Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam, Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarganya yang suci, dan kepada seluruh sahabatnya.
Amma ba’du.
Wahai kaum muslimin, wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya menyambung silaturahmi termasuk perkara yang diwajibkan oleh Allah, sedangkan memutuskan silaturahmi termasuk perkara yang diharamkan oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya menurut Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS al-Anfal: 75)
Mewujudkan loyalitas di antara kaum kerabat dilakukan dengan rasa cinta dan saling menolong, yaitu sebagian mereka mencintai sebagian yang lain dan sebagian mereka menolong sebagian yang lain. Apabila tidak ada rasa cinta dan pertolongan, maka tidak ada loyalitas. Yang ada hanyalah kebencian dan permusuhan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.” (QS an-Nisa’: 1)
Allah Ta’ala memerintahkan agar bertakwa kepada-Nya, yaitu menaati-Nya dalam segala yang Dia perintahkan dan Dia larang. Allah juga memerintahkan agar menjaga hubungan kekerabatan, yaitu dengan menyambungnya dan tidak memutuskannya, karena dalam menyambung hubungan kekerabatan terdapat sikap saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan, sedangkan dalam memutuskannya terdapat dosa dan permusuhan.
Allah Ta’ala juga berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad: 22)
Allah Ta’ala menggandengkan antara berbuat kerusakan di muka bumi, yaitu kesyirikan dan melakukan berbagai kemaksiatan, dengan memutuskan hubungan kekerabatan dan tidak menyambungnya, karena hal tersebut menimbulkan berbagai dampak buruk terhadap individu, keluarga, bahkan seluruh masyarakat.
Sesungguhnya menyambung silaturahmi, wahai hamba-hamba Allah, merupakan cabang dari berbakti kepada kedua orang tua. Barang siapa durhaka kepada kedua orang tuanya, maka ia tidak menyambung silaturahminya. Barang siapa memutuskan hubungan kekerabatannya, maka ia tidak berbakti kepada kedua orang tuanya.
Sesungguhnya kedua orang tua ibarat pangkal sebuah pohon, sedangkan kaum kerabat ibarat cabang-cabangnya. Barang siapa durhaka kepada kedua orang tuanya, berarti ia telah memotong pohon itu dari pangkalnya. Barang siapa memutuskan hubungan dengan kaum kerabatnya, berarti ia telah memotong cabang-cabangnya. Akibatnya, tidak ada lagi naungan dan tidak ada pula buahnya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal tersebut.
Maka berbaktilah, wahai hamba-hamba Allah, kepada kedua orang tua kalian dan sambunglah hubungan dengan kaum kerabat kalian, niscaya kalian akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam beberapa ayat Surah ar-Ra’d sifat-sifat penghuni Surga, dan di antara sifat yang Dia sebutkan adalah menyambung hubungan kekerabatan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
“Orang-orang yang menyambungkan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan, mereka takut kepada Rabb mereka dan takut kepada buruknya perhitungan.” (QS ar-Ra’d: 21)
Allah juga menyebutkan sifat-sifat penghuni Neraka, dan di antaranya adalah memutuskan hubungan kekerabatan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ، وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ، وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ، أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
“Orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh, memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itulah yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.” (QS ar-Ra’d: 25)
Sesungguhnya yang diperintahkan Allah agar disambungkan adalah hubungan kekerabatan. Barang siapa menyambungnya, niscaya Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barang siapa memutuskannya, niscaya Allah akan memutuskan hubungan dengannya. Maka ingatlah hal ini, wahai hamba-hamba Allah. Dengarkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menganjurkan untuk menyambung silaturahmi dan memperingatkan dari memutuskannya.
al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan kekerabatannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)
Dengarkanlah, wahai hamba-hamba Allah, kisah berikut ini yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya. Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, tetapi mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersikap santun terhadap mereka, tetapi mereka bersikap bodoh terhadapku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ
“Jika benar keadaanmu sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau menyuapkan abu panas kepada mereka, dan akan senantiasa ada penolong dari Allah yang menyertaimu dalam menghadapi mereka.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2558)
Bimbingan Nabi ini mematahkan alasan orang yang mencari-cari alasan untuk tidak menyambung hubungan dengan kerabatnya karena mereka berbuat buruk kepadanya dan bersikap bodoh terhadapnya, serta karena setiap kali ia menyambung hubungan dengan mereka, mereka justru memutuskannya. Maka ingatlah hal ini, wahai hamba-hamba Allah. Sambunglah hubungan dengan kerabat kalian, niscaya rezeki kalian akan dilapangkan dan umur kalian akan ditambahkan.
Ketahuilah bahwa menyambung hubungan kekerabatan merupakan bagian dari berbakti kepada kedua orang tua. Barang siapa menyambung hubungan kekerabatannya, berarti ia telah berbakti kepada kedua orang tuanya. Barang siapa memutuskannya, berarti ia tidak berbakti dan tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
Dengarkanlah riwayat berikut ini. Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Usaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Bani Salimah. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada suatu bentuk bakti kepada kedua orang tuaku yang dapat aku lakukan kepada keduanya setelah mereka meninggal dunia?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
نَعَمْ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
“Ya, yaitu mendoakan keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya setelah keduanya meninggal dunia, menyambung hubungan kekerabatan yang tidak terjalin kecuali melalui keduanya, dan memuliakan sahabat keduanya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 5142. Syekh al-Albani menilainya dha’if dalam Misykat al-Mashabih no. 4936)
Maka perhatikanlah, wahai hamba-hamba Allah, bagaimana beliau menjadikan menyambung hubungan kekerabatan yang tidak dapat disambung kecuali melalui kedua orang tua sebagai bagian dari berbakti kepada kedua orang tua.
Wahai manusia, wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya menyambung hubungan kekerabatan termasuk ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana tauhid juga merupakan ajaran yang beliau bawa.
Allah memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dan bersyukur kepada kedua orang tua dalam firman-Nya:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS Luqman: 14)
Allah Ta’ala mendahulukan bersyukur kepada-Nya, yaitu dengan menaati-Nya, kemudian menyebutkan bersyukur kepada kedua orang tua, yaitu dengan berbakti dan berbuat baik kepada keduanya. Termasuk bentuk berbakti kepada kedua orang tua adalah menyambung hubungan kekerabatan yang tidak dapat disambung kecuali melalui keduanya.
Inilah ‘Amr bin ‘Abasah yang berkata: Aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang berada dalam tekanan kaumnya, dan ketika itu tidak ada yang bersama beliau selain Abu Bakar dan Bilal. Aku bertanya kepada beliau, ‘Siapakah engkau?’
Beliau menjawab,
نَبِيُّ اللَّهِ
“Nabi Allah.”
Aku bertanya, “Apakah Nabi Allah itu?”
Beliau menjawab,
أَرْسَلَنِي اللَّهُ تَعَالَى
“Allah Ta’ala telah mengutusku.”
Aku bertanya, “Dengan membawa apakah Dia mengutusmu?”
Beliau menjawab,
أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ
“Dia mengutusku untuk menyambung hubungan kekerabatan, menghancurkan berhala-berhala, dan agar Allah diesakan serta tidak ada sesuatu pun yang dipersekutukan dengan-Nya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 832)
Perhatikanlah, wahai hamba-hamba Allah, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam penjelasan beliau menyebutkan menyambung hubungan kekerabatan sebelum menghancurkan berhala-berhala dan mentauhidkan Allah Ta’ala dalam peribadahan kepada-Nya. Hal ini tidak mengherankan dan tidak pula aneh, karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad: 22)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang haramnya memutuskan hubungan kekerabatan dan wajibnya menyambung hubungan tersebut.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاصِلِ مَنْ وَصَلَ رَحِمَهُ، وَقَاطِعِ مَنْ قَطَعَهَا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الَّذِي بُعِثَ بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ فَلَا يُعْبَدَ مَعَهُ سِوَاهُ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ
Amma ba’du.
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya menyambung hubungan kekerabatan merupakan salah satu faktor terbesar yang mendatangkan kebaikan dan perbaikan, sedangkan memutuskannya merupakan salah satu faktor terbesar yang mendatangkan kerusakan. Cukuplah sebagai bukti atas kebenaran hal ini bahwa Allah Ta’ala memerintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan dan mengharamkan memutuskannya. Sebab, Allah Ta’ala tidak memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kecuali kepada sesuatu yang mengandung kesempurnaan dan kebahagiaan mereka. Dia juga tidak melarang mereka kecuali dari sesuatu yang mengandung kerugian dan kesengsaraan mereka di dunia dan akhirat sekaligus. Maka ingatlah hal ini, wahai hamba-hamba Allah, dan janganlah kalian melupakannya. Sambunglah hubungan dengan kerabat kalian.
Ketahuilah bahwa setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengan kalian termasuk kerabat kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Ketahuilah pula bahwa nenek berkedudukan seperti ibu, dan saudara perempuan ibu (bibi dari pihak ibu) berkedudukan seperti ibu. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, dalam berbakti dan menyambung hubungan kekerabatan hendaklah didahulukan orang yang paling dekat, kemudian yang lebih dekat berikutnya.
‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah nasab-nasab kalian sekadar yang dengannya kalian dapat menyambung hubungan kekerabatan kalian.”
Adapun memutuskan hubungan, maka itu merupakan kejahatan yang sangat buruk. Dalam perkara ini, janganlah kalian hanya melihat apakah hubungan kekerabatan itu dekat atau jauh. Sebab, tidak halal bagi seorang mukmin memutuskan hubungan dengan mukmin lainnya atau menyakitinya meskipun dengan gangguan yang paling ringan, karena adanya ikatan iman dan persaudaraan Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (QS at-Taubah: 71)
Allah Ta’ala juga berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudara kalian.” (QS al-Hujurat: 10)
Oleh karena itu, setiap mukmin hendaklah menunjukkan loyalitas kepada mukmin lainnya dengan mencintai dan menolongnya. Setiap mukmin hendaklah menjalin persaudaraan dengan mukmin lainnya, menyambung hubungan dengannya, berbuat baik kepadanya, dan tidak menyakitinya dengan gangguan sekecil apa pun.
Bagaimana mungkin tidak demikian, wahai hamba-hamba Allah, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَا يُسْلِمُهُ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَعِرْضُهُ، وَمَالُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya tanpa pertolongan, tidak mendustakannya, dan tidak menyerahkannya kepada orang yang menzaliminya. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. Sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585)
Wahai hamba-hamba Allah, wahai kaum muslimin, sambunglah hubungan kekerabatan kalian dan janganlah memutuskannya. Wujudkanlah persaudaraan Islam di antara kalian. Janganlah kalian melupakannya dan jangan pula mengabaikannya, karena sesungguhnya kalian akan ditanya tentangnya, akan dihisab atasnya, dan akan diberi balasan karenanya.
Maka bertakwalah kepada Allah dalam menjaga diri kalian. Bertobatlah kepada Rabb kalian. Mohonkanlah ampun bagi orang-orang yang telah meninggal di antara kalian dan mohonkanlah rahmat bagi mereka. Mohonlah petunjuk dan taufik bagi pemimpin dan para penguasa kalian.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu. Maka ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman. Ya Allah, berilah petunjuk, perbaikilah, dan jagalah pemimpin kami serta para penguasa kami. Ya Allah, melalui mereka, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman. Tinggikanlah kalimat-Mu, wahai Rabb seluruh alam.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Rabb-mu, Rabb Yang mempunyai kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan. Keselamatan semoga tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.” (QS ash-Shaffat: 180–182)
Baca juga: SIFAT SHALAT NABI – TASYAHUD AWAL
Baca juga: HAKIKAT MENYAMBUNG SILATURAHMI
Baca juga: PENGERTIAN RAHIM ATAU KEKERABATAN
Baca juga: KEUTAMAAN MENYAMBUNG SILATURAHMI
Baca juga: HAKIM MEMUTUSKAN BERDASARKAN YANG TAMPAK, ALLAH MENGETAHUI YANG TERSEMBUNYI
(Syekh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)

