NIAT YANG IKHLAS, KUNCI DITERIMANYA AMAL

NIAT YANG IKHLAS, KUNCI DITERIMANYA AMAL

Segala puji bagi Allah Yang Mahamengetahui perkara-perkara yang tersembunyi dan yang tampak, perkara-perkara yang samar dan yang nyata. Dia mengetahui rahasia-rahasia hati dan hal-hal yang tersembunyi di sudut-sudut yang gelap. Dia mengetahui segala yang tersembunyi dan yang lebih tersembunyi lagi. Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah. Milik-Nya nama-nama yang indah dan sifat-sifat kesempurnaan.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Seluruh makhluk bersaksi akan rububiyah-Nya. Aku tunduk kepada-Nya dengan uluhiyah dan keikhlasan, sebagaimana seluruh makhluk tunduk kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sebaik-baik para rasul dan pemimpin seluruh manusia.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada Muhammad, keluarganya, para sahabatnya yang memiliki hati yang bersih dan rahasia yang suci, serta kepada para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dalam kebenaran akidah dan kesucian jiwa.

Amma ba’du.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan taatilah Dia. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam diri kalian, maka waspadalah terhadap-Nya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1/7 dan Muslim no. 1907)

Hadis ini termasuk kalimat-kalimat beliau yang sangat ringkas namun sarat makna, dan merupakan salah satu pokok syariat yang paling agung dan paling bermanfaat. Ke dalam hadis ini masuk seluruh ibadah dan adat kebiasaan, serta mencakup berbagai muamalah, pemberian, dan amalan-amalan pendekatan diri kepada Allah. Tidak sah shalat, zakat, puasa, dan haji seseorang kecuali dengan niat. Ibadah-ibadah itu juga tidak menjadi sempurna dan tidak berkembang pahalanya kecuali dengan kesempurnaan keikhlasan dan benarnya niat. Dengan niat pula ibadah-ibadah dibedakan satu sama lain, dan dengan keikhlasan kepada Allah, pahala suatu amalan menjadi besar serta pelakunya memperoleh keutamaannya.

Wahai manusia, biasakanlah diri kalian untuk senantiasa berbuat ihsan dalam segala sesuatu, mengharapkan wajah Allah, dan menjadikan kecintaan kepada kebaikan bagi kaum muslimin serta nasihat kepada hamba-hamba Allah sebagai tujuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa lahiriah dan amal-amal kalian, tetapi Dia melihat isi hati kalian dan keadaan yang terkandung di dalamnya. Biasakanlah diri kalian untuk selalu ikhlas dalam setiap keadaan ketika kalian datang dan pergi. Harapkanlah pahala dalam segala sesuatu yang kalian rahasiakan maupun yang kalian tampakkan. Jadikanlah keikhlasan selalu menyertai kalian dan nantikanlah pahala atas kebaikan sebagai balasan bagi kalian.

Barang siapa disibukkan dengan perdagangan, industri, profesi, pertanian, atau pekerjaan lainnya, hendaklah ia meniatkan dengan pekerjaannya itu untuk menunaikan kewajiban terhadap dirinya, keluarganya, dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Sesungguhnya hal itu termasuk jihad dan kesibukan dalam menunaikan kewajiban, bahkan termasuk amalan yang paling utama.

Apabila salah seorang di antara kalian memberi makan keluarganya atau hewan ternaknya, hendaklah ia mengharapkan dengan perbuatannya itu wajah Allah. Sebab, apabila seseorang menyuapkan makanan ke mulut istrinya, anaknya, atau pembantunya dengan mengharapkan pahala, maka ia akan memperoleh derajat dan pahala di sisi Allah.

Barang siapa makan, minum, tidur, atau beristirahat dengan niat agar memiliki kekuatan untuk taat kepada Allah, maka kebiasaan itu berubah menjadi ibadah. Barang siapa menuntut ilmu dengan tujuan mengharapkan wajah Allah, memberi manfaat kepada dirinya dan kaum muslimin, maka hal itu termasuk jihad yang meninggikan derajat dan menambah kemuliaan.

Barang siapa ingin melakukan suatu kebaikan namun terhalang untuk melakukannya, maka dengan niatnya yang benar ia akan memperoleh pahala sebagaimana orang yang melakukannya. Barang siapa memiliki kebiasaan beribadah dan taat, kemudian ia sakit atau bepergian, maka akan dituliskan baginya pahala seperti yang biasa ia kerjakan ketika sehat dan menetap. Betapa besar hak Allah untuk disyukuri oleh seorang hamba.

Barang siapa berniat melakukan suatu kebaikan lalu tidak sempat melakukannya, maka Allah menuliskan baginya satu kebaikan yang sempurna. Barang siapa berniat melakukan suatu kebaikan kemudian melakukannya, maka Allah menuliskan baginya kebaikan yang sempurna. Barang siapa bertekad melakukan suatu maksiat lalu tidak jadi melakukannya karena terhalang, maka ia seperti orang yang melakukannya.

Barang siapa berusaha melakukan suatu kebaikan, lalu kematian menjemputnya sebelum ia dapat menyempurnakannya, maka pahalanya tetap ditanggung oleh Allah Yang telah memuliakannya dengan karunia-Nya yang sempurna. Barang siapa mengambil harta manusia dan berniat mengembalikannya, maka Allah akan membantu pelunasan utangnya. Barang siapa mengambilnya dengan niat untuk menghilangkannya, maka Allah akan membinasakannya.

Barang siapa menggunakan suatu siasat untuk mencapai transaksi yang diharamkan, maka ia adalah orang yang keluar dari kebenaran dan zalim. Barang siapa mewakafkan suatu harta atau membuat wasiat dengan tujuan menghalangi orang lain dari haknya atau menimbulkan mudarat baginya, maka ia adalah pelanggar yang melampaui batas. Barang siapa memaksa istrinya melakukan suatu kezaliman demi menyelamatkan dirinya sendiri darinya, maka itu termasuk dosa yang sangat besar.

Betapa beruntungnya orang-orang yang memiliki cita-cita yang tinggi. Kebiasaan mereka berubah menjadi ibadah dengan niat yang baik dan benar. Sebaliknya, sungguh merugilah orang-orang yang bodoh dan hanya memikirkan urusan dunia. Bisa jadi ibadah mereka berubah menjadi sekadar kebiasaan karena lemahnya niat.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat serta berusaha ke arahnya dengan usaha yang sungguh-sungguh, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik (oleh Allah).” (QS al-Isra’: 19)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

Baca juga: DUA TIMBANGAN AGUNG AMAL: IKHLAS DAN MENGIKUTI SUNAH

Baca juga: IKHLAS DAN MENGHADIRKAN NIAT

Baca juga: SYARAT SAH SHALAT: NIAT

Baca juga: TAKDIR DAN HIKMAH DI BALIKNYA

Baca juga: MEMULAI SUNAH YANG BAIK DALAM ISLAM

(Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Khotbah