DEMAM YATSRIB

DEMAM YATSRIB

Ketika baru tiba di Madinah, kaum Muhajirin menghadapi masalah kesehatan karena diserang demam Yatsrib. Banyak di antara mereka melaksanakan shalat dalam keadaan duduk. Namun, Allah melindungi Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari penyakit tersebut.

Abu Bakar dan Bilal radhiyallahu ‘anhuma menderita demam. Dalam kondisi itu, Abu Bakar berkata:

     Setiap orang menyambut pagi di tengah keluarganya,

     Sementara kematian lebih dekat daripada tali terompahnya

Bilal, setelah sembuh dari demam, berkata:

     Duhai, akankah aku bermalam lagi di malam ini,

     di lembah yang dikelilingi oleh pohon idzkhir dan jalil?

     Masihkah aku bisa minum dari sumur Majannah?

     Masihkah akan tampak olehku Syamah dan Thafil?

Aisyah radhiyallahu ‘anha mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan ucapan mereka kepada beliau.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, tanamkanlah kecintaan kami kepada Madinah sebagaimana kecintaan kami kepada Makkah, bahkan lebih dari itu. Perbaikilah kota ini, dan berkahilah dalam takaran sha’ dan mud-nya. Pindahkanlah penyakit demamnya ke Juhfah.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menderita demam, begitu pula Ibnu Fuhairah. Madinah memang dikenal sebagai kota yang rawan demam, hingga ketika kaum muslimin menunaikan umrah qadha’, orang-orang musyrik berkata tentang mereka, “Sesungguhnya mereka datang dalam keadaan lemah karena demam yang menimpa Yatsrib.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama thawaf dan berjalan biasa di antara dua rukun agar kaum musyrikin melihat kekuatan mereka serta mengetahui bahwa demam tidak melemahkan kaum muslimin, sebagaimana yang disangka oleh orang-orang kafir.

Allah pun mengabulkan doa Nabi-Nya dan menjadikan Madinah sebagai negeri terbaik setelah itu.

Baca sebelumnya: PENAMAAN YATSRIB MENJADI THAYBAH, THABAH DAN MADINAH

Baca setelahnya: PERMUSUHAN TERSEMBUNYI ABDULLAH BIN UBAY DAN ANCAMAN QURAISY

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah