Dari Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدِّينُ النَّصِيحَةُ، الدِّينُ النَّصِيحَةُ،الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat. Agama adalah nasihat. Agama adalah nasihat.”
Para sahabat bertanya, “Kepada siapa wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda,
لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ
“Kepada Allah, kepada Kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan kepada seluruh kaum muslimin.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 55)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi kalimat ini sebagai bentuk perhatian terhadap pentingnya perkara tersebut, sekaligus sebagai bimbingan kepada umat agar mereka mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa seluruh agama, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, tercakup dalam nasihat.
Nasihat adalah menunaikan secara sempurna lima hak yang disebutkan dalam hadis tersebut.
Adapun nasihat kepada Allah adalah mengakui keesaan Allah, mengakui bahwa hanya Dia yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan secara mutlak yang tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya dalam bentuk apa pun, serta menunaikan ibadah kepada-Nya lahir dan batin.
Juga senantiasa kembali kepada-Nya setiap waktu dengan ibadah, memohon kepada-Nya dengan penuh harap dan takut, disertai tobat dan istighfar yang terus-menerus. Sebab, seorang hamba pasti tidak akan lepas dari kekurangan dalam sebagian kewajiban yang Allah perintahkan atau terjerumus dalam sebagian perkara yang Allah haramkan. Dengan tobat yang terus-menerus dan istighfar yang berkesinambungan, kekurangannya akan tertutupi dan amal serta ucapannya akan menjadi sempurna.
Adapun nasihat kepada Kitab Allah adalah dengan menghafalnya, mentadabburinya, mempelajari lafaz-lafaz dan makna-maknanya, serta bersungguh-sungguh mengamalkannya pada diri sendiri dan mengajarkannya kepada orang lain.
Adapun nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan beriman kepada beliau, mencintai beliau, dan mendahulukan beliau dalam kecintaan di atas diri sendiri, harta, dan anak. Juga dengan mengikuti beliau dalam pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya, mendahulukan sabda beliau di atas perkataan siapa pun, bersungguh-sungguh meneladani petunjuk beliau, serta membela agama yang beliau bawa.
Adapun nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin —yaitu para pemegang kekuasaan, mulai dari pemimpin tertinggi, para gubernur atau penguasa daerah, para hakim, hingga semua yang memiliki kewenangan umum maupun khusus— adalah dengan meyakini keabsahan kepemimpinan mereka, mendengar dan taat kepada mereka, serta mendorong masyarakat untuk melakukan hal yang sama.
Termasuk nasihat kepada mereka adalah memberikan bimbingan dan arahan semampunya, mengingatkan mereka tentang segala sesuatu yang bermanfaat bagi mereka dan bagi masyarakat, serta membantu mereka untuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawab mereka.
Adapun nasihat kepada seluruh kaum muslimin adalah dengan mencintai untuk mereka apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci untuk mereka apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Ia juga berusaha mewujudkan hal itu sesuai dengan kemampuannya. Sebab, barang siapa mencintai sesuatu, maka ia akan berusaha untuk meraihnya dan bersungguh-sungguh dalam mewujudkan serta menyempurnakannya.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan makna nasihat dengan lima perkara ini, yang mencakup penunaian hak-hak Allah, hak-hak Kitab-Nya, hak-hak Rasul-Nya, dan hak-hak seluruh kaum muslimin dalam berbagai keadaan dan tingkatan mereka. Dengan demikian, seluruh agama telah tercakup dalam penjelasan ini. Tidak ada satu bagian pun dari agama kecuali termasuk dalam kalimat yang ringkas namun mencakup segala sesuatu ini.
Wallahu a’lam.
Baca juga: AGAMA ADALAH NASIHAT (1)
Baca juga: AGAMA ADALAH NASIHAT (2)
Baca juga: SEMPURNANYA IMAN DENGAN NASIHAT DAN CINTA UNTUK SESAMA
Baca juga: BENTUK-BENTUK NASIHAT UNTUK PEMIMPIN
Baca juga: KISAH ABU BAKR – NASIHAT YANG MENYENTUH DAN KETEGUHAN DALAM MENGHADAPI KESULITAN
(Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

