الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، يَقْبَلُ تَوْبَةَ التَّائِبِينَ، وَلَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، فَأَوْضَحَ بِهِ الْمَحَجَّةَ لِلسَّالِكِينَ، وَأَقَامَ بِهِ الْحُجَّةَ عَلَى الْمُعَانِدِينَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَدَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
Amma ba’du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan sucikanlah jiwa kalian dengan melakukan berbagai ketaatan. Janganlah kalian mengotorinya dengan berbagai keburukan dan pelanggaran. Allah Ta’ala berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS asy-Syams: 7–10)
Maka apa pun yang engkau kerjakan, wahai manusia, dalam kehidupan ini, berupa kebaikan atau keburukan, sesungguhnya engkau mengerjakannya untuk dirimu sendiri dan engkau tidak akan diberi balasan kecuali berdasarkan amalmu. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, maka (manfaatnya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat buruk, maka (akibatnya) atas dirinya sendiri. Rabb-mu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS Fushshilat: 46)
Selama manusia masih hidup, ia akan terus beramal. Ia pasti berbuat, bergerak, berbicara, berniat, dan memiliki maksud, serta tidak akan tetap tanpa melakukan sesuatu. Amal-amalnya, perkataan-perkataannya, niat-niatnya, dan maksud-maksudnya pasti dihitung dan dicatat dalam catatan amalnya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu perkataan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap.” (QS Qaf: 17–18)
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya bagi kalian ada para malaikat yang mengawasi, yang mulia dan mencatat. Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS al-Infithar: 10–12)
Ilmu Allah Ta’ala meliputi semua itu:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ
“Dia-lah yang menidurkan kalian pada malam hari dan mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari.” (QS al-An’am: 60)
وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian nyatakan. Allah Mahamengetahui segala isi hati.” (QS at-Taghabun: 4)
Pada Hari Kiamat, kitab catatan seorang hamba akan dihadirkan kepadanya dengan segala yang terdapat di dalamnya, baik berupa kebaikan maupun keburukan.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya. Barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya.” (QS az-Zalzalah: 7–8)
Para malaikat mulia yang mencatat amal akan memberikan kesaksian terhadapnya. Bumi tempat ia melakukan amal di atasnya juga akan memberikan kesaksian terhadapnya.
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya, karena sesungguhnya Rabb-mu telah memerintahkan kepadanya.” (QS az-Zalzalah: 4–5)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
“Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya.” (QS az-Zalzalah: 4)
Kemudian beliau bersabda,
أَتَدْرُونَ مَا أَخْبَارُهَا؟
“Tahukah kalian apakah berita-beritanya itu?”
Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda,
فَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا، أَنْ تَقُولَ: عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا، فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا
“Sesungguhnya berita-beritanya adalah bahwa bumi akan memberikan kesaksian terhadap setiap hamba laki-laki atau perempuan mengenai apa yang telah dilakukannya di atas bumi. Bumi akan berkata, ‘Ia melakukan ini dan itu pada hari ini dan itu.’ Maka itulah berita-beritanya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i. Ini adalah redaksi at-Tirmidzi no. 2429)
Selain kesaksian para malaikat dan kesaksian bumi terhadap anak Adam, pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dan anggota-anggota tubuhnya juga akan memberikan kesaksian terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“(Ingatlah) pada hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke Neraka, lalu mereka dikumpulkan. Hingga apabila mereka sampai ke Neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang dahulu mereka kerjakan. Mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kalian menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab, ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berbicara telah menjadikan kami pandai berbicara. Dia-lah yang menciptakan kalian pertama kali dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan.’ Kalian dahulu tidak dapat bersembunyi agar pendengaran, penglihatan, dan kulit kalian tidak menjadi saksi terhadap kalian, bahkan kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kalian kerjakan. Itulah prasangka kalian yang telah kalian sangkakan terhadap Rabb kalian. Prasangka itu telah membinasakan kalian sehingga kalian termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Fushshilat: 19–23)
al-Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan tersenyum. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا تَسْأَلُونِي عَنْ أَيِّ شَيْءٍ ضَحِكْتُ؟
“Tidakkah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu yang membuatku tertawa?”
Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, karena apakah engkau tertawa?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجِبْتُ مِنْ مُجَادَلَةِ الْعَبْدِ رَبَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَلَيْسَ وَعَدْتَنِي أَنْ لَا تَظْلِمَنِي؟ قَالَ: بَلَى. فَيَقُولُ: فَإِنِّي لَا أَقْبَلُ عَلَيَّ شَاهِدًا إِلَّا مِنْ نَفْسِي. فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَوَلَيْسَ كَفَى بِي شَهِيدًا وَبِالْمَلَائِكَةِ الْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ؟ قَالَ: فَيُرَدِّدُ هَذَا الْكَلَامَ مِرَارًا. قَالَ: فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ وَتَتَكَلَّمُ أَرْكَانُهُ بِمَا كَانَ يَعْمَلُ، فَيَقُولُ: بُعْدًا لَكُنَّ وَسُحْقًا، عَنْكُنَّ كُنْتُ أُجَادِلُ
“Aku merasa heran terhadap perdebatan seorang hamba dengan Rabb-nya pada Hari Kiamat. Ia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bukankah Engkau telah menjanjikan kepadaku bahwa Engkau tidak akan menzalimiku?’ Dia berfirman, ‘Benar.’ Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak menerima saksi atas diriku kecuali dari diriku sendiri.’ Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Bukankah Aku cukup sebagai saksi dan para malaikat mulia yang mencatat?’ Ia mengulangi perkataan ini berkali-kali. Kemudian mulutnya dikunci dan anggota-anggota tubuhnya berbicara tentang apa yang dahulu ia kerjakan. Lalu ia berkata, ‘Celaka dan binasalah kalian! Demi membela kalianlah dahulu aku berdebat.’” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar)
Renungkanlah, wahai hamba, ketika engkau menghadapi keadaan ini. Kitab catatan amal menghitung amal-amalmu, Allah mengawasimu, para malaikat memberikan kesaksian, dan kulit serta anggota-anggota tubuh berbicara dan memberikan kesaksian. Tidak ada ruang untuk mengingkari dan tidak ada jalan untuk menghindari perhitungan.
Takutlah terhadap keadaan ini dengan memperbaiki amal-amal selama kalian masih berada dalam masa penangguhan. Janganlah kalian memenuhi catatan para malaikat pencatat dan memperlihatkan kepada para saksi kecuali apa yang bermanfaat bagi kalian pada Hari Pembalasan:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS asy-Syu’ara’: 88–89)
Sesungguhnya manusia pada hari ini masih dapat menghisab dirinya sendiri dan menyelamatkannya dari bahaya yang telah ia jerumuskan dirinya ke dalamnya, dengan memperbanyak kebaikan dan bertobat dari berbagai keburukan. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan pada bagian-bagian permulaan malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.” (QS Hud: 114)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 1987 dan selainnya)
Akan tetapi, pada Hari Kiamat ia tidak mungkin melepaskan diri dari keburukan-keburukannya dengan sarana apa pun: tidak dengan tebusan, tidak dengan pertolongan kerabat untuk membelanya, dan tidak pula dengan kedudukan dan nasab.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada hari itu tidak ada jual beli, tidak ada persahabatan, dan tidak ada syafaat.” (QS al-Baqarah: 254)
Makna ayat yang mulia ini adalah bahwa pada hari tersebut tidak seorang pun dapat menebus dirinya, dan ia tidak dapat ditebus dengan harta sekalipun ia menyerahkannya, bahkan sekalipun ia datang membawa emas sepenuh bumi. Persahabatan seseorang juga tidak bermanfaat baginya, yaitu pertemanannya, dan tidak pula syafaatnya. Maka tertutuplah seluruh jalan untuk mencari siasat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا
“Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian. Aku tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepada kalian di hadapan Allah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206)
Allah Ta’ala berfirman:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS ‘Abasa: 34–37)
Maksudku, pada hari itu manusia meninggalkan orang-orang yang paling dekat dengannya di dunia. Ia lari dari mereka dan menjauh dari mereka karena kedahsyatannya sangat besar.
‘Ikrimah berkata, “Seorang laki-laki bertemu dengan istrinya, lalu berkata kepadanya, ‘Wahai engkau, suami seperti apakah aku dahulu bagimu?’ Istrinya menjawab, ‘Engkau adalah sebaik-baik suami,’ dan ia memujinya dengan kebaikan semampunya. Kemudian laki-laki itu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya pada hari ini aku meminta kepadamu satu kebaikan saja yang engkau berikan kepadaku, mudah-mudahan aku dapat selamat dari apa yang engkau lihat ini.’
Istrinya berkata kepadanya, ‘Betapa ringan apa yang engkau minta. Akan tetapi, aku tidak sanggup memberikan sesuatu pun kepadamu. Aku mengkhawatirkan hal yang sama seperti yang engkau khawatirkan.’”
Ia berkata, “Seorang laki-laki benar-benar akan bertemu dengan anaknya, lalu ia bergantung kepadanya dan berkata, ‘Wahai anakku, ayah seperti apakah aku dahulu bagimu?’ Anaknya pun memujinya dengan kebaikan.
Kemudian ia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku membutuhkan kebaikanmu seberat zarrah, mudah-mudahan dengannya aku dapat selamat dari apa yang engkau lihat ini.’
Anaknya berkata, ‘Wahai ayahku, betapa ringan apa yang engkau minta. Akan tetapi, aku mengkhawatirkan hal yang sama seperti yang engkau khawatirkan, sehingga aku tidak mampu memberikan sesuatu pun kepadamu.’
Allah Ta’ala berfirman:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, serta dari istri dan anak-anaknya.” (QS ‘Abasa: 34–36)
Dalam hadis sahih tentang ssyafaat disebutkan bahwa apabila diminta kepada setiap rasul Ulul ‘Azmi agar memberikan syafaat di sisi Allah bagi seluruh makhluk, ia berkata, “Diriku, diriku. Pada hari ini aku tidak meminta kepada-Mu kecuali untuk diriku sendiri.” Bahkan ‘Isa bin Maryam berkata, “Pada hari ini aku tidak meminta kepada-Nya kecuali untuk diriku sendiri. Aku tidak meminta kepada-Nya untuk Maryam yang telah melahirkanku.”
Firman Allah Ta’ala:
لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS ‘Abasa: 37)
Maksudnya, masing-masing dari mereka berada dalam kedahsyatan yang menyibukkannya dari orang yang paling dicintainya.
Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
“Kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.”
Seorang perempuan berkata, “Apakah sebagian dari kami akan melihat aurat sebagian yang lain?”
Beliau bersabda,
يَا فُلَانَةُ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Wahai Fulanah, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3332. at-Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.”)
Wahai hamba-hamba Allah, hadirkanlah dalam hati kalian kedahsyatan hari itu, bersiaplah untuk menghadapinya, dan janganlah kalian lalai darinya. Bagaimana menurut kalian, seandainya salah seorang dari kalian diberi tahu di dunia ini bahwa ia akan menghadapi musuh atau menghadapi suatu bahaya, betapa besar rasa takut dan persiapannya untuk menyelamatkan diri dari bahaya tersebut. Padahal, bahaya itu mungkin saja tidak benar-benar terjadi. Kalaupun terjadi, ia masih memiliki harta yang dapat digunakan untuk menebus dirinya serta para penolong dan kerabat yang dapat membelanya.
Adapun Hari Kiamat, maka bahayanya pasti terjadi. Tidak ada keluarga, kerabat, kedudukan, ataupun harta yang dapat menyelamatkan seseorang darinya. Lantas, mengapa manusia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan sesuatu yang dapat menyelamatkannya dari berbagai bahaya dan kedahsyatannya?
Persiapan untuk menghadapi hari itu sekarang masih mudah dan ringan bagi orang yang diberi taufik oleh Allah, yaitu dengan senantiasa menjaga berbagai ketaatan dan menjauhi segala yang diharamkan.
Bayangkanlah, wahai manusia, keadaanmu pada hari itu!
Wahai orang yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, memakan harta yang haram, serta melakukan dosa dan kejahatan, wahai orang yang menzalimi dirimu sendiri dengan berbagai kemaksiatan dan menzalimi manusia dengan melanggar hak mereka dalam darah, harta, dan kehormatan mereka, apakah yang dapat menyelamatkanmu dari berbagai kedahsyatan hari itu ketika timbangan amal telah ditegakkan, surga-surga telah dibuka, neraka-neraka telah dinyalakan, sedangkan para ayah, anak-anak, dan saudara-saudaramu berlepas diri darimu?
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Allah Ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Takutlah kalian kepada suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.” (QS al-Baqarah: 281)
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan al-Qur’an yang agung.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَذَّرَ مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَمَرَ الْإِنْسَانَ بِالِاسْتِعْدَادِ لِمَا أَمَامَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
Amma ba’du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan taatilah Dia. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى
“Sesungguhnya usaha kalian benar-benar beraneka ragam.” (QS al-Lail: 4)
Maksudnya, berbeda-beda. Di antara kalian ada yang melakukan kebaikan dan di antara kalian ada yang melakukan keburukan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
“Setiap manusia berpagi hari dengan mempertaruhkan dirinya. Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 223)
Maknanya adalah bahwa setiap manusia pasti berusaha, baik menuju kebinasaan dirinya maupun menuju pembebasan dirinya. Barang siapa berusaha dalam ketaatan kepada Allah, sungguh ia telah menjual dirinya kepada Allah dan membebaskannya dari azab-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ
“Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah.” (QS al-Baqarah: 207)
Di antara manusia ada pula yang menjual dirinya kepada setan dan membinasakannya dengan azab.
Apabila seseorang keluar dari rumahnya dan pergi ke masjid untuk menunaikan shalat, sungguh ia telah menjual dirinya kepada Allah. Namun, apabila ia keluar dari rumahnya menuju tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat kerusakan, sungguh ia telah menjual dirinya kepada setan.
Apabila ia pergi menjalankan pekerjaannya, lalu bersungguh-sungguh dan tulus dalam melaksanakannya serta menunaikannya sebagaimana mestinya, sungguh ia telah menjual dirinya kepada Allah. Namun, apabila ia berkhianat dalam pekerjaannya, menyia-nyiakannya, atau menerima suap dalam pekerjaannya, sungguh ia telah menjual dirinya kepada setan.
Apabila ia pergi ke tempat perdagangannya, lalu berlaku jujur dalam bermuamalah dengan manusia serta menjauhi penipuan, kecurangan, dan riba, sungguh ia telah menjual dirinya kepada Allah. Namun, apabila ia melakukan kecurangan dalam jual beli, mengurangi timbangan, berdusta kepada para pelanggan, dan bermuamalah dengan riba, sungguh ia telah menjual dirinya kepada setan.
Apabila ia diseru untuk menunaikan shalat, lalu segera memenuhi dan menyambut seruan tersebut, sungguh ia telah menjual dirinya kepada Allah. Namun, apabila ia tidak memenuhi seruan Allah, tidak hadir untuk menunaikan shalat, dan lebih mengutamakan keinginan hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Rabb-nya sehingga ia tetap berada di tempat tidurnya atau terus tenggelam dalam hiburan dan permainannya, sungguh ia telah menjual dirinya kepada setan.
Demikianlah manusia sepanjang hidupnya senantiasa berada di antara dua seruan: seruan ar-Rahman dan seruan setan. Seruan mana pun yang ia penuhi, berarti ia telah menjual dirinya kepadanya.
Jiwa adalah sesuatu yang paling berharga bagi manusia. Apabila seseorang mengetahui nilainya, ia tidak akan menjualnya kecuali dengan harga yang paling mahal, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka.” (QS at-Taubah: 111)
Namun, apabila seseorang tidak mengetahui nilai dirinya, ia akan menjualnya dengan kerugian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat.’ Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS az-Zumar: 15)
Sesungguhnya orang-orang beriman, ketika mengetahui nilai diri mereka, mereka menjualnya dengan surga-surga yang merupakan sesuatu yang paling mahal. Mereka menjualnya kepada Allah, yang lebih menyayangi mereka daripada ibu-ibu mereka sendiri, Yang Mahakaya dan Mahamenepati janji, Yang melipatgandakan kebaikan-kebaikan dan memaafkan berbagai keburukan.
Adapun orang-orang yang melampaui batas, mereka telah menjual diri mereka kepada musuh mereka, yaitu setan, dengan harga yang paling murah. Mereka menjualnya demi syahwat sesaat, kenikmatan yang segera lenyap, kehinaan yang terus-menerus, dan Neraka yang menyala-nyala.
وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Sungguh sangat buruk apa yang dengan itu mereka menjual diri mereka sendiri, sekiranya mereka mengetahui.” (QS al-Baqarah: 102)
وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Sekiranya mereka beriman dan bertakwa, sungguh pahala dari sisi Allah lebih baik, sekiranya mereka mengetahui.” (QS al-Baqarah: 103)
Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang fasik.” (QS al-Hasyr: 19)
وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ … إِلَخْ
Baca juga: DAHSYATNYA PERISTIWA HARI KIAMAT
Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA HARI AKHIR
Baca juga: PERSIAPAN UNTUK MENGHADAPI HARI AKHIR
Baca juga: HARI KIAMAT – KEADAAN MANUSIA KETIKA DIKUMPULKAN
Baca juga: GAMBARAN KEBANGKITAN DAN KEADAAN MANUSIA PADA HARI KIAMAT
(Syekh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan)

