HUKUM MENGINGKARI KEBERADAAN JIN

HUKUM MENGINGKARI KEBERADAAN JIN

Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan ditanya: 

Di zaman sekarang banyak orang membicarakan jin yang merasuki diri manusia. Di antara mereka mengingkari peristiwa itu. Bahkan sebagiannya mengingkari keberadaan jin sama sekali. Apakah hal ini berpengaruh terhadap akidah seorang muslim? Apakah ada keharusan beriman dengan keberadaan jin? Apakah perbedaan antara jin dan malaikat?

Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjawab: 

Mengingkari keberadaan jin adalah kufur dan murtad dari Islam, karena ia telah mengingkari sesuatu yang terdapat di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang memberitakan keberadaan jin. Beriman dengan keberadaan jin termasuk beriman dengan perkara gaib, karena kita tidak dapat melihat mereka. Kita meyakini keberadaan mereka berdasarkan berita yang benar.

Allah Ta’ala berfirman tentang iblis dan tentaranya:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَتَرَوْنَهُمْ

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak dapat melihat mereka.” (QS al-A’raf: 27)

Adapun mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh manusia tidak sampai membawa kepada kekufuran. Ia hanya keliru dan mendustakan hal yang terdapat dalam dalil-dalil syara’ yang kuat dan kenyataan yang berulang kali terjadi. Karena samarnya masalah ini, orang yang menentang masuknya jin ke dalam tubuh manusia tidak dikafirkan, tetapi dianggap salah, karena dalam mengingkari hal itu ia tidak berpegang kepada dalil. Ia hanya berpegang kepada akal dan pemahaman. Sedangkan akal tidak dapat dijadikan standar dalam perkara gaib. Akal juga tidak dapat diutamakan di atas dalil syara’ kecuali di sisi orang yang sesat.

Mengenai perbedaan jin dan malaikat aku dapat sebutkan bahwa:

🅰️ Dari asal kejadian, jin diciptakan dari api yang sangat panas, sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya.

🅱️ Sesungguhnya malaikat adalah hamba-hamba yang taat kepada Allah Ta’ala serta mulia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ . لاَيَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ

Dan mereka berkata, ‘Yang Mahapemurah telah mengambil (mempunyai) anak.’ Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS al-Anbiya’: 26-27)

Dan firman-Nya:

لاَّيَعْصُونَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَايُؤْمَرُونَ

Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Adapun jin, di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang mengabarkan keadaan mereka:

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ

Dan sesungguhnya di antara kami ada yang Islam dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran.” (QS al-Jinn:14)

Di antara mereka ada yang taat dan ada pula yang maksiat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا

Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS al-Jinn: 11)

Serta ayat-ayat yang lain.

Baca juga: BERIMAN KEPADA YANG GAIB

Baca juga: HIKMAH PENCIPTAAN JIN DAN MANUSIA

Baca juga: SYIRIK KEPADA ALLAH

(Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan)

Akidah