Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta semoga Allah mengucapkan salam dengan sebenar-benarnya.
Amma ba’du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan pahamilah agama kalian, baik dalam akidah maupun hukum-hukumnya. Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menjadikannya paham dalam agama. Pelajarilah syariat Allah Ta’ala agar kalian beribadah kepada-Nya di atas ilmu dan mengajak kepada-Nya di atas ilmu. Sesungguhnya tidaklah sama antara orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Tuntutlah ilmu, karena ilmu adalah cahaya dan petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan dan kesesatan. Tuntutlah ilmu, karena ilmu bersama iman merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman:
رْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS al-Mujadilah: 11)
Tuntutlah ilmu, karena ilmu adalah warisan para nabi. Para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ لَا نُورَثُ
“Sesungguhnya kami, para nabi, tidak diwariskan (harta).” (Diriwayatkan oleh Ahmad)
وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ مِنْ مِيرَاثِهِمْ
“Dan sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat besar dari warisan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Tuntutlah ilmu, karena ia adalah bekal bagi kalian dalam kehidupan dan setelah kematian.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat darinya, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan an-Nasa’i)
Tuntutlah ilmu agar kalian memiliki sebutan yang baik di kalangan generasi setelah kalian, karena jejak-jejak ilmu tetap bertahan setelah para pemiliknya tiada. Para ulama rabbani, jejak mereka senantiasa terpuji, jalan hidup mereka selalu dikenang, nama baik mereka tetap disebut, dan kedudukan mereka senantiasa dijunjung tinggi. Jika mereka disebut dalam majelis-majelis, maka majelis itu dipenuhi pujian dan doa untuk mereka. Jika amal-amal saleh dan adab-adab luhur mereka disebutkan, maka mereka menjadi teladan bagi manusia.
وَمَنْ كَانَ مَيِّتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
“Maka apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (QS al-An’am: 122)
Tuntutlah ilmu dengan mengharapkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan janganlah kalian menuntutnya untuk memperoleh bagian dari dunia. Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dituntut untuk mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium bau Surga pada Hari Kiamat.
Aroma Surga dapat tercium dari jarak perjalanan yang sangat jauh.
Tuntutlah ilmu agar kalian dapat menghilangkan kebodohan dari diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, lalu Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati agar kalian bersyukur. Tidak ada ilmu kecuali dengan belajar.
Tuntutlah ilmu agar kalian dapat menghilangkan kebodohan dari hamba-hamba Allah. Sebarkanlah ilmu di tengah manusia, karena para pemilik ilmu berkewajiban menyampaikannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (Merupakan bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari)
Dan beliau bersabda,
لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Tuntutlah ilmu agar dengannya kalian dapat menjaga syariat Allah Ta’ala. Sesungguhnya syariat ini terjaga melalui dua hal: tulisan dan hafalan di dalam dada, dan itulah ilmu.
Tuntutlah ilmu agar kalian dapat membela syariat Allah. Karena yang membela syariat hanyalah para ulama. Jika kalian melihat seorang yang sesat, ahli bid’ah, menyimpang, atau menyimpang dari kebenaran, lalu ia mengajak manusia kepada kesesatannya di tengah kaum yang tidak memiliki ilmu, apakah ada di antara mereka yang mampu menjelaskan kesesatannya dan melindungi syariat dari gangguannya?
Seandainya orang yang sesat mengajak kepada kesesatannya, sementara di sekelilingnya terdapat kitab-kitab tentang kebenaran dan petunjuk yang tidak terhitung jumlahnya, maka kitab-kitab itu tidak akan mampu berbicara. Satu kitab saja dapat menjelaskan kesesatannya dan membantah penyimpangannya jika dibaca, namun kitab itu tidak dapat melakukannya dengan sendirinya.
Jika orang yang sesat itu mengajak kepada kesesatannya di tengah suatu kaum yang memiliki seorang alim, niscaya alim tersebut akan bangkit menjelaskan kesesatannya, menghancurkan hujahnya, dan membatalkan seruannya.
Tuntutlah ilmu agar kalian dapat berdakwah kepada Allah Ta’ala dengannya. Karena dakwah kepada Allah tidak akan sempurna tanpa ilmu. Betapa banyak orang yang menempatkan dirinya sebagai penyeru kepada Allah, namun ia tidak memiliki ilmu. Akibatnya, dakwahnya tidak sempurna dan tidak tersebar. Bahkan terkadang ia berbicara tanpa ilmu sehingga lebih banyak merusak daripada memperbaiki.
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: ‘Inilah jalanku. Aku mengajak kepada Allah di atas ilmu yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Dan Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya.’” (QS Yusuf: 108)
Wahai manusia, sesungguhnya menuntut ilmu termasuk amalan yang paling utama karena tujuan-tujuan agung yang terkandung di dalamnya, terutama pada zaman kita ini ketika manusia begitu sibuk mengejar dunia dan berbagai tuntutannya, sementara para pembaca yang berpengetahuan banyak, tetapi para ahli fikih yang mengamalkan ilmunya sedikit.
Buah dari ilmu adalah mengamalkannya dan berdakwah kepada Allah dengannya. Barang siapa tidak mengamalkan ilmunya, maka ilmunya akan menjadi bencana baginya. Barang siapa tidak mengajarkan ilmunya kepada manusia, maka ilmunya hanya terbatas pada dirinya sendiri.
Barang siapa mengamalkan ilmu yang telah Allah karuniakan kepadanya, niscaya Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya.” (QS Muhammad: 17)
Termasuk akibat meninggalkan pengamalan ilmu adalah dicabutnya ilmu tersebut dari seseorang.
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ
“Maka karena mereka melanggar perjanjian, Kami melaknat mereka dan menjadikan hati mereka keras. Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya dan mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka.” (QS al-Ma’idah: 13)
Dikatakan: “Ilmu memanggil amal. Jika amal menyambutnya, ia akan tetap tinggal. Jika tidak, ia akan pergi.”
Dikatakan pula: “Ikatlah ilmu dengan amal sebagaimana kalian mengikatnya dengan tulisan.”
Wahai manusia, sesungguhnya untuk memperoleh ilmu ada dua jalan:
Pertama: mengambil ilmu dari kitab-kitab yang terpercaya, yaitu kitab-kitab yang para ulama penyusunnya dikenal baik ilmu dan amanahnya.
Kedua: mengambil ilmu dari seorang guru yang terpercaya dalam ilmu dan agamanya. Akan tetapi, cara ini lebih selamat, lebih cepat, dan lebih kokoh dalam memperoleh ilmu. Sebab, orang yang hanya mengambil ilmu dari kitab-kitab bisa saja tersesat tanpa menyadarinya, baik karena buruknya pemahaman, kurangnya ilmu, maupun sebab-sebab lainnya. Selain itu, pada cara yang kedua terdapat diskusi, tanya jawab, dan saling memberi tanggapan, sehingga terbuka bagi penuntut ilmu berbagai pintu besar dalam memahami ilmu, melakukan penelitian yang benar, mengetahui cara membela pendapat yang sahih, serta mengenali dan membantah pendapat-pendapat yang lemah.
Apabila seorang penuntut ilmu menggabungkan kedua cara tersebut, yaitu belajar dari kitab-kitab dan dari para guru, maka itu lebih sempurna dan lebih lengkap.
Hendaklah seorang penuntut ilmu memulai dengan ilmu yang paling penting terlebih dahulu, serta dengan ringkasan-ringkasan ilmu sebelum kitab-kitab yang panjang dan mendalam. Ia hendaklah naik secara bertahap dari satu tingkatan ke tingkatan yang lebih tinggi. Janganlah ia naik ke suatu tingkat sebelum ia benar-benar menguasai tingkat yang berada di bawahnya, agar pendakiannya berlangsung dengan benar dan kokoh.
Wahai manusia, sesungguhnya menuntut ilmu adalah fardu kifayah. Apabila telah ada orang yang menunaikannya, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lainnya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada apa yang telah Dia wajibkan atasnya.
Apabila seseorang membutuhkan suatu jenis ilmu tertentu, maka ilmu itu menjadi fardu ‘ain baginya. Barang siapa ingin berwudu, wajib baginya mempelajari tata cara berwudu. Barang siapa ingin melaksanakan shalat, wajib baginya mempelajari tata cara shalat. Barang siapa memiliki harta, wajib baginya mempelajari bagaimana menunaikan zakatnya. Barang siapa ingin berpuasa, wajib baginya mempelajari tata cara puasa dan hal-hal yang membatalkannya. Barang siapa ingin menunaikan haji, wajib baginya mempelajari tata cara berhaji agar ia dapat beribadah kepada Allah di atas ilmu dan petunjuk yang jelas.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan kalian menuju petunjuk dan kebenaran, serta menjauhkan kita dari kesesatan dan kerusakan.
Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, berilah kami manfaat dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu. Wahai Rabb semesta alam.
Baca juga: MENGAPA HARUS BERILMU?
Baca juga: KEUTAMAAN ILMU SYAR’I
Baca juga: BANYAKNYA JALAN KEBAIKAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

