KISAH KEBERANIAN AL-YAMAN, TSABIT BIN WAQSY, HANZHALAH, MUKHAIRIQ, DAN USHAIRIM

KISAH KEBERANIAN AL-YAMAN, TSABIT BIN WAQSY, HANZHALAH, MUKHAIRIQ, DAN USHAIRIM

Walaupun Allah telah memaafkan orang-orang tua yang sudah lemah, al-Yaman dan Tsabit bin Waqsy menolak untuk berdiam bersama anak-anak di dalam benteng Madinah. Mereka memilih untuk terjun ke medan tempur demi meraih syahid. Tsabit gugur di tangan orang-orang kafir, sementara al-Yaman terbunuh keliru oleh kaum muslimin sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat membayar diyatnya, namun putranya, Hudzaifah, menyedekahkan diyat ayahnya itu, sehingga menambah kebaikannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hanzhalah bin Abu ‘Amir adalah seorang pengantin baru pada malam sebelum terjadinya perang Uhud. Ketika ia mendengar seruan jihad, ia segera berangkat tanpa sempat mandi dan kemudian bertempur hingga gugur sebagai syahid. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau bersabda, “Sesungguhnya sahabat kalian ini akan dimandikan oleh para malaikat.” Karena itu ia dikenal sebagai “Ghasilul Malaikah,” orang yang dimandikan para malaikat, atau “al-Ghasil,” yang dimandikan.

Mukhairiq juga bertempur bersama Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga gugur. Ia menjadi contoh dan teladan yang baik bagi orang-orang Yahudi yang telah masuk Islam. Ketika berangkat ke medan tempur, ia berkata, “Jika aku gugur, maka seluruh hartaku untuk Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bebas menggunakannya untuk apa pun yang beliau inginkan.” Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mukhairiq adalah orang Yahudi terbaik.”

Ada pula sosok Ushairim dari Bani ‘Abdul Asyhal —‘Amru bin Uqaisy— yang membenci Islam hingga tiba perang Uhud. Pada saat itu ia masuk Islam dan segera bergabung dengan kaum muslimin menuju Uhud. Ia bertempur hingga gugur sebagai syahid, tanpa pernah sekalipun menunaikan shalat kepada Allah.

Baca sebelumnya: DETIK-DETIK SYAHIDNYA SA‘AD BIN AR-RABI’

Baca setelahnya: HASAN BIN TSABIT: PAHLAWAN DENGAN PENA, BUKAN PEDANG

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah