Abdullah bin Ubay bin Salul adalah tokoh paling terkemuka di Madinah. Sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kaumnya telah merencanakan pengangkatannya sebagai raja. Namun, rencana itu batal setelah Rasulullah hijrah ke Madinah dan menjadi pemimpin dengan mahkota kenabian.
Keislaman Abdullah bin Ubay datang lebih lambat dibandingkan yang lain, karena ia merasa bahwa Rasulullah telah merebut kekuasaan yang hampir ia raih. Sejak saat itu, ia menyimpan permusuhan terhadap beliau. Meskipun akhirnya menyatakan masuk Islam, permusuhannya tidak berhenti. Hanya saja berubah bentuk menjadi kemunafikan. Banyak sekali sikap dan tindakannya yang menunjukkan sifat munafik.
Salah satu buktinya adalah perkataan Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Rasulullah, maafkanlah dia dan bersikaplah lapang dada terhadapnya. Demi Dzat yang menurunkan Kitab ini kepadamu, sungguh Allah telah membawa kebenaran yang Dia turunkan kepadamu. Dahulu, penduduk kota ini telah bersiap untuk memakaikannya mahkota dan menjadikannya raja. Namun ketika Allah menolak hal itu dengan kebenaran yang diberikan-Nya kepadamu, ia pun terpaksa menerima kenyataan, lalu bersikap seperti yang engkau saksikan sekarang.”
Dalam riwayat lain, Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, kasihanilah dia. Demi Allah, sungguh Allah telah mendatangkan engkau kepada kami saat kami sedang mempersiapkan pengangkatannya sebagai raja. Maka demi Allah, ia pun menganggap bahwa engkau telah merampas kekuasaannya.”
Orang-orang Quraisy seolah-olah menemukan kembali barang berharga yang hilang pada diri Ibnu Ubay, karena agamanya masih sejalan dengan mereka. Mereka pun mengirimkan surat kepadanya, memintanya untuk menjalankan berbagai makar dan tipu daya terhadap kaum muslimin, serta mengulangi peran yang dulu mereka mainkan di Makkah dalam menghadang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
Dalam surat itu mereka menulis: “Sesungguhnya kalian telah menampung teman kami (Muhammad). Demi Allah, hendaklah kalian memeranginya atau mengusirnya. Jika tidak, kami akan datang menyerang kalian dengan seluruh kekuatan kami, hingga kami membunuh seluruh prajurit kalian dan menawan kaum perempuan kalian.”
Ibnu Ubay pun melaksanakan perintah orang-orang kafir Quraisy. Ia menggalang kekuatan dengan mengumpulkan orang-orang kafir Madinah untuk memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika kabar ini sampai kepada Rasulullah, beliau segera menanggapi dengan bijak dan penuh hikmah. Beliau berkata kepada penduduk Madinah yang belum beriman, “Telah sampai kepada kalian ancaman dari Quraisy. Mereka berusaha menipu kalian dengan sesuatu yang sebenarnya tidak kalian inginkan. Apakah kalian ingin memerangi anak-anak dan saudara-saudara kalian sendiri?”
Mendengar perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun membubarkan diri.
Setelah itu, orang-orang kafir Makkah mengirim seorang utusan kepada kaum muslimin di Madinah. Utusan itu berkata, “Jangan kalian mengira bahwa kalian telah terbebas dari kami hanya karena berada di Yatsrib ini. Sungguh, kami akan datang kepada kalian, membunuh kalian semua, dan memusnahkan seluruh kebun kalian di rumah kalian sendiri.”
Sebagai bentuk kewaspadaan terhadap berbagai tipu daya orang-orang Quraisy, kaum muslimin bergiliran menjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari. Mereka melakukannya dengan penuh kehati-hatian dan kecintaan, hingga akhirnya turun firman Allah Ta’ala: “Dan Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia.” (QS al-Ma’idah: 67)
Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Wahai manusia, tinggalkanlah aku! Sesungguhnya Allah telah menjagaku.”
Pada malam itu, ketika Sa’ad bin Abu Waqqash datang untuk menjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir akan keselamatan beliau, Rasulullah pun mendoakannya dengan kebaikan.
Bahaya tidak hanya mengancam pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi juga para sahabat beliau. Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Ketika Rasulullah dan para sahabat datang ke Madinah dan disambut oleh kaum Anshar, orang-orang Arab mulai berusaha menyerang mereka dengan busur. Karena itu, kami tidak tidur kecuali dalam keadaan membawa senjata, dan ketika bangun pun senjata masih berada di tangan kami.”
Salah satu upaya kaum Quraisy dalam menghadang jalan Allah adalah dengan mencoba menghalangi kaum Anshar agar tidak dapat mendatangi Masjidil Haram. Hal ini tampak jelas dalam kisah yang terjadi antara Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dan Abu Jahal.
Ketika itu, Sa’ad bin Mu’adz datang ke Makkah untuk melaksanakan umrah. Ia meminta kepada Umayyah bin Khalaf —tuan rumahnya di Makkah— untuk mencarikan waktu yang sepi agar ia bisa melakukan thawaf dengan aman. Umayyah pun membawanya thawaf di waktu tengah hari, saat orang-orang sedang beristirahat. Namun, mereka bertemu dengan Abu Jahal yang segera bertanya kepada Umayyah tentang keperluan Sa’ad. Setelah Umayyah menjelaskan maksud kedatangannya, Abu Jahal marah dan berkata, “Engkau berharap bisa thawaf di Ka’bah dengan aman, sementara kalian telah menampung Muhammad dan para sahabatnya?”
Mereka pun terlibat pertengkaran sengit.
Di antara ucapan Sa’ad kepada Abu Jahal adalah, “Demi Allah, jika engkau melarangku thawaf di Ka’bah, niscaya aku akan memutus jalur perniagaanmu ke Syam!”
Ia juga mengancam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membunuhnya. Dan benar, Allah pun membinasakannya dalam Perang Badar.
Baca sebelumnya: DEMAM YATSRIB
Baca setelahnya: IZIN UNTUK BERPERANG
(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

