Allah Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS al-Ma’idah: 2)
Allah Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS al-‘Ashr: 1–3)
Imam asy-Syafi‘i rahimahullah berkata —dengan makna ucapannya— bahwa manusia atau kebanyakan mereka berada dalam kelalaian dari mentadabburi surah ini.
PENJELASAN
Penulis rahimahullah Ta‘ala berkata, “Bab ‘Tolong-menolong dalam Kebajikan dan Ketakwaan.’”
Tolong-menolong (at-ta’awun) bermakna saling membantu, yaitu manusia saling menolong satu sama lain dalam kebajikan dan ketakwaan.
Adapun kebajikan (al-birr) adalah melakukan kebaikan, sedangkan ketakwaan (at-taqwa) adalah menjauhi keburukan. Hal itu karena manusia beramal dengan dua cara: ada yang mengandung kebaikan dan ada yang mengandung keburukan.
Maka terhadap kebaikan, bentuk tolong-menolongnya adalah membantu saudaramu melakukan kebaikan tersebut dan memudahkan urusannya, baik yang berkaitan dengan dirimu maupun yang berkaitan dengan orang lain. Adapun terhadap keburukan, bentuk tolong-menolongnya adalah memperingatkan darinya, mencegahnya semampu mungkin, serta menasihati orang yang hendak melakukannya agar meninggalkannya, dan semisalnya.
Jadi, kebajikan adalah melakukan kebaikan, dan tolong-menolong di dalamnya berarti saling membantu dan memudahkan pelaksanaannya bagi manusia. Sedangkan ketakwaan adalah menjauhi keburukan, dan tolong-menolong di dalamnya berarti menghalangi manusia dari perbuatan buruk dan memperingatkan mereka darinya, agar umat ini menjadi satu umat yang utuh.
Perintah pada firman-Nya “dan tolong-menolonglah kalian” menunjukkan perintah kewajiban pada perkara yang wajib dan perintah anjuran pada perkara yang dianjurkan.
Demikian pula dalam hal ketakwaan. Perintah tersebut bermakna perintah kewajiban pada perkara yang haram dan perintah anjuran pada perkara yang makruh.
Adapun dalil kedua tentang tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan adalah apa yang disebutkan oleh penulis rahimahullah dari rangkaian Surah al-‘Ashr.
Allah Ta’ala berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Allah Ta’ala bersumpah dengan masa, yaitu waktu. Manusia di dalamnya ada yang mengisinya dengan kebaikan dan ada yang mengisinya dengan keburukan. Maka Allah bersumpah dengan masa karena kesesuaian antara yang dijadikan sumpah dengan isi sumpah, yakni perbuatan-perbuatan hamba.
Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” Kata manusia bersifat umum, mencakup setiap manusia: mukmin dan kafir, orang adil dan fasik, laki-laki dan perempuan. Seluruh manusia berada dalam kerugian —merugi dalam seluruh amalnya— lelah di dunia dan tidak memperoleh manfaat di akhirat, kecuali orang-orang yang menghimpun empat sifat ini: beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Mereka memperbaiki diri dengan iman dan amal saleh, serta memperbaiki orang lain dengan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Adapun iman, yaitu beriman kepada segala sesuatu yang wajib diimani, berupa apa yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَكُتُبِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruknya.” (HR Muslim)
Itulah enam rukun iman.
Adapun amal saleh, maka ia adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah. Suatu amal tidaklah menjadi saleh kecuali dengan dua syarat: ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (mutaba‘ah).
Ikhlas karena Allah berarti kamu tidak meniatkan amalmu untuk pamer (riya) kepada manusia, dan tidak menghendaki kecuali wajah Allah dan negeri akhirat.
Adapun mutaba‘ah, yaitu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara tidak melakukan bid‘ah, karena bid‘ah, meskipun seseorang melakukannya dengan ikhlas, tetap tertolak, berdasarkan sabda beliau,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (Muttafaq ‘alaih)
Demikian pula ibadah yang secara lahir mengikuti tuntunan, namun terdapat riya, maka tetap tertolak, berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam hadis qudsi:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ. مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR Muslim)
Adapun firman-Nya “dan saling menasihati dalam kebenaran”, maksudnya sebagian mereka menasihati sebagian yang lain dengan kebenaran, yaitu apa yang dibawa oleh para rasul.
Firman-Nya “dan saling menasihati dalam kesabaran”, karena sesungguhnya jiwa membutuhkan kesabaran untuk melaksanakan ketaatan, meninggalkan yang haram, serta menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.
Imam asy-Syafi‘i rahimahullah berkata, “Seandainya Allah tidak menurunkan kepada hamba-hamba-Nya satu surah pun selain surah ini, niscaya surah ini telah mencukupi mereka,” karena surah ini mencakup seluruh kebaikan dan mencegah dari segala keburukan.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahadekat.
Baca juga: MENUNJUKKAN DAN MENYERUKAN KEBAIKAN
Baca juga: JANGAN MENOLAK KEBENARAN
Baca juga: PAHALA BAGI ORANG YANG MENGAJAK KEPADA PETUNJUK
Baca juga: MAKNA ‘MUHAMMAD RASULULLAH’
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

