SIFAT-SIFAT ALLAH YANG SEMPURNA DAN MAHABAIK

SIFAT-SIFAT ALLAH YANG SEMPURNA DAN MAHABAIK

Di antara faedah hadis ini adalah:

1️⃣ Di antara nama-nama Allah Ta’ala adalah al-Thayyib (Mahabaik), berdasarkan sabda-Nya, “Sesungguhnya Allah Mahabaik.” Hal ini mencakup kebaikan Dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan hukum-hukum-Nya.

Nama-nama-Nya seluruhnya adalah indah (husna). Tidak satu pun nama Allah mengandung kekurangan, baik secara hakikat maupun secara anggapan. Semua nama Allah Ta’ala sama sekali tidak memiliki kekurangan dalam bentuk apa pun. Hal ini karena Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

Milik Allah nama-nama yang indah” (QS al-A’raf: 180)

Kata al-husna adalah bentuk isim tafdhl (kata perbandingan paling), yang padanannya dalam bentuk mudzakkar adalah al-ahsan. Tidak akan engkau dapati pada nama-nama Allah sesuatu pun yang mengandung kemungkinan kekurangan sama sekali. Oleh karena itu, pembahasan tentang sifat-sifat lebih luas daripada pembahasan tentang nama-nama, sebab setiap nama mengandung suatu sifat. Adapun perbuatan-perbuatan-Nya tidak ada batasnya, sebagaimana firman-firman-Nya juga tidak ada batasnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ

Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), lalu ditambah sesudahnya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah” (QS Luqman: 27)

Di antara sifat-sifat Allah adalah datang (al-maji’), mendatangi (al-ityyn), dan menghukum dengan keras (al-bathsy), sebagaimana firman-Nya:

وَجَاءَ رَبُّكَ

Dan datanglah Rabb-mu.” (QS al-Fajr: 22),

dan firman-Nya:

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya hukuman Rabb-mu benar-benar keras.” (QS al-Buruj: 12)

Kita menetapkan sifat-sifat ini bagi Allah Ta’ala sesuai dengan cara yang disebutkan dalam nash, namun kita tidak menamakan Allah dengan nama-nama tersebut. Kita tidak mengatakan bahwa di antara nama-nama Allah adalah Yang Datang, Yang Menahan, atau Yang Menghukum dengan keras. Meskipun demikian, kita boleh mengabarkan hal itu tentang-Nya dan menetapkan sifat-sifat tersebut bagi-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala Mahabaik dalam sifat-sifat-Nya. Seluruh sifat Allah Ta’ala adalah baik, tidak mengandung kekurangan dalam bentuk apa pun. Sebagai contoh: kekuasaan, pendengaran, penglihatan, dan berbicara —semuanya adalah sifat-sifat yang baik yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya.

Sebagian sifat merupakan kesempurnaan pada suatu keadaan, namun menjadi kekurangan pada keadaan yang lain. Sifat-sifat semacam ini tidak boleh dinisbatkan kepada Allah dan juga tidak ditiadakan dari-Nya secara mutlak. Karena itu, sifat-sifat tersebut tidak ditetapkan bagi-Nya secara mutlak dan tidak pula dinafikan dari-Nya secara mutlak, melainkan harus dirinci: boleh pada keadaan yang merupakan kesempurnaan, dan terlarang pada keadaan yang merupakan kekurangan.

Di antaranya adalah makar, tipu daya, dan penyesatan. Sifat-sifat ini menjadi kesempurnaan jika dilakukan sebagai balasan terhadap orang-orang yang memperlakukan pelakunya dengan hal yang sama, karena saat itu menunjukkan bahwa pelakunya mampu menghadapi musuhnya dengan tindakan semisal atau lebih kuat. Namun, sifat-sifat ini menjadi kekurangan pada keadaan selain itu. Karena itu Allah tidak menyebutkannya sebagai sifat bagi-Nya secara mutlak, tetapi menyebutkannya dalam konteks berhadapan dengan orang-orang yang memperlakukan-Nya dan para rasul-Nya dengan hal yang sama, seperti firman-Nya Ta’ala:

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Mereka membuat makar, dan Allah pun membalas makar, dan Allah sebaik-baik pembalas makar.” (QS al-Anfal: 30)

dan

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا ۝ وَأَكِيدُ كَيْدًا

Sesungguhnya mereka melakukan tipu daya, dan Aku pun melakukan tipu daya.” (QS ath-Thariq: 15–16)

Adapun khianat, maka Allah tidak disifati dengannya, karena ia merupakan kekurangan dalam segala keadaan. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala tidak disifati dengan khianat. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُم

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri,” (QS al-Baqarah: 9)

dan firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah membalas tipu daya mereka.” (QS an-Nisa’: 142)

Allah menetapkan sifat membalas tipu daya (khida’) bagi diri-Nya, karena hal itu menunjukkan kekuatan. Namun dalam perkara khianat, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنْ يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ

Jika mereka bermaksud mengkhianatimu, maka sungguh mereka telah mengkhianati Allah sebelumnya, lalu Allah memberi kekuasaan kepadamu atas mereka.” (QS al-Anfal: 71)

Allah tidak berfirman: “maka sungguh mereka telah mengkhianati Allah sebelumnya, lalu Allah mengkhianati mereka”, karena khianat adalah tipu daya pada posisi amanah, dan ia merupakan sifat tercela secara mutlak. Dengan demikian diketahui bahwa ungkapan “Allah mengkhianati orang yang berkhianat” adalah ucapan yang mungkar dan keji yang wajib dicegah, karena ia merupakan sifat tercela yang tidak boleh disandarkan kepada Allah.

Dengan demikian, seluruh sifat Allah Ta’ala adalah baik. Allah Ta’ala telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

Milik Allah sifat yang paling tinggi.” (QS an-Naḥl: 60), yaitu sifat yang paling sempurna dari segala sisi.

Demikian pula Dia Mahabaik dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Semua perbuatan Allah Ta’ala adalah baik. Dia tidak melakukan kecuali kebaikan.

Telah dijelaskan sebelumnya jawaban tentang firman-Nya terkait takdir: “yang baik dan yang buruk.” Maka perbuatan-perbuatan-Nya seluruhnya adalah kebaikan, dan hukum-hukum-Nya pun semuanya mengandung kemaslahatan bagi para hamba, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat mereka. Oleh karena itu, hukum-hukum tersebut adalah baik dan layak untuk setiap zaman, tempat, dan keadaan.

Baca juga: SIFAT ORANG MUNAFIK

Baca juga: TAUHID ASMA DAN SIFAT

Baca juga: LARANGAN MENGOLOK-OLOK

Baca juga: SIFAT SHALAT NABI – DZIKIR-DZIKIR SAAT RUKUK

Baca juga: MEREALISASIKAN TAUHID MENYEBABKAN MASUK SURGA TANPA HISAB

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Arba'in an-Nawawiyyah