CARA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

CARA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Allah Ta’ala menempatkan perintah berbakti kepada orang tua bersamaan dengan perintah bertauhid kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS al-Isra’: 23)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama setelah salat.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?”

Beliau menjawab,

الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا

Salat tepat waktu.”

Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?”

Beliau menjawab,

ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ

Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?”

Beliau menjawab,

الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Berjihad di jalan Allah.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak keutamaan berbakti kepada kedua orang tua lainnya.

Berikut adalah beberapa cara berbakti kepada kedua orang tua:

1️⃣ Memerdekakan kedua orang tua jika mereka atau salah satunya menjadi budak

Di antara cara berbakti kepada orang tua adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا، فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

Seorang anak tidak dapat membalas kebaikan bapaknya kecuali jika ia mendapatkan bapaknya menjadi budak, lalu ia membeli dan memerdekakannya.” (HR Muslim)

2️⃣ Mendoakan kedua orang tua

Di antara cara berbakti kepada orang tua adalah mendoakannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.’” (QS al-Isra’: 24)

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Ya Rabbku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS Nuh: 28)

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”  (QS Maryam: 47)

3️⃣ Menaati dan tidak durhaka kepada orang tua, berlaku baik kepada mereka dalam ucapan dan perbuatan, merendahkan diri, menyimak perkataan mereka, dan tidak membentak mereka

Cara berbakti kepada orang tua yang ini adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang dari keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS al-Isra’: 23-24)

4️⃣ Tetap berbuat baik setelah keduanya wafat

Apabila seorang anak belum maksimal berbuat baik kepada kedua orang tuanya semasa mereka hidup dan ingin menebus kesalahannya dahulu, hendaklah ia melakukan hal-hal berikut:

a. Menjadi anak yang saleh

Menjadi anak yang saleh adalah termasuk di antara cara berbakti kepada orang tua, karena kesalehan memberi manfaat bagi mereka walaupun mereka sudah meninggal. Hal ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal: sedekan jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

b. Banyak berdoa dan memohonkan ampunan bagi mereka

Di antara cara berbakti kepada kedua orang tua setelah mereka wafat adalah dengan banyak berdoa dan memohonkan ampunan bagi mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (Hari Kiamat).” (QS Ibrahim: 40-41)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إَنَّاللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَيَرْ فَعُ لِلرَّجُلِ الدَّرَجَةَ، فَيَقُولُ: أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لَكَ

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala akan mengangkat derajat seseorang, lalu ia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mendapatkan ini?’ Allah berfirman, ‘Dengan doa anakmu.” (HR al-Bazzar. al-Haitsami berkata, ‘Perawinya sahih selain ‘Ashim bin Bahdalah yang merupakan perawi hadis hasan’)

Ibnu Abi ad-Dunya menyebutkan dari hadis Ibnu Sirin: “Bila seorang anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya dalam keadaan durhaka mendoakan keduanya, maka ia ditulis oleh Allah sebagai anak yang berbakti.” (al-Iraqi berkata, “Hadis ini mursal dan sanadnya sahih.”)

c. Melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-temannya, dan menyambung kembali silaturahmi

Termasuk cara berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal dunia adalah melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-temannya, dan menyambung kembali silaturahmi.

Dari Abu Usaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami sedang duduk-duduk dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang Anshar datang dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada kewajiban berbakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

نَعَمْ، خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالْاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا. فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

Ya! Yaitu empat hal: mendoakan mereka, memohonkan ampun bagi mereka, memenuhi janji mereka yang belum terpenuhi dan menghormati teman-teman mereka, serta menyambung silaturahmi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kamu kecuali dari jalur mereka. Itulah amalan-amalan yang harus kamu lakukan untuk berbakti kepada orang tuamu sepeninggal mereka.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Dari ‘Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ

Sebaik-baik berbakti kepada kedua orang tua adalah bersilaturahmi dengan kerabat yang disenangi bapaknya sepeninggalnya.” (HR Muslim)

an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan keutamaan menyambung silaturahmi dengan teman-teman ayah serta berbuat baik dan menghormati mereka, karena hal tersebut termasuk berbuat baik dan memuliakan ayah. Teman itu ada karena ayah. Demikian juga, berbuat baik dengan teman-teman ibu, kakek, guru, suami, dan istri.”

al-Qari rahimahullah berkata, “Disebut dengan sebaik-baik perbuatan untuk berbakti karena jika ia memelihara hubungan itu sepeninggalnya, tentu ketika belum meninggal harus lebih utama untuk dijaga. Apabila ia menjaga hubungan dengan teman tercintanya, maka menjaga hubungan dengan sanak kerabatnya adalah lebih utama.”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِي قَبْرِهِ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيهِ مِنْ بَعْدِهِ

Barangsiapa ingin bersilaturahmi dengan bapaknya di kuburannya, maka hendaklah ia bersilaturahmi dengan saudara-saudara bapaknya setelah ia meninggal.” (HR Ibnu Hibban. Peneliti hadis mengatakan ‘Sanadnya sahih’)

Diriwayatkan pula dari ‘Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia (‘Abdullah) bertemu dengan seorang arab Badui di sebuah jalan di kota Makkah. ‘Abdullah mengucapkan salam kepadanya, kemudian memboncengkannya di atas keledainya dan memberikan sorban yang menutupi kepalanya kepada orang itu. Ibnu Dinar berkata: Kami berkata kepadanya (‘Abdullah), “Semoga Allah memperbaiki dirimu. Ia seorang arab Badui yang terbiasa apa adanya.” ‘Abdullah berkata, “Bapak orang ini adalah teman dekat ‘Umar bin Khaththab. Dan aku mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

Sebaik-baik berbakti kepada kedua orang tua adalah menyambung silaturahmi dengan keluarga teman dekat bapaknya.” (HR Muslim)

d. Bersedekah atas nama mereka

Di antara cara berbakti kepada kedua orang tua setelah mereka wafat adalah bersedekah atas nama mereka, karena perbuatan ini mendatangkan manfaat bagi mereka, sebagaimana hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ibuku meninggal secara mendadak. Aku kira, jika ia masih sempat berbicara, ia pasti menyuruhku untuk bersedekah. Apakah ibuku mendapatkan pahala jika aku bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” (HR al-Bukhari)

an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan bahwa bersedekah atas nama mayit mendatangkan manfaat, dan pahalanya sampai kepadanya. Berdoa dan membayar utangnya juga mendatangkan manfaat bagi si mayit, berdasarkan ijmak ulama. Mereka juga sepakat bahwa pahala berdoa dan membayar utangnya sampai ke mayit, berdasarkan dalil yang menerangkan masalah ini.”

e. Melunasi utang mereka

Masalah utang adalah sangat penting. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan agar utang dilunasi. Beliau tidak mau menyalatkan mayit yang masih berutang.

Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, satu jenazah datang. Mereka (yang bersama jenazah) berkata, “Salatkanlah jenazah ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

هَلْ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ؟

Apakah ia punya utang?

Mereka menjawab, “Tidak.”

Rasulullah bertanya lagi,

فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟

Apakah ia meninggalkan sesuatu?

Mereka menjawab, “Tidak.”

Rasulullah pun menyalatkannya.

Kemudian datang jenazah yang lain. Mereka (yang bersama jenazah) berkata, “Salatkanlah jenazah ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

هَلْ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ؟

Apakah ia punya utang?

Mereka menjawab, “Ya.”

Rasulullah bertanya lagi,

فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟

Apakah ia meninggalkan sesuatu?

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Rasulullah pun menyalatkannya.

Lalu datang jenazah ke tiga. Mereka (yang bersama jenazah) berkata, “Salatkanlah jenazah ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟

Apakah ia meninggalkan harta?

Mereka menjawab, “Tidak.”

Rasulullah bertanya,

هَلْ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ؟

Apakah ia punya utang?

Mereka menjawab, “Tiga dinar.”

Rasulullah bersabda,

صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

Salatkanlah teman kalian ini.”

Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Salatkanlah jenazah ini, wahai Rasulullah. Aku akan melunasi utangnya.”

Maka Rasulullah menyalatkan jenazah tersebut. (HR al-Bukhari)

Ketika banyak perluasan wilayah Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar utang mayit dari baitul mal (perbendaharaan) kaum muslimin, lalu menyalatkan jenazah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika jenazah yang dibawa kepada beliau masih berutang, beliau bertanya apakah si mayit meninggalkan harta. Jika dijawab bahwa utang si mayit ada yang melunasi, maka Nabi menyalatkannya. Jika tidak ada, maka Nabi menyuruh kaum muslimin menyalatkannya. Ketika Allah memberi kemenangan bagi kaum muslimin sehingga banyak wilayah dikuasai, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ. فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا، فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ. وَمَنْ تَرَكَ مَالًا، فَلِوَرَثَتِهِ

Aku lebih berhak atas kaum muslimin daripada diri mereka sendiri. Barangsiapa dari kaum muslimin meninggal dunia dengan meninggalkan utang, maka aku akan melunasinya. Dan barangsiapa meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, maka harta itu untuk ahli warisnya.” (HR al-Bukhari)

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolong Jabir bin ‘Abdullah melunasi utang-utang ayahnya.

Firas berkata, asy-Sya’bi berkata: Jabir bin ‘Abdullah al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma bercerita kepadaku bahwa bapaknya mati syahid pada perang Uhud, meninggalkan enam anak perempuan dan utang: Ketika tiba musim panen kurma, aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau tahu bahwa bapakku mati syahid pada perang Uhud dan meninggalkan banyak utang. Aku ingin orang-orang yang berpiutang bertemu denganmu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اذْهَبْ، فَبَيْدِرْ كُلَّ تَمْرٍ عَلَى نَاحِيَةٍ

Pergilah, kemudian kumpulkan kurma-kurma di tempat pengeringan.”

Aku pun melaksanakan perintah tersebut. Setelah itu aku memanggil beliau. Ketika mereka (orang yang berpiutang) melihat beliau, mereka meminta agar semua utang bapakku dilunasi saat itu juga. Mengetahui hal itu, Nabi mengelilingi tumpukan kurma tiga kali, lalu duduk di hadapannya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepadaku),

ادْعُ أَصْحَابَكَ

Panggillah mereka (orang yang berpiutang).”

Lalu mulailah beliau menimbang kurma bagian mereka masing-masing, dan seterusnya sampai Allah melunasi semua utang bapakku. Demi Allah, aku rida Allah melunasi semua utang bapakku, walaupun aku kembali kepada saudari-saudariku tanpa membawa kurma sebiji pun. Demi Allah, tumpukan kurma di tempat pengeringan tetap seperti semula, bahkan tumpukan kurma yang dibagi-bagikan Rasulullah tidak berkurang sama sekali. (HR al-Bukhari)

Termasuk cara berbakti kepada kedua orang tua adalah melunasi utang mereka, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal dunia.

f. Melakukan umrah dan haji untuk mereka

Cara berbakti ini adalah sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Seorang perempuan dari Juhainah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ibuku bernazar untuk ibadah haji, namun ia wafat sebelum melaksanakannya. Apakah aku harus berhaji untuknya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

نَعَمْ. حُجِّي عَنْهَا. أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ؟ اقْضُوا اللَّهَ، اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

Ya! Berhajilah untuknya. Bukankah jika ibumu mempunyai utang, kamu akan melunasinya? Bayarlah utang kepada Allah, karena utang kepada Allah lebih berhak untuk segera dilunasi.” (HR al-Bukhari)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan bahwa perkara melunasi utang mayit sudah maklum dan ditetapkan. Hadis ini juga menunjukkan bolehnya menghajikan orang lain, termasuk orang yang sudah meninggal dunia. Jika semasa hidup ia bernazar untuk berhaji, maka ahli warisnya wajib menghajikannya. Biaya pelaksanaan haji diambil dari harta si mayit sebelum dibagikan kepada ahli warisnya dan setelah melunasi semua utangnya. Kewajiban untuk menghajikan ini bisa dianalogikan dengan hak-hak yang menjadi tanggungan si mayit semasa hidupnya, seperti kafarat, nazar, dan zakat.”

Dalam hadis lain dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika aku sedang duduk bersama Rasulullan shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang perempuan datang dan berkata, “Aku pernah memberikan seorang budak perempuan kepada ibuku. Kini ibuku telah meninggal. Bagaimana dengan budak itu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

وَجَبَ أَجْرُكِ ، وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ

Kamu mendapatkan pahala atas pemberianmu itu. Sekarang pemberianmu itu telah kembali kepadamu sebagai harta warisan.”

Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, ibuku mempunyai utang puasa selama sebulan. Bolehkah aku membayar puasanya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

صُومِي عَنْهَا

Berpusalah untuknya.”

Ia bertanya lagi, “Ibuku juga belum melaksanakan haji. Bolehkan aku menghajikannya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

حُجِّي عَنْهَا

Berhajilah untuknya.” (HR Muslim)

an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadis ini menunjukkan wajibnya melunasi utang si mayit, berdasarkan kesepakatan para ulama. Tidak ada perbedaan, apakah utang itu dilunasi oleh ahli waris ataukah orang lain, maka kewajibannya telah terlaksana. Hadis ini juga merupakan dalil mazhab asy-Syafi’i dan jumhur ulama yang membolehkan melaksanakan haji untuk orang yang sudah meninggal dunia apabila semasa hidupnya ia bernazar. Begitu pula boleh menghajikan orang sakit atau lemah yang tidak mungkin sembuh.”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Istri Salman bin ‘Abdullah al-Juhani menyuruh seseorang untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibunya yang telah meninggal dunia, namun belum sempat pergi haji. Apakah boleh menghajikannya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّهَا دَيْنٌ فَقَضَتْهُ عَنْهَا، أكان يُجْزِئُ عَنْ أُمِّهَا؟

Jika ibunya berutang lalu ia melunasinya, bukankah utang ibunya lunas?

Ia menjawab, “Ya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَلْتَحُجَّ عَنْ أُمِّهَا

Maka hendaklah ia berhaji untuk ibunya.” (HR Ahmad)

g. Melaksanakan nazar mereka

Di antara cara berbakti kepada kedua orang tua setelah mereka meninggal dunia adalah melaksanakan nazar mereka. Hal ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ibuku sudah meninggal. Ia pernah bernazar dan belum sempat melaksanakannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْضِهِ عَنْهَا

Laksanakanlah nazarnya.” (HR. Ahmad)

Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini membolehkan sedekah atas nama mayit, dan pahalanya sampai ke mayit, apalagi jika yang melakukannya adalah anaknya sendiri. Hadis ini merupakan pengecualian dari firman Allah Ta’ala:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS an-Najm: 39)

Alangkah baiknya apabila kita melaksanakan adab-adab ini sehingga ditulis oleh Allah sebagai orang yang berbakti kepada kedua orang tua dan orang pilihan terbaik, serta mendapatkan rida-Nya di akhirat kelak.

Syekh as-Sa’di berkata, “Ketahuilah bahwa berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung silaturahmi dapat menyelamatkan seseorang dari siksa di dunia dan akhirat, dan menyampaikannya ke kampung damai di akhirat kelak.

Baca juga: KEUTAMAAN BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA

Baca juga: ORANG YANG MENDAPATI ORANG TUANYA DI USIA TUA TETAPI TIDAK MASUK SURGA

Baca juga: DURHAKA KEPADA ORANG TUA

(Prof Dr Falih bin Muhammad bin Falih ash-Shughayyir)

Adab