PERLINDUNGAN DARI FITNAH AL-MASIH AD-DAJJAL DAN HUKUM MEMBACA DOA PERLINDUNGAN

PERLINDUNGAN DARI FITNAH AL-MASIH AD-DAJJAL DAN HUKUM MEMBACA DOA PERLINDUNGAN

Adapun yang keempat adalah sabda beliau, (وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ) “dari fitnah al-Masih ad-Dajjal.”

Fitnah al-Masih ad-Dajjal juga merupakan fitnah yang sangat besar. Sebenarnya fitnah itu termasuk dalam fitnah kehidupan, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya secara khusus karena fitnah tersebut merupakan fitnah yang paling dahsyat. Tidak ada suatu fitnah antara penciptaan Nabi Adam dan terjadinya Hari Kiamat yang lebih dahsyat daripada fitnah Dajjal.

Dajjal ini adalah seorang laki-laki yang sangat jahat. Allah ‘Azza wa Jalla akan mengutusnya pada akhir zaman. Ia adalah seorang laki-laki dari keturunan Nabi Adam, bermata satu dan memiliki kekurangan pada fisiknya. Allah Ta’ala mengutusnya sebagai ujian bagi manusia.

Ia akan tinggal di bumi selama empat puluh hari. Hari pertama lamanya seperti satu tahun, hari kedua seperti satu bulan, hari ketiga seperti satu pekan, sedangkan hari keempat dan hari-hari setelahnya seperti hari-hari biasa.

Allah memberinya berbagai tanda (kejadian luar biasa) yang dengannya seluruh makhluk diuji. Ia akan muncul dari arah timur, dari daerah antara Syam dan Irak. Ia akan diikuti oleh orang-orang Yahudi dari Isfahan yang berada di Iran. Sebanyak tujuh puluh ribu orang Yahudi dari kota itu akan mengikutinya, memberikan dukungan kepadanya, dan menolongnya —wal’iyadzu billah.

Ketika pertama kali mendatangi manusia, ia mengaku sebagai seorang nabi. Setelah melihat banyak manusia mengikutinya, ia semakin berani dengan mengaku bahwa dirinya adalah tuhan. Lalu siapa saja di antara hamba-hamba Allah yang Allah kehendaki akan menyembahnya, sehingga mereka tersesat karena fitnahnya.

Di antara fitnah Dajjal adalah bahwa ia mendatangi suatu kaum, lalu mengajak mereka untuk beriman kepadanya dan kufur kepada Allah. Apabila mereka beriman kepadanya, hewan-hewan ternak mereka menjadi banyak mengeluarkan susu, tanaman-tanaman mereka tumbuh subur, dan mereka hidup dalam kesuburan. Sebaliknya, apabila mereka menentangnya, pada keesokan harinya mereka menjadi orang-orang yang ditimpa kekeringan. Di tanah mereka tidak ada tumbuh-tumbuhan, dan pada ambing hewan-hewan ternak mereka tidak ada air susu yang keluar.

Di antara fitnah Dajjal adalah bahwa ia memerintahkan langit agar menurunkan hujan. Ia berkata, “Wahai langit, turunkanlah hujan,” lalu langit pun menurunkan hujan. Ia juga memerintahkan bumi yang tandus agar menumbuhkan tanaman, lalu bumi itu pun menumbuhkan tanaman. Pada saat itulah terjadi fitnah yang sangat besar. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Dajjal secara khusus di antara seluruh fitnah kehidupan. Padahal, fitnah Dajjal sebenarnya termasuk ke dalam fitnah kehidupan. Akan tetapi, karena fitnahnya sangat besar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkannya.

Tidak seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal dan memperingatkan mereka agar berhati-hati terhadapnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةٌ أَشَدُّ مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Tidak ada suatu fitnah sejak penciptaan Adam hingga Hari Kiamat yang lebih dahsyat daripada fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2946)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar seseorang, apabila mendengar tentang kemunculan Dajjal, hendaklah menjauh darinya. (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 19888 dan Abu Dawud no. 4319)

Dajjal akan mendatangi seseorang, sementara orang itu adalah seorang mukmin yang mengira dirinya tetap teguh dalam keimanan. Namun Dajjal akan terus berusaha hingga akhirnya ia berhasil memfitnahnya dan memalingkannya dari agamanya melalui berbagai syubhat yang ia lemparkan kepadanya.

Di antara fitnah Dajjal adalah bahwa ia membunuh seseorang, lalu memotongnya menjadi dua bagian. Kemudian ia berjalan di antara kedua potongan tubuh itu, setelah itu ia berhenti dan memerintahkannya agar hidup kembali. Maka orang yang telah dipotong-potong itu pun bangkit hidup kembali. Akan tetapi, ketika orang itu hidup kembali, ia berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah al-Masih ad-Dajjal yang telah diberitakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian ia berusaha membunuh Dajjal, namun ia tidak mampu melakukannya. Sebab, pada hakikatnya kemampuan Dajjal untuk melakukan berbagai perkara tersebut hanyalah dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Maka apabila Allah Ta’ala menghendaki, Dia akan mencabut kemampuan itu darinya.

Dajjal dinamakan al-Masih karena ia buta sebelah, yaitu matanya telah terhapus (cacat). Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut Dajjal pada suatu kesempatan dan memberikan peringatan yang sangat keras tentangnya, hingga para sahabat mengira bahwa Dajjal sudah berada di balik kebun-kebun kurma Madinah, karena begitu kuatnya pengaruh peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ، فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ، وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ، فَامْرُؤٌ حَجِيجُ نَفْسِهِ، وَاللَّهُ خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Jika ia keluar sementara aku masih berada di tengah-tengah kalian, maka akulah yang akan menghadapi dan mengalahkannya untuk melindungi kalian. Namun, jika ia keluar setelah aku tidak lagi berada di tengah-tengah kalian, maka setiap orang harus membela dirinya sendiri, dan Allah adalah Pelindungku atas setiap muslim.” (Diriwayatkan oleh Muslim  no. 2937)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

Sesungguhnya Dajjal buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidak buta sebelah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3439 dan Muslim no. 169)

Yang terpenting, fitnah Dajjal adalah fitnah yang sangat besar —semoga Allah melindungi kita darinya. Yang dimaksud di sini adalah Dajjal yang terbesar, yaitu Dajjal yang akan muncul pada akhir zaman. Adapun para dajjal yang lain, jumlah mereka banyak. Akan tetapi, fitnah mereka tidak sebesar fitnah Dajjal yang terbesar tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa akan muncul di tengah umat beliau para dajjal yang berdusta atas nama umat ini. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3609 dan Muslim no. 157) Mereka menyesatkan umat ini tanpa ilmu. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa tidak seorang rasul pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang al-Masih ad-Dajjal dan menakut-nakuti mereka darinya. Hal itu karena mereka tidak mengetahui kapan Dajjal akan muncul, sehingga mereka memperingatkan kaum mereka agar berhati-hati terhadapnya.

Kesimpulannya, fitnah Dajjal adalah fitnah yang sangat besar. Pada akhir urusannya, setelah genap empat puluh hari, Nabi Isa putra Maryam akan turun, lalu membunuhnya di pintu Ludd, yaitu suatu tempat di Palestina. Dengan terbunuhnya Dajjal, manusia pun terbebas dari kejahatannya.

Apabila ada yang bertanya, “Empat perkara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kepada umatnya agar berlindung kepada Allah darinya pada tasyahud akhir ini, apakah perintah tersebut menunjukkan hukum wajib atau sunah (dianjurkan)?”

Kami menjawab: para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Mayoritas ulama berpendapat bahwa perintah tersebut menunjukkan hukum sunah (dianjurkan), sehingga apabila seseorang meninggalkannya, shalatnya tidak batal. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa perintah tersebut menunjukkan hukum wajib, sehingga apabila seseorang meninggalkannya, shalatnya menjadi batal. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Thawus, salah seorang tabi’in yang terkenal karena ilmu dan kefakihannya. Putranya pernah datang kepadanya dan mengabarkan bahwa ia telah melaksanakan shalat, tetapi tidak memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara tersebut. Maka Thawus memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ini adalah salah satu dari dua pendapat dalam mazhab kami.” Maksudnya, pendapat tersebut merupakan salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Imam Ahmad, yaitu bahwa memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara tersebut hukumnya wajib, dan barang siapa meninggalkannya dengan sengaja, maka shalatnya batal.

Maka renungkanlah, wahai saudaraku, kalimat-kalimat yang agung ini, yang diperintahkan oleh manusia yang paling tulus menasihatimu, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Engkau akan mendapatinya mencakup seluruh keburukan yang mungkin menimpa seseorang dalam urusan agamanya.

Baca sebelumnya: DOA SETELAH TASYAHUD DAN PERLINDUNGAN DARI AZAB JAHANAM SERTA AZAB KUBUR

Baca sebelumnya: PERLINDUNGAN DARI FITNAH KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

Baca juga: FITNAH ANAK, HARTA, DAN ISTRI

Baca juga: WASPADALAH TERHADAP FITNAH SYUBHAT DAN SYAHWAT

Baca juga: TANDA-TANDA BESAR KIAMAT – MUNCULNYA AL-MASIH AD-DAJJAL

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram