DI BALIK KEHENDAK ALLAH TERSIMPAN HlKMAH

DI BALIK KEHENDAK ALLAH TERSIMPAN HlKMAH

Allah Ta’ala Mahakaya lagi Mahamulia. Anugerah-Nya kepada hamba-hamba-Nya tidak akan mengurangi kekayaan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْٓا اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl: 96)

Seadainya Allah Ta’ala memberi kepada semua orang dari generasi pertama hingga generasi terakhir apa yang mereka minta, niscaya pemberian itu tidak akan mengurangi apa yang Allah miliki, melainkan hanya seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum dimasukkan ke dalamnya, kemudian jarum itu diangkat. Tentu saja jarum tidak akan mengurangi air laut melainkan setetes saja. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tangan Allah memenuhi siang dan malam. Tidakkah kalian melihat semua yang telah Allah berikan (kepada makhluk) sejak penciptaan langit dan bumi? Betapa itu semua tidak pernah mengurangi apa yang ada di tangan kanan-Nya.”

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi: “Yang demikian itu karena Aku adalah Mahadermawan, Mahakaya, dan Mahamulia. Pemberian-Ku cukup dengan satu kata, azab-Ku juga cukup dengan satu kata. Sesungguhnya perintah-Ku apabila Aku menghendaki sesuatu, maka cukuplah dengan mengatkan kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia.”

Allah Ta’ala meluaskan dan membatasi rezeki bagi yang Dia kehendaki, sesuai dengan ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ

Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi.” (QS as-Syura: 27)

Allah Ta’ala juga berfirman:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰى

Sekali-sekali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas apabila melihat dirinya serba cukup.” (QS al-Alaq: 6-7)

Hamba tidak akan pernah mampu mandiri tanpa bantuan Rabb-nya walau sekejap mata. Oleh karena itu, hamba yang menganggap dirinya mampu berdiri sendiri tanpa bantuan Allah Ta’ala menunjukkan dirinya durhaka kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala menjaga hamba-hamba-Nya yang Dia cintai. Itu semata karena kelemah-lembutan-Nya kepada mereka. Sebagaimana juga Allah membukakan pintu rezeki kepada hamba-hamba-Nya yang Dia benci. Itu semata sebagai bentuk istidraj (uluran menuju kebinasaan) bagi mereka, sebagaimana firman-Nya:

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

Akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS al-A’raf: 182)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا

Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sebatas makanan sehari-hari.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

فَوَاللَّهِ، مَا الْفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ. فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

Bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian, akan tetapi aku khawatir jika harta dunia dibentangkan kepada kalian, sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Kalian berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana mereka berlomba-lomba mendapatkannya, sehingga harta dunia menghacurkan kalian, sebagaimana ia menghancurkan mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Ketika kami diuji dengan kesusahan, kami mampu bersabar. Tetapi, ketika kami diuji dengan kesenangan, jarang sekali kami mampu bersabar.”

Sungguh Mahasuci yang penolakan-Nya adalah karunia, dan karunia-Nya pada hakikatnya adalah penolakan. Allah Ta’ala tidak menguji hamba-hamba-Nya dengan rasa takut dan kelaparan secara penuh, melainkan Dia dengan kelemah-lembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya menguji mereka dengan sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar, kekurangan sebagian harta, jiwa dan buah-buahan, sebagaimana firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-Baqarah: 155-157)

Baca juga: LARANGAN BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

Baca juga: BAHAYA PUJIAN

Baca juga: CIRI-CIRI PENGHUNI SURGA DAN NERAKA

(Dr Ahmad Farid)

Kelembutan Hati