ala, serta menjadikan dirinya menyerupai orang munafik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا. وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Salat yang terasa berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Kalau saja mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku ingin menyuruh seseorang agar salat segera didirikan, kemudian kusuruh seseorang untuk mengimami salat bersama orang-orang, lalu aku pergi bersama beberapa orang dengan membawa kayu bakar untuk mendatangi kaum yang tidak menghadiri salat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Barangsiapa ingin bertemu dengan Allah esok hari dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia menjaga salat-salat (wajib) itu, dimana mereka dipanggil untuk menunaikannya. Allah Ta’ala telah mensyariatkan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk. Dan salat lima waktu itu adalah bagian darinya.”

Ia berkata lagi, “Kami memandang bahwa tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah selain orang munafik yang jelas kemunafikannya.” (HR Muslim)

Di antara orang yang berpuasa bahkan ada yang meninggalkan perintah. Ia asyik tidur sehingga tidak melaksanakan salat fardu pada waktunya. Ini merupakan kemungkaran yang paling besar dan pelalaian terhadap salat wajib lima waktu. Sampai-sampai banyak ulama mengatakan, “Barangsiapa menunda salat dari waktunya lalu tidur sehingga tidak mengerjakan salat pada waktunya tanpa uzur syar’i, maka salatnya tidak diterima sekalipun ia mengerjakan salat seratus kali.” Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak sesuai perintah kami, maka amalannya tertolak.” (HR Muslim)

Salat yang dikerjakan sesudah waktunya tidak mengikuti perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga salat itu tertolak dan tidak diterima.

Di antara adab mengerjakan puasa yang wajib yang harus dipegang teguh orang yang berpuasa adalah menjauhi seluruh larangan yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dengan demikian, ia harus meninggalkan perbuatan dan perkataan dusta, yaitu perbuatan dan perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dusta yang paling besar dosanya adalah berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya, seperti menisbatkan sesuatu kepada Allah dan Rasul-Nya tentang penghalalan yang haram atau pengharaman yang halal tanpa didasari ilmu.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ۖوَّلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orangorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS an-Nahl: 116-117)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan selainnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa sengaja berdusta dengan mengatasnamakan aku, maka silakan ia memasang tempat duduknya di Neraka” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan kita agar tidak berbuat dusta.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهدِي إِلَى النَّارِ. وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Sesungguhnya kebohongan menuntun kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan menuntun ke Neraka. Sesungguhnya seseorang terus-menerus berbohong sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Di antara adab mengerjakan puasa yang wajib lainnya adalah menjauhi gibah, yaitu mengatakan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaranya yang tidak ada di hadapannya, apakah yang dikatakan itu berkenaan dengan cacat fisik seperti pincang, buta sebelah mata, buta kedua mata dalam bentuk menyebutkan kekurangan dan mencela; apakah yang dikatakan itu berkenaan dengan perilaku seperti tolol, bodoh dan fasik; apakah yang dikatakan itu sesuai dengan kenyataan atau tidak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang gibah,

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Gibah adalah engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang ia benci.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika yang aku bicarakan ternyata benar?”

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ، فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ. وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ، فَقَدْ بَهَتَّهُ

Jika yang engkau bicarakan benar, maka engkau telah menggibahnya. Jika yang engkau bicarakan tidak benar, maka engkau telah menuduhnya.” (HR Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lain-lain)

Allah Ta’ala juga melarang gibah dalam al-Qur’an serta menyerupakannya dengan bentuk yang sangat buruk, yaitu menyerupakannya dengan seseorang yang rela memakan daging bangkai saudaranya.

Allah Ta’ala berfirman:

اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ

Janganlan sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya.” (QS al-Hujurat: 12)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitahukan bahwa para malam Mi’raj, beliau melewati suatu kaum yang kuku-kukunya terbuat dari tembaga yang digunakan untuk mencakar wajah dan dada mereka. Nabi bertanya, “Siapa mereka, wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang makan daging orang lain dan mencela kehormatan mereka.” (HR Abu Dawud)

Orang yang berpuasa harus menjauhi perbuatan mengadu-domba atau menyebar fitnah (namimah), yaitu mengutip perkataan seseorang kepada orang lain untuk merusak hubungan keduanya. Ini merupakan salah satu dosa besar (kaba’ir).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

Tidak akan masuk Surga orang suka berbuat namimah.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kuburan, lalu berkata,

 إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ. أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ. وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang diazab. Akan tetapi, keduanya tidak diazab karena sesuatu yang besar. Salah satunya diazab karena tidak membersihkan diri dari air kencing, sedangkan yang lainnya suka berjalan kian kemari dengan menyebarkan fitnah dan adu domba (namimah).” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Namimah merusak individu dan masyarakat, memecahbelah kaum muslimin, dan membuat mereka saling bermusuhan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍ

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS al-Qalam: 10-11)

Di antara yang harus dijauhkan oleh orang yang berpuasa adalah menipu dan berbuat curang (al-ghisy) dalam semua muamalahnya, baik berdagang, sewa menyewa, membuat sesuatu, memberi jaminan dan lain-lain, serta dalam hal saling menasehati dan musyawarah. Perbuatan curang merupakan dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari orang yang berbuat curang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Barangsiapa berbuat curang kepada kami, maka ia bukan bagian dari kami.”

Dalam lafal yang lain disebutkan,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا

Barangsiapa berbuat curang, maka ia bukan bagian dari kami.” (HR Muslim)

Perbuatan ghisy adalah menipu, mengabaikan amanah, dan membuang kepercayaan antara sesama manusia. Setiap pendapatan hasil perbuatan ghisy merupakan pendapatan kotor yang hanya menambah jauh dari Allah.

Di antara yang harus dijauhi oleh orang yang berpuasa adalah alat musik dengan segala jenisnya, seperti kecapi, rebab, gitar, biola dan piano. Alat musik adalah haram. Keharamannya bertambah jika diiringi nyanyian dengan suara merdu dan menimbulkan rangsangan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ الْحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍۖ وَّيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

Di antara manusia (ada) yang menggunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS Luqman: 6)

Disebutkan dalam riwayat yang sahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia pernah ditanya tentang ayat ini. Ia menjawab, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain-Nya, yang dimaksud dengan ayat ini adalah nyanyian.”

Disebutkan juga dalam riwayat yang sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Sedangkan Ibnu Katsir menyebutkan riwayat yang sama dari Jabir, Ikrimah, Said bin Jubair dan Mujahid.

al-Hasan berkata, “Ayat ini turun mengenai nyanyian dan berbagai macam seruling (alat musik).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar kita menjauhi alat musik dan menyamakannya dengan zina. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَّ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamar dan alat musik.” (HR al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan kata ‘menghalalkan’ adalah melakukannya seperti melakukan sesuatu yang halal tanpa khawatir sedikitpun. Hal ini benar-benar terjadi di zaman sekarang ini. Ada orang yang menggunakan berbagai alat musik atau mendengarkannya seakan benda itu sesuatu yang halal. Ini merupakan keberhasilan musuh-musuh Islam yang selalu melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin sehingga memalingkan mereka dari berzikir kepada Allah dan hal-hal penting lainnya, baik perkara agama maupun dunia. Akhirnya orang yang mendengarkan alat musik jauh lebih banyak dan lebih sering daripada orang yang mendengarkan bacaan al-Qur’an, hadis dan perkataan ulama yang berisi penjelasan tentang hukum-hukum syariat dan hikmah-hikmahnya.

Maka, waspadailah semua yang dapat membatalkan dan mengurangi nilai puasa. Jagalah baik-baik puasa kalian, jangan sampai ternoda oleh perkataan dan permainan dusta.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta perbuatan jahil, maka Allah tidak berkepentingan kepada orang itu ketika meninggalkan makan dan minumnya (puasanya).” (HR al-Bukhari)

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika engkau berpuasa, maka puasakan pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lidahmu dari berkata dusta dan hal-hal yang haram. Tinggalkanlah perbuatan menyakiti tetangga. Hendaklah kamu tenang dalam menjalankan puasa. Jangan sampai hari ketika engkau puasa sama saja dengan hari ketika engkau tidak puasa.”

Oleh karena itu, perhatikanlah adab berpuasa. Puasa menjadi sempurna dan utuh jika adab-adabnya dilaksanakan.

Baca juga: PERMOHONAN AMPUNAN MALAIKAT BAGI ORANG YANG BERPUASA

Baca juga: TENTANG BAU MULUT ORANG YANG BERPUASA

Baca juga: HUKUM JIMAK DI SIANG RAMADAN BAGI ORANG YANG SEDANG BERPUASA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Adab