MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN

MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ أَعْمَالُ أُمَّتِي حَسَنُهَا وَ سَيِّئُهَا. فَوَجَدْتُ فِي مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الْأَذَى يُمَاطُ عَنْ الطَّرِيقِ. وَ وَجَدْتُ فِي مَسَاوِئِ أَعْمَالِهَا النُّخَاعَةُ تَكُونُ فِي الْمَسْجِدِ لَا تُدْفَنُ

Semua amal umatku diperlihatkan kepadaku, yang baik maupun yang buruk. Aku mendapatkan di antara kebaikannya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan aku mendapatkan di antara keburukannya adalah dahak yang dibiarkan di masjid tanpa dikubur atau dibersihkan.” (HR Muslim)

PENJELASAN

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua amal umatku diperlihatkan kepadaku, yang baik maupun yang buruk.” Maksudnya, Allah Azza wa Jalla memperlihatkan dan menjelaskan semua amal umat ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Dia berhak mengharamkan dan mewajibkan amal hamba-hamba-Nya.

Allah Azza wa Jalla memperlihatkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam amal baik dan amal buruk umat ini. Di antara amal baik umat ini adalah ‘menyingkirkan gangguan dari jalan’, yaitu menghilangkan benda-benda yang mengganggu pengguna jalan, seperti duri, ranting, batu, pecahan kaca, dan kotoran. Oleh karena itu, menyingkirkan benda-benda itu dari jalan tergolong amal saleh dan sedekah yang mendatangkan pahala sedekah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dalam sabdanya,

 الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً. أَعْلَاهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ. وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ. وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َالْإِيْمَانُ

Iman terbagi menjadi tujuh puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan ‘la ilaha illallah‘. Yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan malu termasuk cabang iman.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Jika kita mendapati sesuatu yang mengganggu di jalan, hendaklah kita meyingkirkannya. Sebab, perbuatan ini tergolong amal saleh dan sedekah, serta merupakan tanda keimanan atau bagian dari iman. Jika perbuatan ini tergolong sedekah dan amal saleh, maka meletakkan sesuatu yang mengganggu di jalan tergolong amal buruk. Orang yang membuang kulit pisang, jeruk, botol minuman dan sebagainya di jalan telah mengganggu pengguna jalan. Perbuatan ini adalah perbuatan dosa, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS al-Ahzab: 58)

Sebagian ulama mengatakan bahwa apabila manusia atau hewan terjatuh karena benda yang dibuang di jalan, maka orang yang membuangnya harus bertanggung jawab. Ia harus membayar diat atau denda, karena perbuatan itu tergolong menyakiti kaum muslimin.

Begitu pula, membuang air kotor di jalan atau di pasar masuk dalam ‘mengganggu orang lain’. Ketika mobil lewat, air itu menciprat dan mengotori pakaian orang yang ada di sekitarnya. Air itu bisa juga merusak aspal jalan.

Sebagian umat Islam tidak peduli dengan persoalan ini. Mereka membuang sampah di jalan atau pasar, membuang pecahan kaca, ranting pohon, atau meletakkan batu besar di jalan. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menyingkirkan gangguan dari jalan setiap kali melihatnya. Perbuatan ini tergolong amal saleh dan sedekah.

Sabda beliau, “Dan aku mendapatkan di antara keburukannya adalah dahak yang dibiarkan di masjid tanpa dikubur atau dibersihkan.”

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantai masjid masih berupa pasir. Jika terdapat dahak di sana, dahak itu dikubur. Di zaman sekarang lantai masjid terbuat dari keramik, granit atau marmer. Jika terdapat kotoran seperti tisu bekas, hendaklah kotoran itu diambil.

Membuang dahak di masjid hukumnya haram. Barangsiapa melakukannya, ia berdosa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

البُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ

Meludah di dalam masjid adalah dosa.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bersalah orang yang membuang dahak di masjid. Kafarat atas kesalahannya adalah menguburnya. Maksudnya, jika ingin bertobat, ia cukup mengubur dahak itu, dan itu apabila lantai masjid berupa pasir. Di zaman sekarang membersihkan lantai dari dahak cukup dengan dilap dengan sapu tangan atau tisu.

Jika dahak yang terkesan sepele saja hukumnya seperti itu, bagaimana dengan gangguan yang lebih besar dari dahak? Orang yang masuk masjid dengan memakai sepatu dan tanpa memeriksanya terlebih dahulu telah melakukan kesalahan. Gangguan yang ditimbulkan adalah lebih besar daripada dahak atau ludah. Dia terbebani kafarat karena telah mengotori masjid.

Di antaranya juga orang yang meludah di tisu, lalu tisu itu dibuang di masjid. Perbuatan ini tentu mengganggu orang lain karena mereka merasa jijik. Apalagi itu terjadi di rumah Allah. Menaruhnya di saku sebelum membuang pada tempatnya adalah lebih baik dan tidak mengganggu orang lain.

Baca juga: LIMA HAK JALAN

Baca juga: MEMPERBANYAK JALAN KEBAIKAN

Baca juga: MENOLAK SEGALA KEBURUKAN DAN GANGGUAN

Baca juga: SETIAP RUAS TULANG WAJIB BERSEDEKAH

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati