COBAAN ADALAH SUNAH ILAHIYAH

COBAAN ADALAH SUNAH ILAHIYAH

Sebagaimana pembuat alat yang lebih memahami alat buatannya dan pembangun rumah yang lebih mengetahui rumah yang ia bangun daripada orang lain, demikian pula Allah Ta’ala lebih mengetahui makhluk-Nya daripada selain Dia. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

Tidakkah Allah mengetahui manusia yang Dia ciptakan, sedangkan Dia Mahalembut dan Mahamengetahui.” (QS al-Mulk: 14)

Bahkan, pembuat alat dan pembangun rumah—meskipun mereka memahami apa yang mereka kerjakan—masih banyak detail dan komponen yang tidak mereka ketahui, seperti usia penggunaan, kelemahan, dan kekurangannya.

Adapun Allah Ta’ala, pengetahuan-Nya mencakup segala sesuatu, dan Dia menghitung setiap hal dengan sangat rinci. Dia menciptakan segala sesuatu, lalu memberinya petunjuk. Seluruh penciptaan dan urusan, baik di alam akhirat maupun di dunia, adalah milik-Nya, dan tak ada satu pun yang terlewat dari-Nya. Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi. Bagi-Nya, yang rahasia dan yang nyata sama saja, karena Dia-lah Yang lebih mengetahui makhluk-Nya daripada makhluk-makhluk itu mengetahui diri mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

Katakanlah, ‘Apakah kalian lebih mengetahui, ataukah Allah (lebih mengetahui)?” (QS al-Baqarah: 140),

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan kalian tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit sekali.” (QS al-Isra’: 85),

serta

إِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS an-Nahl: 74)

Karena Allah Ta’ala-lah yang menciptakan kita dan seluruh alam semesta di sekitar kita, maka Dia menyampaikan kepada kita dalam kitab-Nya bahwa Dia tidak menciptakan kita tanpa tujuan. Sebaliknya, Dia menciptakan kita untuk menguji kita, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang mana Kami akan mengujinya, maka Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS al-Insan: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk menghadapi ujian dan cobaan, agar dapat dibedakan antara hamba-hamba-Nya yang bersabar dan bersyukur dengan mereka yang mengeluh dan kufur; antara yang beriman dengan tulus dan yang tidak tulus serta munafik; antara mereka yang memiliki iman yang kuat dan mereka yang lemah imannya; serta antara yang senantiasa menyadari pengawasan Allah Ta’ala, takut dan berharap hanya kepada-Nya, dengan mereka yang tidak mengharapkan pahala-Nya, tidak takut pada hukuman-Nya, dan tidak peduli terhadap pengawasan-Nya.

Dia-lah Yang Mahasuci, yang menciptakan kita dengan tujuan yang sangat agung dan hikmah yang amat mulia, yaitu agar kita patuh kepada-Nya dan ikhlas beribadah hanya kepada-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat: 56)

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku (hanya) untuk Allah, Rabb sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan (hanya) untuk itu aku diperintahkan, sementara aku adalah orang pertama yang berserah diri.’” (QS al-An’am: 162-163)

Namun, penghambaan (‘ubudiyah) ini tidak akan terwujud dan terlihat kecuali melalui berbagai macam ujian, baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan. Sebab, ujian bukanlah tujuan akhir, melainkan dimaksudkan agar akhirnya membawa pada ‘ubudiyah, baik itu dalam bentuk penguatan atau pelemahan ‘ubudiyah tersebut. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Dan sungguh Aku menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai suatu cobaan (fitnah), dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.” (QS al-Anbiya’: 35)

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya, baik melalui kebaikan maupun keburukan, melalui hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai, sebagai ujian dan cobaan untuk menyaring iman mereka dan mengungkap logam mulia dalam diri mereka. Cobaan itu bagaikan karbit bagi hati, sebagai media ujian dan ukuran iman. Melalui cobaan, tampaklah perbedaan antara yang benar-benar tulus dan yang dusta, antara yang berbakti dan yang durhaka, serta antara yang baik dan yang buruk.

Melalui cobaan, orang-orang beriman terbagi ke dalam berbagai tingkatan dan urutan yang berbeda, sesuai dengan tingkat iman, jihad, syukur, dan kesabaran mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوا۟ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Dan bagi masing-masing adalah derajat-derajat dari apa yang mereka kerjakan. Dan Rabb-mu tidaklah lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS al-An’am: 132)

serta

هُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ

Mereka itu berderajat-derajat di sisi Allah, dan Allah Mahamelihat atas apa yang mereka kerjakan.” (QS Ali Imran: 163)

Allah Ta’ala membantah anggapan orang yang berpikir bahwa dirinya bebas dari cobaan dan ujian, padahal ia mengaku beriman, melalui firman-Nya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata, ‘kami beriman’ sementara mereka tidak diberi cobaan?” (QS al-Ankabut: 2)

Yakni, mereka keliru menyangka bahwa iman mereka tidak akan diuji dan mereka akan dibiarkan hanya dengan sekadar mengaku beriman tanpa menghadapi cobaan dan ujian.

Cobaan terhadap iman adalah suatu hukum (sunah) yang terus berlaku dan merupakan kenyataan yang tetap. Ini adalah sunnatullah yang berlaku bagi umat terdahulu maupun generasi yang datang kemudian. Rahasia di balik cobaan ini adalah untuk menampakkan perbedaan antara mereka yang membenarkan dari yang mendustakan, dan antara orang-orang beriman dari yang kafir:

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut: 3)

Allah Ta’ala kemudian menjelaskan bahwa mereka akan menemui-Nya dan bahwa seluruh manusia akan kembali kepada-Nya untuk memetik hasil dari sikap mereka terhadap cobaan ini serta menerima balasan atas amal perbuatan mereka. Jika amalnya baik, maka balasannya juga baik, dan jika buruk, maka buruk pula balasannya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS az-Zalzalah: 7-8)

Menegaskan kenyataan ini, Dia Ta’ala juga berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS al-Mulk: 2)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Dan Dia jualah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan arasy-Nya di atas air untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amal perbuatannya.” (QS Hud: 7)

Yakni, Allah menciptakan mati dan hidup, langit dan bumi, serta segala tanda kebesaran yang ada di dalamnya, baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan, hanya untuk menguji dan memberikan cobaan terhadap iman, serta memberikan balasan sesuai dengan amal perbuatan kalian.

Selain itu, kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa dunia ini adalah tempat cobaan dan ujian, dan bahwa segala sesuatu yang dialami oleh manusia—baik maupun buruk, yang menyenangkan maupun yang menyusahkan, yang menarik maupun yang tidak menarik, yang disukai maupun yang tidak disukai—tidak lain hanyalah cobaan baginya. Cobaan itu menjadi penyaring bagi imannya, penguat bagi kesabaran dan syukurnya, atau justru menjadi pemicu keluhan dan kekufurannya.

Demikian pula, terdapat ayat lain yang menunjukkan hal ini:

وَبَلَوْنَٰهُم بِٱلْحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan Kami telah menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS al-A’raf: 168)

Yakni, dengan kemakmuran dan kesulitan hidup, musibah dan nikmat, sakit dan sehat, lemah dan kuat, serta kemiskinan dan kekayaan. Hal serupa juga dijelaskan dalam ayat ini:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ ٱلْمُجَٰهِدِينَ مِنكُمْ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبْلُوَا۟ أَخْبَارَكُمْ

Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS Muhammad: 31)

Masih banyak ayat dan hadis yang memperkuat kenyataan bahwa Allah Ta’ala menghiasi dunia bagi manusia, menjadikannya manis dan mempesona, nikmat dan memikat, melenakan dan menawan, membuai dan menguji dengan pesona yang fana. Dunia ini dijadikan sebagai cobaan dan ujian bagi manusia untuk melihat bagaimana mereka bertindak. Selain itu, dunia juga menjadi pembeda antara mereka yang patuh kepada Allah dan para rasul-Nya dengan mereka yang mengikuti setan dan bala tentaranya; antara mereka yang berharap kepada Allah dan akhirat dengan mereka yang hatinya terpaut pada pesona kehidupan dunia, menjadikan dunia sebagai ambisi tertinggi dan tujuan utama mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di muka bumi sebagai perhiasan baginya untuk menguji mereka, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.” (QS al-Kahfi: 7)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka takutlah terhadap dunia dan takutlah terhadap perempuan.” (HR Muslim)

Allah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para hamba-Nya, bahkan sebelum mereka diciptakan, dan sebelum langit dan bumi ada. Sesungguhnya, Dia memberikan berbagai cobaan dalam bentuk kebaikan dan keburukan untuk memastikan bahwa apa yang telah Dia ketahui tentang mereka menjadi kenyataan yang terlihat secara nyata. Dengan demikian, perbuatan mereka tampak secara inderawi, sehingga mereka menerima balasan sesuai dengan amal yang benar-benar mereka lakukan, bukan semata berdasarkan ilmu-Nya yang mendahului. Namun, Dia hanya memberi hukuman berdasarkan perbuatan yang benar-benar mereka lakukan, bukan atas dasar apa yang Dia ketahui sebelum hal itu terjadi.

Itulah makna yang terkandung dalam surah al-Mulk: 2 dan Muhammad: 31, yaitu hingga Kami mengetahui bahwa mereka benar-benar melakukannya dan benar-benar memiliki sifat tersebut. Sebab, Allah Ta’ala mengetahui yang gaib dan yang nyata, mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Dia-lah Yang Mahamengetahui segala sesuatu.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ilmu Allah Ta’ala telah mencakup segala sesuatu sebelum penciptaan langit dan bumi. Dia menetapkan takdir dan mencatatnya di sisi-Nya, kemudian memerintahkan para malaikat-Nya untuk menuliskannya dari kitab yang pertama sebelum penciptaan manusia, sehingga keadaannya sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab tersebut dan kitab yang ditulis oleh para malaikat, tanpa ada penambahan atau pengurangan dari apa yang telah ditulis dan ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Takdir itu telah ada dalam ilmu-Nya sebelum dituliskan, kemudian Dia menulisnya sesuai dengan ilmu-Nya, dan akhirnya hal itu terjadi sebagaimana yang Dia tulis. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya itu semua ada dalam sebuah kitab. Sungguh, yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.’ (QS al-Hajj: 70)”

Allah Ta’ala mengetahui keadaan para hamba-Nya sebelum Dia menciptakan mereka, mengetahui apa yang mereka lakukan, dan apa yang akan mereka capai. Dia kemudian menempatkan mereka di dunia ini untuk menampakkan kepada mereka apa yang sudah Dia ketahui tentang mereka. Dia memberikan cobaan melalui perintah dan larangan, kebaikan dan keburukan sesuai dengan ilmu-Nya, sehingga mereka berhak menerima pujian dan celaan, pahala dan hukuman, atas perbuatan yang mereka lakukan yang sesuai dengan pengetahuan-Nya yang terdahulu. Mereka belum memiliki hal itu ketika masih dalam ilmu-Nya sebelum mereka melakukannya. Lalu Dia mengutus para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab suci-Nya, dan menetapkan aturan-aturan syariah sebagai alasan yang kuat dan penegakan hujah atas mereka, agar mereka tidak bisa mengatakan, “Bagaimana Engkau menghukum kami berdasarkan pengetahuan-Mu tentang kami, padahal itu bukan usaha dan upaya kami?” Namun, karena ilmu-Nya telah tampak dalam amal perbuatan mereka, maka hukuman atas apa yang Dia ketahui tentang mereka menjadi nyata melalui cobaan dan ujian, sehingga cobaan ini menampakkan ilmu-Nya yang terdahulu tentang mereka dengan jelas, setelah sebelumnya gaib dalam ilmu-Nya.

Allah Ta’ala mengetahui hakikat hati dan apa yang akan dilakukan oleh manusia bahkan sebelum cobaan datang. Namun, cobaan itu berfungsi untuk mengungkap dalam alam nyata apa yang telah terungkap dalam ilmu Allah, yaitu sesuatu yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Dengan demikian, manusia dihisab berdasarkan apa yang mereka lakukan secara nyata, bukan semata-mata berdasarkan apa yang diketahui oleh Allah Ta’ala tentang keadaan batin mereka. Hal ini adalah karunia dari Allah dari satu sisi, keadilan dari sisi lain, dan pendidikan dari sisi lainnya. Karena itulah, manusia tidak dapat menghukumi seseorang kecuali berdasarkan perbuatan nyata yang terlihat, sebab mereka tidak mungkin mengetahui hakikat hati seseorang lebih baik daripada Allah Ta’ala.

Baca juga: FITNAH ANAK, HARTA, DAN ISTRI

Baca juga: ANAK ADALAH AMANAH

Baca juga: ORANG YANG BERTAKWA

(Dr Abdul Aziz bin Fauzan bin Shalih al-Fauzan)

Kelembutan Hati