Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila didatangi oleh seorang peminta atau orang yang mempunyai suatu keperluan, beliau bersabda,
اِشْفَعُوا تُؤْجَرُوا. وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مَا شَاءَ
“Berilah syafaat (bantuan sebagai perantara), niscaya kalian akan mendapatkan pahala, dan Allah menetapkan melalui lisan Rasul-Nya apa yang Dia kehendaki.” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1432 dan Muslim no. 2627)
Hadis ini mengandung suatu prinsip yang besar dan faedah yang agung, yaitu bahwa sudah sepatutnya seorang hamba berusaha dalam berbagai perkara kebaikan, baik perkara tersebut membuahkan tujuan dan hasilnya, atau tercapai sebagiannya, maupun tidak ada sesuatu pun darinya yang terwujud. Ini seperti memberikan syafaat (bantuan sebagai perantara) bagi orang-orang yang memiliki keperluan di hadapan para raja dan para pembesar, serta orang-orang yang keperluan mereka bergantung kepada mereka. Sesungguhnya banyak orang enggan berusaha dalam hal tersebut apabila ia tidak mengetahui apakah syafaatnya akan diterima. Dengan demikian, ia melewatkan banyak kebaikan dari Allah bagi dirinya dan kesempatan berbuat baik kepada saudaranya sesama muslim. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya agar membantu orang-orang yang memiliki keperluan dengan memberikan syafaat bagi mereka di hadapan beliau, supaya mereka segera memperoleh pahala di sisi Allah, berdasarkan sabda beliau, “Berilah syafaat, niscaya kalian akan mendapatkan pahala.”
Sesungguhnya syafaat yang baik dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا
“Barang siapa memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian darinya.” (QS an-Nisa’: 85)
Sesungguhnya seluruh kebaikan dan kemanfaatan, baik yang bersifat umum maupun khusus, yang diperoleh umat ini tidak lain adalah melalui tangan beliau, dengan perantaraan beliau, pengajaran beliau, dan bimbingan beliau. Demikian pula, beliau telah membimbing mereka untuk menolak berbagai keburukan dan kemudaratan, baik yang bersifat umum maupun khusus, melalui segala jalan. Sungguh, beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberikan nasihat kepada umat.
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan Allah tercurah kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang Dia kehendaki.”
Ketetapan Allah Ta’ala ada dua macam: ketetapan qadari, yang mencakup kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan, bahkan mencakup seluruh yang telah terjadi dan yang akan terjadi, serta seluruh peristiwa yang terdahulu dan yang akan datang.
Yang lebih khusus darinya adalah ketetapan qadari dini, yang khusus berkaitan dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah. Apa yang ditetapkan melalui lisan Nabi-Nya termasuk bagian yang kedua ini. Sebab, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan rasul. Beliau telah menyempurnakan kedudukan penghambaan dan menyempurnakan tingkatan-tingkatan kerasulan.
Baca juga: BERSEGERA MELAKUKAN KEBAIKAN
Baca juga: LARANGAN MEMPERSULIT ORANG LAIN
Baca juga: PERINTAH BERBUAT BAIK KEPADA KERABAT
Baca juga: PERISTIWA SYAFAAT AGUNG DAN PERJALANAN MANUSIA MELINTASI SHIRATH
Baca juga: MACAM-MACAM SYAFAAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

