HAKIKAT IHSAN DALAM IBADAH

HAKIKAT IHSAN DALAM IBADAH

Kemudian ia berkata, “(Beritahukan kepadaku tentang) ihsan.”

Ihsan berasal dari kata ahsana–yuhsinu, yaitu masdar dari ahsana–yuhsinu, yang bermakna berbuat baik.

Ihsan terbagi menjadi dua:

Pertama: ihsan dalam hak Allah, yaitu kamu membangun ibadahmu di atas keikhlasan kepada Allah Ta’ala dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap kali kamu semakin ikhlas dan semakin mengikuti, maka ihsanmu semakin sempurna.

Kedua: ihsan kepada makhluk, yaitu memberikan kebaikan kepada mereka, baik dengan harta, kedudukan (jabatan atau pengaruh), maupun dengan selainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”

Ibadah kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan dua perkara: keikhlasan kepada-Nya dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, ibadah seorang hamba kepada Rabb-nya —Subhanahu— seakan-akan ia melihat-Nya. Ibadah pada tingkatan ini adalah ibadah yang disertai tuntutan dan kerinduan. Seorang hamba merasakan dalam dirinya dorongan yang kuat untuk beribadah, karena ia mencari Dzat yang ia cintai. Maka ia beribadah kepada-Nya seakan-akan ia melihat-Nya, menghadap dan menuju kepada-Nya, serta mendekatkan diri kepada-Nya, Subhanahu wa Ta’ala.

Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sungguh Dia melihatmu.” Yaitu, beribadahlah kepada-Nya dengan rasa takut dan janganlah kamu menyelisihi-Nya. Sebab, jika kamu menyelisihi-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Maka kamu pun beribadah kepada-Nya sebagai ibadah orang yang takut kepada-Nya, lari dari azab dan hukuman-Nya. Tingkatan ini, menurut para ahli ibadah, lebih rendah daripada tingkatan yang pertama.

Dengan demikian, ihsan memiliki dua tingkatan: tingkatan mencari (thalab) dan tingkatan melarikan diri (harab)

Tingkatan mencari adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Tingkatan melarikan diri adalah kamu beribadah kepada Allah dengan kesadaran bahwa Dia melihatmu. Maka berhati-hatilah terhadap-Nya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ

Dan Allah memperingatkan kalian terhadap (siksa) diri-Nya sendiri.” (QS Ali ‘Imran: 30)

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa kedua kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda, dan yang pertama adalah yang paling sempurna. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan yang kedua sebagai tingkatan berikutnya.

Baca juga: IHSAN MERUPAKAN DASAR AJARAN ISLAM YANG AGUNG

Baca juga: TINGKATAN MUSLIM DITINJAU DARI SHALATNYA

Baca juga: MEMAHAMI AGAMA ADALAH TANDA KEBERUNTUNGAN

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Arba'in an-Nawawiyyah Kelembutan Hati