MENJUAL AGAMA UNTUK KEUNTUNGAN DUNIA

MENJUAL AGAMA UNTUK KEUNTUNGAN DUNIA

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، ويُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ‏

Bersegeralah dalam melakukan amal saleh sebelum fitnah-fitnah datang seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di pagi hari seseorang beriman, namun di sore hari kafir. Di sore hari seseorang beriman, namun di pagi hari kafir. Dia menjual agamanya dengan keuntungan dunia yang sedikit.” (HR Muslim)

PENJELASAN

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bersegeralah dalam melakukan amal saleh.” Yakni, bersegeralah kalian dalam melakukannya.

Yang dimaksud dengan amal saleh adalah amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Amal saleh dibangun di atas dua perkara: (1) dikerjakan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala, dan (2) mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah perwujudan dari syahadat ‘laa ilaaha illallaah Muhammad ar-rasuulullaah’ (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

Adapun amal yang dikerjakan tidak ikhlas, maka ia tidak dikatakan amal saleh, seperti salat yang dikerjakan dengan riya. Salat yang dikerjakan dengan riyatidak diterima walaupun syarat, rukun, wajib, sunah, tuma’ninah dan kesempurnaan salat yang lain telah dikerjakan. Amal ini tidak diterima karena bercampur dengan syirik. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal dari orang yang berbuat syirik, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu.” (HR Muslim) Yakni, jika seseorang menyekutukan-Ku, maka Aku tidak membutuhkan sekutu itu.

Sebagaimana juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang di dalamnya ia mempersekutukan Aku dengan selainKu, maka Aku tinggalkan dia dan sekutu itu.” (HR Muslim)

Demikian juga amal yang tidak sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amal itu tidak diterima walaupun dikerjakan dengan ikhlas, khusyuk dan sambil menangis. Itu karena amal yang tidak sesuai dengan syariat Islam disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesesatan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Setiap (perkara agama) yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah itu adalah sesat.” (HR an-Nasa-i. Disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasa-i)

Kemudian beliau bersabda, “Sebelum fitnah-fitnah datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap.” Beliau mengabarkan bahwa akan terjadi fitnah yang menyerupai potongan-potongan malam yang gelap. Yakni, keadaan menjadi sangat gelap, tidak tampak cahaya. Orang-orang tidak tahu ke mana mereka harus pergi. Kita memohon kepada Allah agar Dia melindungi kita dari fitnah dan bencana ini.

Fitnah ada dua macam, yaitu:

1. Fitnah syubhat

Fitnah syubhat adalah fitnah karena kebodohan, seperti yang dilakukan oleh pelaku bidah yang membuat bidah dalam akidah, serta ucapan dan perbuatan yang tidak disyariatkan Allah. Sebagian orang diuji dengan bencana fitnah syubhat ini sehingga mereka tersesat.

Di antara fitnah syubhat adalah fitnah yang terjadi dalam transaksi jual beli pada perkara-perkara yang syubhat (samar-samar atau meragukan). Perkara-perkara syubhat ini jelas hukumnya bagi orang yang beriman, namun samar bagi orang yang sesat. Oleh karena itu, kamu menjumpai orang-orang melakukan transaksi jual beli yang jelas-jelas diharamkan. Di hatinya bergejolak dosa sehingga perkara yang jelas keharamannya tersamarkan dan dianggap amal saleh. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا؛ اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.’” (QS al-Kahfi: 103-104)

Mereka inilah orang-orang yang merugi. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.

2. Fitnah syahwat

Fitnah syahwat adalah fitnah karena hawa nafsu.

Seseorang mengetahui bahwa sesuatu itu haram. Tetapi karena hawa nafsu, ia tidak peduli, bahkan melakukannya.

Seseorang mengetahui bahwa sesuatu itu wajib. Tetapi karena desakan hati untuk bermalas-malasan, ia meninggalkannya. Inilah fitnah yang muncul karena syahwat (hawa nafsu).

Di antara fitnah syahwat yang sangat berat yang terjadi pada umat ini adalah zina dan homoseksual. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan fitnah setelahku (sepeninggalku) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki selain fitnah perempuan.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda,

وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء

Berhati-hatilah terhadap perempuan, karena sesungguhnya fitnah yang pertama menimpa Bani Israil adalah karena perempuan.” (HR Muslim)

Di masyarakat kita sekarang ini ada orang yang dengan berbagai cara mengajak kepada perbuatan hina ini. Mereka mengemasnya dalam berbagai nama dan dalih untuk mengelabui orang agar mengikutinya. Di antara mereka ada yang mencela perempuan berkerudung dan mengajaknya keluar dari rumah untuk bergabung dengan laki-laki di tempat kerja. Maka terjadilah ikhtilath, keburukan dan bencana. Kita memohon kepada Allah agar tipu daya mereka terbongkar dan pemimpin kita menghakimi mereka dan menjauhkan mereka dari segala yang menjadi sebab keburukan dan kehancuran di negeri ini. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia memberi taufik kepada pemerintah.

Sesungguhnya fitnah yang menimpa Bani Israil adalah karena perempuan. Ini adalah fitnah yang sangat besar.

Di zaman sekarang, banyak orang mengeksploitasi perempuan dengan menjadikan fisik perempuan sebagai obyek lukisan, patung, perhiasan dan sebagainya. Benda-benda ini menjadi sarana pelampiasan nafsu orang-orang fasik dan hina. Dengan kekuasaan Allah dan doa orang-orang Islam kaum perempuan di negara-negara Islam mampu menjaga diri dari keburukan ini, sehingga mereka tetap dalam keadaan terhormat sesuai dengan fitrahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dari fitnah-fitnah ini yang muncul seperti potongan-potongan malam yang gelap. Akibatnya orang yang di pagi hari beriman, di sore hari kafir. Ia murtad dalam sehari. Mengapa bisa terjadi? Karena ia menjual agamanya demi keuntungan dunia yang sangat sedikit. Sesungguhnya kekayaan dunia tidak hanya harta, tetapi juga kedudukan, jabatan, perempuan dan lain-lain. Setiap kesenangan dunia adalah kekayaan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

تَبْتَغُوْنَ عَرَضَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖفَعِنْدَ اللّٰهِ مَغَانِمُ كَثِيْرَةٌ

Dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia padahal di sisi Allah ada harta yang banyak.” (QS an-Nisaa’: 94) Apa yang ada di dunia adalah harta yang sedikit.

Mereka di pagi hari beriman, namun di sore hari kafir, atau di sore hari beriman namun di pagi hari kafir. Mereka menjual agama dengan keuntungan dunia yang sangat sedikit (murah). Kita memohon kepada Allah agar Dia melindungi kita dan kalian dari fitnah-fitnah ini.

Betapa agungnya apa yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أرْبَعٍ، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ

Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud (akhir), hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan mengucapkan, ‘ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM, WA MIN ‘ADZABIL QOBRI, WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT, WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal).” (HR Muslim)

Kita memohon kepada Allah agar menguatkan kita dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Baca juga: BERSEGERA MERAIH SURGA

Baca juga: ALAM TERASA SEMAKIN DEKAT

Baca juga: FAKTOR PENYEBAB JATUH KE DALAM MAKSIAT

Baca juga: KEWAJIBAN MENGINGAT DAN BERSIAP UNTUK KEHIDUPAN AKHIRAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah