Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita dari satu jiwa, kemudian dari jiwa itu Dia menciptakan pasangannya agar ia merasa tenteram kepadanya. Dari keduanya Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan.
Kami bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kami mengakui hal itu dengan penuh kecintaan dan loyalitas. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus dengan ayat-ayat yang jelas laksana terangnya waktu subuh.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Amma ba’du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan ambillah pelajaran dari kisah-kisah para nabi dan rasul. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan pada kisah-kisah mereka pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal dan pikiran. Mereka mengambil pelajaran dari balasan yang besar dan pertolongan yang nyata yang diberikan kepada orang-orang yang mengikuti mereka, serta dari azab yang keras dan hukuman yang pedih yang menimpa orang-orang yang berpaling.
Wahai manusia, sungguh Allah telah mengisahkan kepada kita berita tentang suatu umat dari umat-umat terdahulu. Berita ini merupakan suatu perkara yang sangat mengherankan bagi bangsa Arab, karena dengan akal, fitrah, dan sifat kejantanan mereka, mereka mengingkari perbuatan kaum tersebut, yaitu perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum mereka.
Allah telah mengisahkan kepada kita tentang Luth ketika ia berkata kepada kaumnya:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari seluruh alam sebelum kalian? Sesungguhnya kalian benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan. Bahkan, kalian adalah kaum yang melampaui batas.’” (QS al-A’raf: 80–81)
Mereka, wal’iyadzu billah, mendatangi sesama laki-laki dan menyetubuhi mereka sebagaimana dilakukan terhadap perempuan. Itulah perbuatan keji yang sangat besar dan keadaan yang sangat mungkar. Hati mereka telah terbalik, akal, fitrah, dan selera mereka pun telah berubah.
Mereka mendatangi tempat keluarnya kotoran, mendatangi laki-laki yang sama seperti mereka, menaiki mereka sebagaimana mereka menaiki perempuan, dan menyetubuhi mereka sebagaimana mereka menyetubuhi perempuan, demi kenikmatan dan pelampiasan syahwat.
Luth terus memperingatkan mereka dengan mengingatkan kepada Allah dan menakut-nakuti mereka dengan azab Allah. Akan tetapi, apakah manfaat ayat-ayat dan peringatan bagi kaum yang tidak beriman? Mereka terus-menerus tenggelam dalam kedurhakaan mereka.
Maka Allah mengutus para malaikat kepada Nabi-Nya, Luth. Mereka memerintahkannya agar keluar pada malam hari bersama keluarganya dari negeri itu, kecuali istrinya. Lalu Luth melaksanakan perintah tersebut dan keluar dari negeri itu.
Kemudian Allah Ta’ala menurunkan azab dari langit kepada negeri itu. Dia membalikkan bagian atasnya menjadi bagian bawahnya, lalu menghujaninya dengan batu-batu dari tanah yang terbakar yang bertubi-tubi. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
“Dan azab itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS Hud: 83)
Wahai kaum muslimin, sesungguhnya perbuatan liwath adalah suatu kekejian yang sangat besar. Ia merupakan kerusakan bagi agama dan dunia. Ia adalah penghancur akhlak. Ia melenyapkan sifat kejantanan. Ia merusak masyarakat. Ia mematahkan semangat. Ia menghilangkan kebaikan dan keberkahan. Ia merupakan alat penghancur dan perusak. Ia menjadi sebab kehinaan dan aib. Ia mendatangkan kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Ia menghilangkan kebaikan dan berbagai nikmat. Ia juga mendatangkan berbagai keburukan dan bencana.
Perbuatan itu telah diingkari oleh orang-orang Arab dengan fitrah dan selera mereka. Ia juga telah diingkari oleh syariat-syariat samawi dan risalah-risalah ilahi. Hal itu tidak lain karena besarnya bahaya, kerusakan, dan keburukannya, yang kerusakan akibatnya tidak dapat dihitung atau dibatasi.
Wahai kaum muslimin, sungguh Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita apa yang telah dilakukan oleh kaum Luth. Kemudian Allah berfirman:
وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
“Dan azab itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS Hud: 83)
Sesungguhnya perbuatan liwath merupakan suatu kezaliman yang sangat besar dari berbagai sisi. Ia adalah kezaliman terhadap pelakunya sendiri, karena dengan perbuatan kejinya itu ia menyeret dirinya kepada segala bentuk kehinaan, aib, hukuman, dan hilangnya kehormatan. Ia juga merupakan kezaliman terhadap orang yang menjadi objek perbuatan tersebut, karena ia mengalami jatuhnya martabat, kehinaan, dan hukuman. Demikian pula, ia merupakan kezaliman terhadap seluruh masyarakat karena perbuatan keji itu akan mengakibatkan berbagai macam musibah dan turunnya berbagai hukuman.
Jika manusia tidak dihukum dengan dibalikkan negeri mereka sehingga bagian atasnya menjadi bagian bawahnya, maka mereka bisa dihukum dengan dibalikkannya hati mereka dan dibutakannya hati tersebut, sehingga mereka memandang yang benar sebagai kebatilan, yang batil sebagai kebenaran, yang makruf sebagai kemungkaran, dan yang mungkar sebagai kemakrufan. Demi Allah, hukuman seperti ini lebih berat daripada dibalikkannya negeri-negeri.
Wahai kaum muslimin, sesungguhnya kewajiban kita sebagai masyarakat Islam yang berakhlak adalah menjaga dengan sungguh-sungguh agar tetap berpegang teguh kepada agama kita dan berakhlak dengan akhlak-akhlaknya yang mulia. Kita juga harus berusaha dengan segenap kemampuan untuk mencegah segala sesuatu yang merusak akhlak atau membahayakan agama, serta melakukan setiap tindakan pencegahan yang dapat menghalangi terjadinya hal tersebut.
Sesungguhnya kita wajib memperhatikan anak-anak kita. Kita harus mengawasi mereka: ke mana mereka pergi, di mana mereka berada, dengan siapa mereka berteman, dan kepada siapa mereka duduk bergaul. Kita juga harus mencegah mereka, bahkan jika perlu dengan menahan mereka tetap di rumah, dari bergaul dengan orang-orang yang bodoh dan hidup bersama orang-orang yang dikhawatirkan pergaulannya akan membawa kerusakan. Kita harus mengambil langkah-langkah pencegahan dan bersikap sekeras mungkin terhadap hal-hal yang mengandung keraguan, karena akhlak tidak ada sesuatu pun yang dapat menggantikannya.
Benarlah perkataan penyair:
Sesungguhnya suatu bangsa tetap tegak selama akhlaknya masih ada.
Apabila akhlak mereka telah lenyap, maka lenyap pulalah mereka.
Setiap orang yang memikul tanggung jawab wajib melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dengan mengambil berbagai langkah pencegahan untuk menghalangi berbagai keburukan dan kerusakan. Sebab, keburukan itu apabila tidak dihadapi dengan kekuatan, ketegasan, dan tindakan, maka ia akan menyebar dan semakin meluas hingga tidak mungkin lagi dapat dilawan.
Maka bertakwalah kepada Allah Ta’ala, wahai kaum muslimin, dan tunaikanlah amanah yang Allah percayakan kepada kalian. Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya.
Dengarkanlah firman Allah Ta’ala tentang kaum Luth:
كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا كَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ وَلَقَدْ أَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَنْ ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُسْتَقِرٌّ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Kaum Luth telah mendustakan peringatan-peringatan. Sesungguhnya Kami mengirimkan kepada mereka hujan batu, kecuali keluarga Luth. Kami menyelamatkan mereka pada waktu sahur, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang bersyukur. Dan sungguh, Luth telah memperingatkan mereka akan azab Kami, tetapi mereka tetap meragukan peringatan-peringatan itu. Sungguh, mereka telah berusaha membujuknya agar menyerahkan tamu-tamunya kepada mereka, lalu Kami butakan mata mereka. Maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku. Dan sungguh, pada pagi hari mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku. Dan sungguh, telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk menjadi pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar: 33–40)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Baca juga: KISAH NABI LUTH
Baca juga: PEMIMPIN TIDAK BOLEH PILIH KASIH
Baca juga: SODOMI ADALAH KEKEJIAN YANG PALING BESAR
Baca juga: BERIMAN KEPADA TAKDIR DAN PILIHAN MANUSIA
Baca juga: KISAH NABI IBRAHIM – IBRAHIM DAN SARAH DI MESIR SERTA KELAHIRAN ISMAIL DAN ISHAQ
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

