HASAN BIN TSABIT: PAHLAWAN DENGAN PENA, BUKAN PEDANG

HASAN BIN TSABIT: PAHLAWAN DENGAN PENA, BUKAN PEDANG

Walaupun Hasan bin Tsabit tidak memperoleh kemuliaan jihad dengan pedang pada perang ini maupun perang-perang lainnya, ia tetap meraih kemuliaan melalui kata-kata yang kuat dalam mengabadikan dan menghidupkan kenangan kepahlawanan kaum muslimin pada perang ini dan peperangan lainnya.

Hasan bin Tsabit termasuk di antara para sahabat yang memiliki halangan. al-Kalbi menyebutkan bahwa sifat pengecut bukanlah bagian dari watak Hasan. Justru ia adalah seorang pemberani. Namun ada suatu halangan yang membuatnya tidak dapat ikut berperang. al-Waqidi menjelaskan alasannya, yaitu salah satu urat di tangannya telah putus sehingga ia tidak mampu memukul dengan tangannya. Hal ini menjelaskan riwayat-riwayat yang menyebutkan ketidakhadirannya dalam peperangan, seperti riwayat ath-Thabrani yang menyebutkan bahwa ia berada bersama anak-anak di benteng Fari’ pada saat perang Uhud.

Datang seorang Yahudi yang mengintip ke dalam benteng, maka Shafiyyah binti ‘Abdul Muththalib meminta Hasan untuk bangkit dan membunuh orang Yahudi tersebut. Namun ia berkata, “Sungguh aku tidak mampu melakukannya, karena jika aku mampu, niscaya aku saat ini berada bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maka Shafiyyah membunuhnya, kemudian ia meminta Hasan melemparkan kepala orang Yahudi itu kepada orang-orang Yahudi yang berada di bawah benteng. Namun ia juga tidak mampu, sehingga Shafiyyah sendiri yang melemparkannya, membuat mereka bubar karena mengira benteng tersebut dijaga oleh para prajurit tempur.

al-Baladzuri dan al-Ya‘qubi juga menyebutkan bahwa kisah tersebut terjadi pada perang Uhud. Sedangkan menurut Ibnu Ishaq dan para ahli sirah lainnya, kisah itu terjadi pada perang Khandaq.

Tidak ada riwayat yang cukup kuat mengenai kisah Hasan dengan Shafiyyah. Namun yang membuat kami menerima riwayat dari al-Waqidi dan al-Kalbi —meskipun terdapat kekurangan pada kedua riwayat tersebut— adalah karena kami mengetahui bahwa Hasan selalu mengecam para penyair, baik pada masa jahiliyah maupun Islam, dan tidak seorang pun menuduhnya pengecut. Jika benar hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani itu sahih, tentu sikap pengecut tersebut akan disebutkan dalam celaan para penyair lain kepadanya, dan ia pasti akan dituduh lari dari perang karena takut.

Selain itu, ketidakhadiran Hasan dalam peperangan juga disebabkan oleh usianya yang telah tua, sebagaimana disebutkan oleh kedua muhaqqiq Sirah Ibnu Hisyam.

Ibnu ‘Abdil Barr menambahkan pendapat mengenai sebab tidak ikutnya Hasan dalam peperangan. Ia berkata, “…dan tentulah anaknya, ‘Abdurrahman, akan dicela karena itu, sebab ia adalah orang yang banyak mengkritik para penyair Arab seperti an-Najasyi dan lainnya.”

Aku katakan: Jika sifat pengecut merupakan bagian dari watak Hasan, maka tidak mungkin ia mencela sikap pengecut, sebagaimana yang ia katakan:

     Kami adalah kaum yang tidak akan mengangkat seorang pengkhianat,

     ataupun mereka yang tidak bertanggung jawab dan pengecut yang lemah.

     Tidak pula orang yang menyembunyikan harta amanah,

     atau yang lemah dalam perang dan berat menjawab seruan.

      Kami memilih orang yang tegar menghadapi musuh dengan pedang,

     dan bila ada seruan untuk menghadapi kematian, ia segera bergegas.

Kebanyakan bait syair yang berakhir dengan huruf lam ini berbicara tentang kebanggaan dan keberanian, maka perhatikanlah hal itu. Bahkan seluruh syairnya tidak pernah lepas dari tema kebanggaan, dan celaannya pun tetap berada dalam lingkup makna tersebut. Silakan melihat keseluruhan kumpulan syairnya.

Baca sebelumnya: KISAH KEBERANIAN AL-YAMAN, TSABIT BIN WAQSY, HANZHALAH, MUKHAIRIQ, DAN USHAIRIM

Baca setelahnya: QUZMAN DAN PARA PEREMPUAN PENOLONG DI UHUD: PELAJARAN TENTANG NIAT DAN PENGABDIAN

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah