KISAH ABU BAKR – NASIHAT YANG MENYENTUH DAN KETEGUHAN DALAM MENGHADAPI KESULITAN

KISAH ABU BAKR – NASIHAT YANG MENYENTUH DAN KETEGUHAN DALAM MENGHADAPI KESULITAN

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menyampaikan berbagai khotbah yang mulia dan nasihat yang menyentuh dari atas mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu hari dia berdiri dan berkhotbah, “Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, memuji-Nya dengan apa yang patut bagi-Nya, menggabungkan harap dan takut, dan selalu memohon kepada Allah tanpa kenal jemu. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyanjung Zakariya dan keluarganya. Dia berfirman, ‘Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.’ (al-Anbiya: 90)

Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah telah menggadaikan hak-Nya atas diri kalian. Dia telah mengambil perjanjian dari kalian atas hal itu. Dia membeli yang sedikit lagi fana dari kalian dengan yang banyak lagi abadi. Ini Kitab Allah ada di tengah-tengah kalian. Keajaiban-keajaibannya tidak pernah habis. Cahayanya tidak akan padam. Maka benarkanlah kata-kata-Nya, patuhilah kitab-Nya, ambillah cahayanya untuk menghadapi hari kegelapan, karena sesungguhnya Dia menciptakan kalian untuk beribadah kepada-Nya. Dia menugaskan para malaikat pencatat yang mulia kepada kalian. Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan.

Kemudian ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya kalian beramal pagi dan petang untuk ajal yang ilmunya disembunyikan dari kalian. Bila saat ajal tiba kalian mampu berada dalam suatu amalan karena Allah, maka lakukanlah. Namun kalian tidak akan sanggup melakukan yang demikian itu kecuali dengan pertolongan Allah. Maka bersegeralah di sisa umur kalian sebelum ajal tiba dan sebelum kalian dikembalikan kepada amal buruk kalian. Sesungguhnya suatu kaum menyerahkan waktunya kepada orang lain dan melupakan diri sendiri. Oleh karena itu, aku melarang kalian dari meniru perbuatan mereka. Bersegeralah! Bersegeralah! Selamatkanlah! Selamatkanlah! Sesungguhnya di belakang kalian ada pemburu yang bergerak gesit dan urusannya pun sangat cepat.”

Di antara keutamaan Abu Bakr adalah keteguhan hatinya, keberaniannya dan kecemerlangan akalnya dalam keadaan-keadaan sulit yang dihadapi oleh orang-orang besar dan para pahlawan. Di antaranya adalah di Perang Badar, Perang Uhud, Perjanjian Hudaibiyah, saat dan sesudah Rasulullah wafat, tatkala orang-orang Arab murtad dan menolak membayar zakat, dan tatkala pendapat para sahabat berbeda-beda karena orang-orang yang menolak zakat itu tetap mengakui tauhid. Maka Abu Bakr berkata, “Zakat adalah hak harta. Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang membedakan salat dan zakat. Demi Allah, seandainya mereka tidak mau memberikan kepadaku seekor anak domba padahal dahulu mereka biasa menyerahkannya kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka.”

Abu Bakr pasang badan. Dia turun tangan langsung, menyingsingkan lengan bajunya hingga semua pihak menerima pendapatnya. Dia belum wafat sehingga agama sudah tegak dan urusan orang-orang murtad telah usai. Oleh karena itu, Aisyah berkata, “Rasulullah wafat, lalu bapakku memikul sebuah beban yang kalau dipikul oleh gunung-gunung yang kokoh, niscaya ia menghancurkannya.” Aisyah berkata demikian dalam konteks membantah orang-orang yang mencela bapaknya.

Baca sebelumnya: KISAH ABU BAKR – LAKI-LAKI YANG BANYAK MENANGIS

Baca setelahnya: KISAH ABU BAKR – MENGUMPULKAN AL-QUR’AN

(Dr Abdul Hamid as-Suhaibani)

Kisah