WAJIB BERPEGANG-TEGUH KEPADA SUNAH

WAJIB BERPEGANG-TEGUH KEPADA SUNAH

Rasulullah shallallaahu ‘alalhi wa sallam memerintahkan kita mengikuti sunah beliau dan melarang kita mengadakan acara ritual bidah dalam agama. Hal itu karena agama Islam telah sempurna dan apa yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya telah cukup. Apa yang diterima sebagai tuntunan oleh ahli sunah wal jamaah (yaitu para sahabat radhiyallaahu ‘anhum dan tabiin) adalah as-Sunnah, (sedangkan bidah bukan tuntunan.)

Dalam hadis sahih Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ، فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengada-adakan (suatu perkara baru) dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian dari ajarannya, maka ia ditolak.” (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Hadis ini telah disepakati kesahihannya oleh para ulama sunah.

Dan dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia ditolak.” (HR Muslim)

Dalam hadis lain beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Berpeganglah kalian dengan sunahku dan sunah Khulafa ar-Rashidin setelahku. Berpegang-teguhlah dengannya. Dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi gerahammu. Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah adalah sesat.” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khotbah Jumat,

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam (as-Sunnah), seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan. Dan setiap bidah adalah sesat.” (HR Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Setiap bidah adalah sesat, meskipun dipandang baik oleh banyak orang.” (HR a-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i)

Hadis-hadis di atas mengandung peringatan keras dari mengadakan berbagai bidah serta penegasan bahwa bidah adalah sesat. Semua ini agar menjadi peringatan bagi umat Islam tentang besarnya bahaya bidah, sekaligus sebagai upaya untuk mengajak mereka menjauhi amalan bidah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

Apa saja yang disampaikan Rasul kepada kalian, terimalah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, tinggalkanlah.” (QS al Hasyr: 7)

Allah Ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan (dalam hatinya) atau ditimpa azab yang pedih.” (QS an-Nur: 63)

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS al-Ahzab: 21)

Allah Ta’ala berfirman:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah, Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at Taubah: 100)

Allah Ta’ala berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS al-Ma’idah: 3)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama Islam dan Allah telah mencukupkan bagi umat Islam nikmat-Nya. Tidaklah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat melainkan setelah beliau menunaikan dakwah secara paripurna. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan bahwa segala ucapan maupun perbuatan (amalan) yang diada-adakan oleh orang-orang (meskipun jumlah mereka banyak) sepeninggal beliau dan mereka mengerjakannya atas nama ajaran Islam, maka semua itu adalah bidah yang tertolak dan kembali kepada orang yang mengada-adakannya itu, meskipun orang itu bermaksud baik.

Para sahabat Rasullullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama salaf telah menyampaikan peringatan keras terhadap bidah dan menyeru umat untuk menjauhinya. Hal itu tiada lain karena bidah merupakan ajaran tambahan yang disandarkan kepada Islam serta bentuk membuat-buat syariat yang tidak dibenarkan dan tidak pula diizinkan oleh Allah Ta’ala. Selain itu, perbuatan bidah merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah, yaitu Yahudi dan Nasrani, dalam tindakan menambah dan mengada-adakan hal-hal yang baru dalam agama mereka, yang tidak dibenarkan dan tidak diizinkan oleh Allah Ta’ala. Lebih dari itu, perbuatan bidah secara tidak langsung menyeret untuk mengatakan bahwa agama Islam masih kurang dan menuduhnya tidak sempurna. Jelas-jelas ini merupakan kekeliruan yang fatal dan kemungkaran yang sangat buruk yang bertentangan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.” (QS al-Ma’idah: 3)

Selain itu, perbuatan bidah menyalahi hadis-hadis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang secara nyata mengingatkan dengan keras dari berbagai macam bidah dan menyeru agar menjauhinya.

Dari acara bidah tersimpul seolah-olah Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama Islam untuk umat Islam, dan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seolah-olah belum tuntas menyampaikan apa-apa yang senantiasa dilakukan oleh para sahabat, sehingga datanglah generasi belakangan (mutakhkhirin) untuk mengadakan amalan-amalan baru dalam syariat Allah, padahal hal itu tidak dibenarkan oleh Allah. Mereka menyangka bahwa amalan-amalan baru yang mereka ada-adakan itu dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Tidak diragukan bahwa sangkaan mereka mengandung bahaya besar, selain mengandung unsur tantangan kepada Allah dan Rasul-Nya, padahal Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini untuk para hamba-Nya dan telah mencukupkan nikmat-Nya kepada mereka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun telah menyampaikan risalah dakwah beliau hingga tuntas. Tidak satu jalan pun melainkan beliau telah jelaskan kepada umatnya. Hal ini tertera pada atsar yang sahih dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan nabi itu wajib menunjuki umatnya (kepada jalan) kebaikan yang ia ketahui baik bagi mereka dan menyampaikan peringatan terhadap (jalan) keburukan yang ia ketahui buruk bagi mereka.” (HR Muslim)

Dari sini kita mengetahui dan meyakini bahwa Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi yang mulia, nabi terakhir yang paling sempurna dalam menunaikan tablig (menyampaikan risalah) dan dalam membina umat ini.

Baca juga: AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA

Baca juga: HAKIKAT AGAMA ISLAM

Baca juga: MENJAGA SUNAH HARUS DENGAN ILMU DAN AMAL

(Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz)

Akidah