PERDAGANGAN YANG MENYELAMATKAN DARI AZAB ALLAH

PERDAGANGAN YANG MENYELAMATKAN DARI AZAB ALLAH

Segala puji bagi Allah, Raja yang disembah, yang melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan kemurahan dan kedermawanan.

Kami bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, yang telah meliputi seluruh alam dengan kebaikan dan karunia-Nya. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang mengajak menuju negeri kenikmatan dan keabadian.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau yang menegakkan hak-hak para hamba dan hak Allah Yang disembah, serta semoga Allah melimpahkan salam dengan sebenar-benarnya.

Amma ba’du.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan bersegeralah menuju suatu perdagangan yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih. Perdagangan yang barang siapa melakukannya, maka ia akan memperoleh keuntungan, dan barang siapa berpaling darinya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi. Perdagangan yang dengannya seorang hamba akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Perdagangan yang dengannya hati menjadi tenteram, badan menjadi nyaman, dan kehidupan menjadi baik.

Allah telah menunjukkan kepada kita perdagangan itu dan mendorong kita kepadanya dengan dorongan yang sangat besar. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih?” (QS ash-Shaff: 10)

Rabb kita menawarkan perdagangan itu kepada kita dengan cara yang membangkitkan keinginan dan mendorong kita untuk meraihnya. Kemudian Dia menjelaskannya kepada kita dengan firman-Nya:

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

Yaitu kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS ash-Shaff: 11)

Beriman kepada Allah adalah beriman bahwa Dia adalah Yang Mahaesa, Mahatunggal, yang tidak memiliki sekutu dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, nama-nama-Nya, maupun sifat-sifat-Nya. Engkau beriman bahwa Dia adalah Yang Mahapencipta, Yang Mahapemberi rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, dan Yang Mengatur seluruh urusan. Engkau juga beriman bahwa Dia adalah satu-satunya sembahan yang benar, dan tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia.

Ibadah dibangun di atas kecintaan yang sempurna dan pengagungan yang sempurna. Maka engkau mencintai Rabb karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan nikmat-nikmat-Nya yang umum serta meliputi segala sesuatu. Engkau mengagungkan-Nya karena sifat-sifat keagungan dan kebesaran yang dimiliki-Nya. Dengan demikian, engkau beribadah kepada-Nya dengan mengharapkan karunia-Nya dan takut terhadap azab-Nya.

Adapun berhala-berhala yang disembah selain Allah, atau yang diagungkan sebagaimana mengagungkan Allah, atau yang ketaatannya didahulukan daripada ketaatan kepada Allah, maka keadaannya sebagaimana yang Allah Ta’ala kisahkan dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۖ وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّاصِرِينَ

Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya yang kalian jadikan sebagai berhala-berhala selain Allah hanyalah untuk menumbuhkan rasa kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia. Kemudian pada Hari Kiamat sebagian kalian akan mengingkari sebagian yang lain, dan sebagian kalian akan melaknat sebagian yang lain. Tempat kembali kalian adalah Neraka, dan tidak ada seorang penolong pun bagi kalian.’” (QS al-’Ankabut: 25)

Setiap orang yang menyembah batu, pohon, makhluk yang hidup, orang yang telah mati, nabi, ataupun malaikat, maka demikianlah keadaannya. Hanya saja, apabila yang disembah adalah seorang mukmin yang termasuk orang-orang yang difirmankan Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا الْحُسْنَىٰ أُولَٰئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ ۝ لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنفُسُهُمْ خَالِدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari Neraka. Mereka tidak mendengar sedikit pun suara nyalanya, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diinginkan oleh jiwa mereka.” (QS al-Anbiya’: 101–102)

Termasuk beriman kepada Allah adalah beriman kepada nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Adapun beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beriman bahwa beliau adalah utusan Rabb semesta alam kepada seluruh makhluk, membenarkan segala berita yang beliau sampaikan, menaati segala perintah yang beliau berikan, menjauhi segala larangan yang beliau larang, mendahulukan kecintaan kepada beliau di atas kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua, dan seluruh manusia, mendahulukan sabda beliau di atas seluruh perkataan manusia, menjadikan syariat beliau sebagai hukum di atas seluruh peraturan buatan manusia, serta meyakini bahwa syariat beliau adalah syariat yang paling sempurna, paling bermanfaat, dan paling lurus dalam mewujudkan kemaslahatan para hamba.

Kemudian Allah menyebutkan cabang dari keimanan tersebut, yaitu berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta.

Selanjutnya Allah menyebutkan keuntungan dan manfaat dari perdagangan itu. Allah menyebutkan tiga keuntungan yang besar:

Pertama: ampunan terhadap dosa-dosa.

Kedua: dimasukkan ke dalam surga-surga, di tempat-tempat tinggal yang baik, sebagai tempat menetap yang kekal. Barang siapa memasukinya, ia akan hidup dalam kenikmatan tanpa pernah berputus asa, hidup tanpa pernah mati, sehat tanpa pernah sakit, dan tetap muda tanpa pernah menjadi tua.

Ketiga: pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat.

Perdagangan ini tidak menghalangi perdagangan dunia dan tidak pula menghambat jalannya. Justru perdagangan ini menjadikan perdagangan dunia berdiri di atas keadilan, ketulusan, kejujuran, dan keterbukaan, serta jauh dari penipuan, dusta, dan menyembunyikan cacat.

Bahkan, perdagangan akhirat menjadikan kebiasaan-kebiasaan bernilai ibadah. Barang siapa berniat dengan makannya untuk menikmati nikmat-nikmat Allah dan menguatkan diri dalam menaati Allah, maka makannya menjadi ibadah. Barang siapa berniat dengan jual beli, pekerjaannya, usahanya, dan profesinya untuk tidak bergantung kepada manusia, menafkahi keluarganya, serta membantu orang-orang miskin, maka jual belinya, usahanya, pekerjaannya, dan profesinya menjadi ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Rabb semesta alam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan seorang janda dan orang miskin adalah seperti seorang mujahid di jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5353 dan Muslim no. 2982)

Aku menduga beliau juga bersabda,

كَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ وَكَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ

Seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka dan seperti orang yang mengerjakan shalat malam tanpa henti.”

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْأَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ، وَخَتَمَ لَنَا وَلَكُمْ بِالسَّعَادَةِ، وَأَدْخَلَنَا الْجَنَّاتِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ

Baca juga: RUKUN ISLAM: SYAHADAT

Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA ALLAH

Baca juga: RUKUN ISLAM – MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT

Baca juga: DORONGAN UNTUK BERIMAN KEPADA NAMA-NAMA ALLAH TA’ALA

Baca juga: HIKMAH LIMA RUKUN ISLAM DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Khotbah