PERLINDUNGAN DARI FITNAH KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

PERLINDUNGAN DARI FITNAH KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

Ketiga: (وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ) “dari fitnah kehidupan dan kematian.”

Maksudnya adalah fitnah yang terjadi ketika seseorang masih hidup dan fitnah yang terjadi ketika seseorang menghadapi kematian.

Fitnah adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari agamanya dan menghalanginya darinya. Maka segala sesuatu yang demikian dinamakan fitnah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Sesungguhnya orang-orang yang menindas (memfitnah) laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman…” (QS al-Buruj: 10)

Maksudnya, mereka memalingkan orang-orang mukmin dari agama mereka.

Kata fitnah juga digunakan dengan makna ujian, cobaan, dan pengujian, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai suatu ujian.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Yakni sebagai ujian, cobaan, dan pengujian, agar Allah ‘Azza wa Jalla menguji orang yang Dia beri nikmat: apakah ia bersyukur atau kufur? Apabila Dia mengujinya dengan kebalikan dari kenikmatan itu, apakah ia bersabar atau justru marah?

Fitnah Kehidupan

Yang dimaksud dengan “fitnah kehidupan” adalah fitnah yang terjadi selama seseorang masih hidup. Fitnah ini berkisar pada dua perkara.

Yang pertama dari fitnah kehidupan adalah fitnah syubhat dan kebodohan, yaitu ketika kebenaran menjadi samar bagi seseorang sehingga ia tidak mengetahui apakah sesuatu itu benar atau batil. Akibatnya, ia terjatuh ke dalam kebatilan tanpa menyadarinya, lalu beramal di atas kesesatan—wal’iyadzu billah.

Pangkal dari semua itu adalah kebodohan dan tidak adanya ilmu. Tidak diragukan lagi bahwa kebodohan dan ketiadaan ilmu merupakan sebab timbulnya keraguan dan kesamaran terhadap hukum-hukum Allah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَلَالُ بَيِّنٌ، وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

Yang halal itu jelas, yang haram juga jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Contohnya adalah seseorang melakukan suatu muamalah yang di dalamnya terdapat riba, sementara ia mengira bahwa muamalah itu bukan termasuk riba. Akhirnya ia terjatuh ke dalamnya, sedangkan ia tidak menyadarinya. Ini adalah syubhat (kesamaran) yang disebabkan oleh kurangnya ilmu.

Contoh lainnya adalah banyak pengikut berbagai tarekat yang muncul dalam Islam. Mereka beribadah kepada Allah dengan berbagai bentuk ibadah yang Allah tidak pernah menurunkan suatu dalil pun untuknya. Maka mereka —wal’iyadzu billah— telah tertimpa fitnah.

Adapun yang kedua dari fitnah kehidupan adalah fitnah syahwat dan pembangkangan. Yang dimaksud bukanlah syahwat untuk menikah, melainkan syahwat berupa keinginan melakukan keburukan dan kejahatan. Sebab, banyak manusia memiliki ilmu dan pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, namun jiwa mereka yang selalu memerintahkan kepada keburukan memerintahkan mereka untuk berbuat buruk —wal’iyadzu billah— sehingga mereka terjatuh ke dalam fitnah ini. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi menghendaki sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, sehingga mereka pun tersesat. Hal ini banyak terjadi di tengah manusia.

Misalnya, jiwanya membujuknya —wal’iyadzu billah— untuk berzina, lalu ia pun berzina. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Ia mencemari kehormatan perempuan-perempuan mukminah yang menjaga kehormatannya, padahal ia mengetahui bahwa zina adalah haram. Atau jiwanya membujuknya sehingga ia meminum khamar yang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dinamakan sebagai induk segala dosa besar, padahal ia mengetahui bahwa meminum khamar adalah haram. Atau jiwanya membujuknya sehingga ia terjatuh ke dalam riba, yang tentangnya Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۝ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman. Jika kalian tidak melaksanakannya, maka ketahuilah akan ada peperangan dari Allah dan Rasul-Nya.” (QS al-Baqarah: 278–279)

Ini merupakan pernyataan perang dari Allah dan Rasul-Nya terhadap orang yang memakan riba. Meskipun demikian, ia tetap melakukannya, padahal ia mengetahui bahwa perbuatan itu haram.

Di antara contohnya adalah seseorang meninggalkan shalat, padahal ia mengetahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan berbagai perbuatan lain yang semisal dengan itu. Ini termasuk fitnah kehidupan.

Fitnah kehidupan sangat banyak. Kaidah yang mencakup semuanya kembali kepada apa yang telah kami sebutkan, yaitu:

Adakalanya berupa syubhat, sehingga kebenaran menjadi samar bagi seseorang dan bercampur dengan kebatilan. Ini adalah kebodohan;

Adakalanya berupa syahwat, yaitu keinginan yang buruk sehingga seseorang menghendaki kebatilan, padahal ia mengetahuinya. Ini adalah pembangkangan.

Fitnah Kematian

Adapun fitnah kematian, maka para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah fitnah yang terjadi menjelang kematian. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah fitnah yang terjadi setelah kematian. Pendapat yang benar adalah bahwa fitnah kematian mencakup kedua-duanya, yaitu fitnah yang terjadi ketika menjelang kematian dan fitnah yang terjadi setelah kematian.

Di antara fitnah yang terjadi setelah kematian adalah fitnah di alam kubur, yaitu ketika dua malaikat mengajukan pertanyaan. Sebab, manusia akan diuji di dalam kubur mereka. Hal itu terjadi ketika seseorang telah dikuburkan, lalu para pengantarnya meninggalkannya. Bahkan ia masih mendengar suara sandal mereka ketika mereka berpaling meninggalkannya, padahal mereka adalah orang-orang yang paling dicintainya dan yang paling besar rasa kasih sayangnya kepadanya, seperti anak-anaknya, ayah-ayahnya, saudara-saudaranya, kerabatnya, dan sahabat-sahabatnya. Mereka semua meninggalkannya, membiarkannya sendirian di dalam liang kubur, karena kehidupannya telah berakhir dan ia telah berpindah ke alam akhirat. Tidak ada yang tersisa bersamanya selain amalnya.

Kemudian datang dua malaikat yang bertanya kepadanya tentang tiga perkara. Keduanya berkata kepadanya, “Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?” Ia ditanya tentang tiga perkara ini sebagai suatu ujian.

Adapun orang mukmin —semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman— maka Allah akan meneguhkannya dengan ucapan yang teguh. Ketika kedua malaikat berkata kepadanya, “Siapa Rabb-mu?” ia menjawab, “Rabb-mu adalah Allah.” Ketika keduanya berkata kepadanya, “Siapa nabimu?” ia menjawab, “Nabiku adalah Muhammad.” Dan ketika keduanya berkata kepadanya, “Apa agamamu?” ia menjawab, “Agamaku adalah Islam.”

Lalu terdengar suara penyeru dari langit, “Hamba-Ku telah berkata benar.” Kemudian kuburnya dilapangkan baginya, dibukakan baginya sebuah pintu menuju Surga, dan hari terakhirnya setelah kematiannya menjadi lebih baik, lebih penuh kenikmatan, dan lebih indah daripada hari pertamanya. Sebab, ketika di dunia ia berada di negeri yang penuh kegelisahan, kesedihan, dan kesempitan, maka ketika ia berpindah ke alam akhirat dan menjadi termasuk penghuni Surga, ia berpindah kepada sesuatu yang lebih baik daripada keadaan yang telah ditinggalkannya.

Adapun orang munafik atau orang yang ragu —semoga Allah melindungi kita dari hal itu— maka apabila dikatakan kepadanya, “Siapa Rabb-mu?” ia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakannya.” Iman tidak pernah masuk ke dalam hatinya, bahkan ia adalah orang yang bimbang dan ragu —wal’iyadzu billah.

Lalu kedua malaikat berkata kepadanya, “Apa agamamu?” Ia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakannya.” Kemudian keduanya berkata kepadanya, “Siapa nabimu?” Ia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 86 dan Muslim no. 905) Sebab, iman tidak pernah sampai ke dalam hatinya dan tidak pernah menetap di dalamnya. Ia hanya mendengar, tetapi tidak memahami.

Lalu terdengar suara penyeru dari langit, “Hamba-Ku telah berdusta.” Kemudian ia dipukul dengan sebuah mirzabbah (pemukul besar) dari besi yang sangat besar, yaitu semacam palu. Dalam sebagian hadis disebutkan bahwa seandainya seluruh penduduk Mina berkumpul untuk mengangkatnya, niscaya mereka tidak akan mampu mengangkatnya. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razzaq dalam al-Mushannaf 3/582 no. 6738) Kemudian ia dipukul sehingga mengeluarkan satu teriakan yang didengar oleh segala sesuatu selain dua makhluk yang dibebani syariat, yaitu manusia dan jin. Segala sesuatu yang berada di sekelilingnya mendengar teriakan orang yang dipukul dengan pemukul besi tersebut, kecuali manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ

Seandainya manusia mendengarnya, niscaya ia akan pingsan (atau mati karena dahsyatnya suara itu).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1338)

Maksudnya, ia akan mati karena jeritan itu sangat dahsyat. Akan tetapi, termasuk nikmat Allah ‘Azza wa Jalla kepadamu dan kepada anggota keluargamu adalah bahwa mereka tidak mengetahui hal itu. Jika mereka mengetahuinya, niscaya hal itu akan menyebabkan kebinasaan dan kematian bagi kita, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya juga terdapat penyiksaan bagi keluarga yang salah seorang dari mereka sedang diazab di dalam kuburnya —wal’iyadzu billah.

Inilah yang termasuk fitnah kematian, karena fitnah ini terjadi setelah kematian. Dan ini —wal’iyadzu billah— termasuk fitnah yang sangat besar.

Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan fitnah kematian adalah fitnah yang terjadi menjelang kematian. Hal itu karena saat kematian merupakan saat yang sangat genting, saat yang penuh kesempitan. Saat kematian adalah saat yang paling berat yang dialami seseorang di antara seluruh saat dalam hidupnya.

Sesungguhnya setan pada saat itu sangat berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghalangi seseorang dari agamanya hingga ia meninggal dalam keadaan kafir —wal’iyadzu billah. Bahkan, terkadang —wal’iyadzu billah— setan menampakkan diri kepadanya ketika ia sedang mengalami sakaratul maut dalam rupa ayahnya, lalu berkata kepadanya, “Jadilah engkau seorang Nasrani,” atau, “Jadilah engkau seorang Yahudi.” Dalam keadaan yang sangat genting seperti itu, boleh jadi perkara tersebut menjadi samar baginya, sehingga ia mengira bahwa yang berbicara itu adalah ayahnya, lalu akhirnya ia menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani.

Bahkan, ketika dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah, ‘La ilaha illallah,’” ia menjawab, “Tidak.” Ini juga merupakan fitnah yang sangat besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas menyebutkannya karena fitnah ini merupakan fitnah dunia yang paling dahsyat.

Akan tetapi, hal ini —Alhamdulillah— tidak berlaku umum bagi setiap orang yang meninggal.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hal ini tidak berlaku umum bagi setiap orang yang meninggal.” Akan tetapi, hal itu dikhawatirkan terjadi. Oleh karena itu, engkau mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah dari fitnah kematian.”

Setan sangat berusaha untuk menanamkan ke dalam hati seseorang pada saat yang sangat genting itu pengingkaran terhadap Rabb ‘Azza wa Jalla, serta keyakinan bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada azab, tidak ada Surga, dan tidak ada Neraka, sehingga ia meninggal dalam keadaan menganut paham ateisme (ilhad) —wal’iyadzu billah.

Disebutkan dalam biografi Imam Ahmad rahimahullah bahwa ketika ia sedang mengalami sakaratul maut, ia tidak sadarkan diri karena dahsyatnya sakaratul maut. Ketika ia sadar kembali, dikatakan kepada beliau, “Wahai Abu ‘Abdillah, sesungguhnya engkau mengucapkan, ‘Belum, belum.’ Apakah maksudnya?”

Ia menjawab, “Sesungguhnya setan menampakkan sebagian ujung jari-jarinya kepadaku seraya berkata, ‘Engkau telah membuatku gagal, wahai Ahmad! Engkau telah membuatku gagal, wahai Ahmad!’ Maksudnya, ‘Aku tidak mampu menyesatkanmu.’ Maka aku menjawab, ‘Belum, belum.’” (Disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Auliya’ 9/183, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 5/224, dan adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 11/341)

Selama roh seseorang masih berada di dalam jasadnya, ia tetap dikhawatirkan akan tertimpa fitnah dan tidak ada jaminan bahwa ia akan selamat darinya. Boleh jadi kehidupannya ditutup dengan akhir yang buruk —wal’iyadzu billah— sehingga seluruh amal yang telah dikerjakannya menjadi sia-sia. Karena itu, manusia senantiasa berada dalam keadaan rentan terhadap berbagai cobaan dan fitnah. Aku memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepadaku dan kepada kalian husnul khatimah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barang siapa yang ucapan terakhirnya di dunia adalah, ‘La ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah),’ niscaya ia akan masuk Surga.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 21529 dan Abu Dawud no. 3116)

Hal itu karena keikhlasannya.

Inilah fitnah kematian, yaitu fitnah yang sangat besar dan sangat berbahaya, yang terjadi pada saat yang sangat genting.

Baca juga: FITNAH ANAK, HARTA, DAN ISTRI

Baca juga: BERSEGARA DALAM BERAMAL SALEH

Baca juga: PENYEBAB JATUH KE DALAM KEMAKSIATAN

Baca juga: WASPADALAH TERHADAP FITNAH SYUBHAT DAN SYAHWAT

Baca juga: APA SAJA YANG DISYARIATKAN BAGI ORANG YANG MENGHADIRI ORANG YANG AKAN MENINGGAL?

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram