Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak. Tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”
Doa ini merupakan doa yang sangat mencakup berbagai makna. Di dalamnya, pertama-tama terdapat pengakuan seseorang bahwa ia telah menzalimi dirinya sendiri. Tidak diragukan lagi bahwa kita telah banyak menzalimi diri kita dari berbagai sisi: dalam hak Allah, dalam hak sesama manusia, bahkan dalam hak kerabat maupun orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Kezaliman itu sangat banyak.
Ucapan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ajarkanlah kepadaku suatu doa yang akan aku panjatkan dalam shalatku,” menunjukkan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum sangat bersemangat mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dalam doa yang mereka panjatkan kepada Allah.
Tidak diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dianugerahi jawami’ul kalim, yaitu ucapan-ucapan yang singkat namun mengandung makna yang sangat luas. Karena itulah Abu Bakar meminta kepada beliau suatu doa yang dapat dibacanya dalam shalat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak.”
Inilah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak.”
Ia mengucapkannya atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa agungnya bimbingan ini. Hanya kepada Allah tempat mengadu. Dosa-dosa itu banyak, dan kezaliman pun banyak.
Kemudian beliau memuji Allah Ta’ala dengan mengakui bahwa tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Allah, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam sifat orang-orang yang bertakwa:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali ‘Imran: 135)
Tidak seorang pun mampu mengampuni satu dosa pun bagimu selama-lamanya, betapapun dekat kedudukannya di sisi Allah. Sesungguhnya tidak seorang pun dapat mengampuni dosamu selain Allah.
Kezaliman terhadap diri sendiri terjadi melalui salah satu dari dua perkara:
1. Meninggalkan kewajiban.
2. Melakukan yang diharamkan.
Apabila seseorang meninggalkan kewajiban yang harus ia laksanakan, maka sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri. Demikian pula, apabila ia melakukan sesuatu yang diharamkan baginya, maka sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri.
Jiwa merupakan amanah yang dititipkan kepadamu. Engkau wajib menjaganya dengan sebaik-baiknya, memilihkan baginya segala sesuatu yang membawa kebaikan, serta menjauhkan darinya keburukan dan berbagai kerusakan. Oleh karena itu, apabila engkau berbuat dosa dengan meninggalkan suatu kewajiban atau melakukan sesuatu yang diharamkan, maka itu merupakan suatu kezaliman terhadap dirimu sendiri.
Sabda beliau,
ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا
“Aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
ظُلْمًا كَبِيرًا
“…dengan kezaliman yang besar.”
Menurut penggunaan bahasa, kata (كَثِيرًا) “banyak” berkaitan dengan jumlah atau kuantitas, sedangkan kata (كَبِيرًا) “besar” berkaitan dengan kadar atau tingkat besarnya suatu perbuatan.
Sebagai contoh, zina termasuk dosa besar, sehingga ia merupakan dosa yang besar. Adapun memandang kepada sesuatu yang haram merupakan sarana yang mengantarkan kepada zina, sehingga tingkat dosanya berada di bawah zina. Oleh karena itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mata berzina, telinga berzina, tangan berzina, dan kaki berzina, beliau bersabda,
وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ
“Dan kemaluan membenarkan semuanya itu atau mendustakannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)
Intinya, seseorang berbuat dosa dengan salah satu dari dua cara: melakukan dosa besar atau melakukan banyak dosa kecil. Karena itu engkau mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
“Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?” (QS Ali ‘Imran: 135)
Tidak seorang pun mampu mengampuni dosamu. Seandainya seluruh manusia berkumpul untuk mengampuni satu dosa yang telah engkau lakukan, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Tidak ada yang mengampuni dosa selain Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, tidak boleh bagimu memohon ampun kepada manusia atas dosa-dosa tersebut. Akan tetapi, hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
“(Juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?” (QS Ali ‘Imran: 135)
Sabda beliau,
فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ
“Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu.”
Maksudnya, maafkanlah dosa-dosaku dan tutupilah dosa-dosa itu dariku.
Ungkapan (مِنْ عِنْدِكَ) “dari sisi-Mu” disandarkan kepada Allah, karena apabila ampunan itu berasal dari sisi Allah, maka ampunan tersebut lebih sempurna, lebih bermanfaat, dan lebih agung. Sebab, Dia Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Mahamurah di antara semua yang pemurah dan Yang Mahamulia di antara semua yang mulia. Oleh karena itu, ampunan yang berasal dari-Nya adalah ampunan yang paling agung.
Sabda beliau:
وَارْحَمْنِي
“Rahmatilah aku.”
Maksudnya, limpahkanlah rahmat kepadaku dari sisi-Mu.
Ampunan (المغفرة) berarti menghapus dan menutupi dosa-dosa, sedangkan rahmat (الرحمة) berarti memberikan taufik untuk melakukan berbagai ketaatan.
Sabda beliau,
إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” merupakan pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla bahwa hanya Dia semata Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.
Dalam hadis ini, doa ditutup dengan dua nama Allah, yaitu al-Ghafur (Yang Mahapengampun) dan ar-Rahim (Yang Mahapenyayang) Hal ini termasuk bentuk bertawassul dengan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala agar doa dikabulkan.
Baca sebelumnya: KEUTAMAAN ABU BAKAR DAN KEDUDUKAN DOA YANG DIAJARKAN RASULULLAH
Baca juga: KEUTAMAAN ISTIGHFAR
Baca juga: KEZALIMAN DAN JENIS-JENISNYA
Baca juga: AMALAN-AMALAN PENGHAPUS DOSA
Baca juga: MENGAPA SYIRIK DISEBUT KEZALIMAN YANG BESAR?
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

