MENUNAIKAN ZAKAT DENGAN LAPANG DADA

MENUNAIKAN ZAKAT DENGAN LAPANG DADA

Dari Abdullah bin Muawiyah al-Ghadhiri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ طَعِمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ، مَنْ عَبَدَ اللَّهَ وَحْدَهُ بِأَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّاهُوَ، وَأَعْطَى زَكَاةَ مَالِهِ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ، وَلَمْ يُعْطِي الْهَرِمَةَ وَلَا الدَّرِنَةَ وَلَا الْمَرِيضَةَ وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهَا وَلَمْ يَأْمُرْكُمْ بِشَرِّهَا، وَزَكَّى نَفْسَهُ

Ada tiga perkara yang barangsiapa mengerjakannya, ia telah merasakan manisnya iman, yaitu (1) Orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia; (2) Orang yang mengeluarkan zakat hartanya dengan senang hati setiap tahun. Ia tidak memberikan (hewan ternak) yang tua, yang cacat, atau yang sakit, akan tetapi dari harta yang tengah-tengah, karena Allah tidak meminta dari kalian yang terbaik dan tidak memerintahkan kalian untuk memberikan yang terburuk; (3) Orang yang menyucikan jiwanya.”

Seseorang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan menyucikan jiwa?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ

Ia tahu bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, ath-Thabrani, dan al-Baihaqi. Lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir)

Iman memiliki rasa manis. Manisnya iman hanya dapat dirasakan oleh orang beriman yang bersungguh-sungguh dalam keimanannya. Di antara sebab untuk merasakan manisnya iman adalah menunaikan zakat harta setiap tahun dengan senang hati, sebagaimana hadis dari  Abdullah bin Muawiyah al-Ghadhiri di atas. Dalam hadis itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan zakat secara khusus tanpa amal-amal saleh yang lain karena jika seorang hamba telah melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala, maka sungguh ia telah memperbaiki hubungan antara dirinya dan Allah Ta’ala, lalu jika ia menunaikan zakat, maka sungguh ia telah memperbaiki hubungan antara dirinya dan hamba-hamba Allah Ta’ala. Dengan amal saleh ini ia akan selamat dan beruntung, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

الۤمّۤ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗاُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Alif Lam Mim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Baqarah: 1-5)

Allah Ta’ala juga berfirman:

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (Surga) dan mata air. Mereka mengambil apa yang diberikan Rabb kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS adz-Dzariyat: 15-19)

Zakat adalah sebutan untuk kadar atau ukuran harta yang harus dibayarkan oleh orang-orang kaya kepada orang-orang miskin. Dinamakan zakat, karena zakat dapat menyucikan harta dan mengembangkannya, sebagaimana dapat menyucikan dan membersihkan orang yang membayarnya dari kotoran pelit dan kikir.

Allah Ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Mahamendengar, Mahamengetahui.” (QS at-Taubah: 103)

Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan salah satu kewajiban dalam agama Islam. al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijmak umat Islam telah menunjukkan kewajiban zakat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ

Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS al-Baqarah: 43)

Zakat disandingkan dengan salat dalam delapan puluh dua ayat al-Qur’an.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu (1) Syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah; (2) Mendirikan salat; (3) Menunaikan zakat; (4) Ibadah haji; dan (5) Puasa Ramadan.” (Muttafaq ‘alaih)

Ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Islam, beliau menyebutkan lima perkara itu kepadanya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda kepadanya,

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، فَإِنْهُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْهُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْهُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Sesungguhnya engkau akan mendatangi sekelompok kaum dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Oleh karena itu, serulah mereka kepada syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Jika mereka taat dan patuh kepada hal tersebut, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka salat lima waktu setiap hari dan malam. Jika mereka taat dan patuh kepada hal tersebut, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya dari kalangan mereka dan dibayarkan kepada orang-orang fakir dari kalangan mereka. Jika mereka taat dan patuh kepada hal tersebut, maka waspadalah engkau terhadap harta-harta yang mereka muliakan (harta yang mereka sukai) dan waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada hijab antara dia dan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Umat Islam juga telah berijmak akan kewajiban zakat, bahwa zakat merupakan salah satu kewajiban agama. Mereka yang mengingkari kewajiban zakat dihukumi kafir dan keluar dari agama Islam.

Di dalam al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang anjuran dan ajakan menunaikan zakat.

Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sungguh orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, dan menunaikan zakat mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS al-Baqarah: 277)

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS at-Taubah: 71)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۗ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada Hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran: 180)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ، يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ، ثُمَّ تَلَا لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمْ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

Barangsiapa yang Allah berikan karunia harta namun tidak menunaikan zakatnya, maka pada Hari Kiamat kelak hartanya akan diubah wujud menjadi seekor ular berkepala botak yang memiliki dua tanduk kecil dan akan melilitnya pada Hari Kiamat. Lalu ular itu akan mencengkramnya dengan kedua rahangnya, kemudian berkata, Aku adalah hartamu. Aku adalah simpananmu.’ Selanjutnya beliau membaca, ‘Janganlah sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira…’ (QS Ali Imran: 180)” (HR al-Bukhari dan an-Nasa-i)

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙفَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ يَّوْمَ يُحْمٰى عَلَيْهَا فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوٰى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْۗ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, berikanlah kepada mereka kabar gembira (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan di dalam Neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kalian simpan itu.” (QS at-Taubah: 34-35)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

Tidaklah pemilik emas dan perak yang tidak membayar zakatnya, melainkan pada Hari Kiamat akan dibuatkan untuknya seterika api yang dinyalakan di dalam Neraka, lalu diseterikakan ke perut, dahi dan punggungnya. Setiap seterika itu dingin, (seterika itu) dipanaskan kembali, lalu diseterikakan kembali padanya pada satu hari yang lamanya setara dengan lima puluh tahun (di dunia) hingga perkaranya diputuskan. Setelah itu, barulah ia melihat jalannya, apakah ke Surga ataukah ke Neraka.” (HR Muslim dan Abu Dawud)

Oleh karena itu, orang yang diberikan harta oleh Allah Ta’ala wajib menunaikan zakat hartanya dengan senang hati, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan lapang dada dan penuh keridaan, dan sambil mengharap pahala dan balasan dari Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala menerima zakat itu darinya.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik:

وَمَا مَنَعَهُمْ اَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقٰتُهُمْ اِلَّآ اَنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَبِرَسُوْلِهٖ وَلَا يَأْتُوْنَ الصَّلٰوةَ اِلَّا وَهُمْ كُسَالٰى وَلَا يُنْفِقُوْنَ اِلَّا وَهُمْ كٰرِهُوْنَ

Dan yang menghalang-halangi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak melaksanakan salat, melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa).” (QS at-Taubah: 54)

Yaitu tanpa lapang dada dan keteguhan jiwa.

Di dalam firman Allah Ta’ala tersebut terdapat celaan yang sangat keras terhadap orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan harta seperti yang mereka (kaum munafik) lakukan. Jadi, seorang hamba wajib berinfak dengan lapang dada dan teguh hati, sambil mengharapkan balasan dan pahala dari Allah Ta’ala semata, dan tidak meniru perbuatan orang-orang munafik.

Orang yang diberikan harta oleh Allah Ta’ala, ketika hendak menunaikan zakatnya, ia wajib menunaikannya dari hartanya yang pertengahan (tidak terlalu bagus dan tidak terlalu buruk). Amil (petugas) zakat tidak boleh mengambil harta yang paling bagus yang ia miliki. Ia pun tidak boleh mengeluarkan harta yang paling buruk yang ia miliki. Ia wajib mengeluarkan zakat dari harta yang pertengahan, tidak terlalu bagus dan tidak terlalu buruk.

Baca juga: MENDAHULUKAN SEDEKAH WAJIB DARIPADA SEDEKAH SUNAH

Baca juga: AKIBAT MENOLAK MEMBAYAR ZAKAT

Baca juga: ZAKAT UANG GAJI BULANAN

(Dr Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi)

Fikih