Dari Hudzaifah dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَجْمَعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى النَّاسَ، فَيَقُومُ الْمُؤْمِنُونَ حَتَّى تُزْلَفَ لَهُمُ الْجَنَّةُ، فَيَأْتُونَ آدَمَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ، فَيَقُولُونَ: يَا أَبَانَا، اسْتَفْتِحْ لَنَا الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: وَهَلْ أَخْرَجَكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَّا خَطِيئَةُ أَبِيكُمْ؟ لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ. اذْهَبُوا إِلَى ابْنِي إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ اللَّهِ
“Allah Tabaraka wa Ta‘ala mengumpulkan manusia. Lalu orang-orang beriman berdiri hingga Surga didekatkan kepada mereka. Mereka pun mendatangi Adam ‘alaihissalam seraya berkata, ‘Wahai bapak kami, mintakanlah agar pintu Surga dibukakan untuk kami.’
Adam berkata, ‘Bukankah yang mengeluarkan kalian dari Surga adalah kesalahan bapak kalian? Aku bukan orang yang berhak untuk itu. Pergilah kepada anakku Ibrahim, khalil Allah.’
Nabi bersabda,
فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ، فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ: لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ، إِنَّمَا كُنْتُ خَلِيلًا مِنْ وَرَاءَ وَرَاءَ، اعْمَدُوا إِلَى مُوسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللَّهُ تَكْلِيمًا. فَيَأْتُونَ مُوسَى، فَيَقُولُ: لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ، اذْهَبُوا إِلَى عِيسَى كَلِمَةِ اللَّهِ وَرُوحِهِ. فَيَقُولُ عِيسَى: لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ. فَيَأْتُونَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُومُ فَيُؤْذَنُ لَهُ، وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ، فَيَقُومَانِ جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ
“Mereka pun mendatangi Ibrahim. Ibrahim berkata, ‘Aku bukan orang yang berhak untuk itu. Aku hanyalah khalil dari belakang dan dari belakang. Pergilah kepada Musa yang Allah berbicara langsung kepadanya.’
Mereka pun mendatangi Musa. Musa berkata, ‘Aku bukan orang yang berhak untuk itu. Pergilah kepada Isa, kalimat Allah dan roh-Nya.’
Isa berkata, ‘Aku bukan orang yang berhak untuk itu.’
Kemudian mereka mendatangi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri dan diizinkan baginya. Lalu amanah dan silaturahim diutus, keduanya berdiri di kedua sisi Shirath, sebelah kanan dan sebelah kiri.
Orang yang pertama di antara kalian melewati shirath seperti kilat.
Aku (perawi) bertanya, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, seperti apa cepatnya kilat itu?”
Beliau menjawab,
أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ؟ ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ، ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ، وَشَدِّ الرِّجَالِ، تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ. وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ، يَقُولُ: رَبِّ سَلِّمْ، سَلِّمْ، حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ، حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا. وَفِي حَافَتَيِ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ. فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ، وَمُكَرْدَسٌ فِي النَّارِ
“Tidakkah kalian melihat bagaimana kilat lewat dan kembali dalam sekejap mata? Kemudian ada yang seperti angin, kemudian seperti burung, kemudian seperti larinya manusia yang sangat cepat. Mereka berlari sesuai dengan amal-amal mereka.
Nabi kalian berdiri di atas Shirath sambil berkata, ‘Wahai Rabb-ku, selamatkanlah, selamatkanlah.’ Hingga amal-amal para hamba menjadi lemah, sampai datang seseorang yang tidak mampu berjalan kecuali dengan merangkak.
Di kedua tepi Shirath terdapat kait-kait yang tergantung, yang diperintahkan untuk mengambil siapa saja yang diperintahkan untuk diambilnya. Maka ada yang terluka tetapi selamat, dan ada yang terjerumus ke dalam Neraka.”
Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, sesungguhnya kedalaman Jahanam dicapai dalam tujuh puluh tahun perjalanan. (HR Muslim no. 195)
Sabdanya, “وَرَاءَ وَرَاءَ” dibaca dengan fathah pada keduanya, dan ada pula yang mengatakan dengan dhammah tanpa tanwin. Maknanya adalah “Aku tidak berada pada derajat yang tinggi itu.” Ungkapan ini disebutkan sebagai bentuk tawadhu‘ (kerendahan hati).
Aku telah menjelaskan maknanya secara lebih luas dalam Syarah Shahih Muslim.
Wallahu a‘lam.
PENJELASAN
Penulis rahimahullah berkata tentang hadis yang ia nukil dari Hudzaifah dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma mengenai syafaat. Hal itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dijanjikan oleh Rabb-nya bahwa Dia akan membangkitkannya pada kedudukan yang terpuji (maqaman mahmudan).
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Pada sebagian malam hari bertahajudlah engkau sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji.” (QS al-Isra’: 79)
Apabila kata “‘asa” (mudah-mudahan) datang dari Allah, maka maknanya pasti terjadi. Berbeda dengan “‘asa” yang berasal dari makhluk, karena pada makhluk kata itu menunjukkan harapan atau kemungkinan.
Jika kamu mengatakan, “‘Asa Allahu an yahdiyani (semoga Allah memberiku hidayah), ‘asa Allahu an yaghfira li (semoga Allah mengampuniku), ‘asa Allahu an yarhamani (semoga Allah merahmatiku),” maka itu adalah harapan (raja’). Adapun jika Allah yang berfirman dengan kata “‘asa”, maka itu adalah janji. Oleh karena itu, para ulama mengatakan, “‘Asa dari Allah adalah pasti terjadi.”
Contohnya firman Allah Ta’ala:
فَاُولٰۤىِٕكَ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّعْفُوَ عَنْهُمْ
“Maka mereka itulah yang mudah-mudahan Allah memaafkan mereka.” (QS an-Nisa’: 99)
Dan firman-Nya:
فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ
“Maka mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atau suatu keputusan dari sisi-Nya.” (QS al-Ma’idah: 52)
Dan ayat-ayat lain yang semisal dengannya.
Allah ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Dia akan membangkitkannya pada kedudukan yang terpuji (maqaman mahmudan), yaitu suatu kedudukan yang dipuji oleh orang-orang terdahulu maupun yang datang kemudian. Hal itu tampak dari beberapa sisi.
Di antaranya adalah hadis tentang syafaat. Manusia pada Hari Kiamat dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Tidak beralas kaki karena tidak memakai sandal, telanjang karena tidak mengenakan pakaian, dan belum dikhitan, yaitu kulit yang dipotong saat khitan untuk tujuan bersuci kembali seperti semula pada Hari Kiamat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya.” (QS al-Anbiya: 104)
Allah mengumpulkan seluruh makhluk, sementara matahari berada di atas mereka sejauh satu mil. Terjadi berbagai kengerian yang sangat dahsyat. Mereka menyaksikan gunung-gunung berjalan seperti jalannya awan hingga menjadi debu yang berhamburan.
Kegelisahan dan kesedihan pun menimpa mereka dengan sesuatu yang tidak mampu mereka tanggung. Maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Tidakkah kalian mencari seseorang yang dapat memberi syafaat bagi kita di sisi Allah?”
Lalu mereka mendatangi Adam ‘alaihissalam dan memintanya agar memberikan syafaat. Namun ia menyebutkan kesalahan yang pernah terjadi darinya.
Kesalahan yang terjadi darinya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya dan kepada istrinya ketika Dia menempatkan keduanya di Surga:
وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
“Makanlah oleh kalian berdua dengan leluasa apa saja yang ada di dalamnya sesuai kehendak kalian, tetapi janganlah kalian mendekati pohon ini, sehingga kalian termasuk orang-orang yang zalim.” (QS al-Baqarah: 35)
Pohon tersebut adalah pohon yang ditentukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Namun tidak ada manfaat besar bagi kita untuk mengetahui jenisnya. Oleh karena itu, kita tidak mengetahui jenis pohon itu: apakah dari pohon zaitun, gandum, anggur, atau kurma. Kita tidak mengetahuinya. Yang wajib bagi kita adalah membiarkannya dalam keadaan samar sebagaimana Allah menyamarkannya. Seandainya penentuan jenisnya memiliki manfaat bagi kita, tentu Allah ‘Azza wa Jalla akan menjelaskannya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Adam dan Hawwa: “Janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, sehingga kalian termasuk orang-orang yang zalim.”
Lalu setan mendatangi keduanya dan membisikkan godaan kepada mereka, menjerumuskan keduanya dengan tipu daya, serta bersumpah kepada mereka, “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepada kalian.”
Demikian pula yang ia lakukan terhadap anak keturunan Adam. Ia menipu mereka, menggoda mereka, membisikkan berbagai godaan, dan bersumpah bahwa ia memberi nasihat, padahal ia adalah pendusta.
Adam menyebutkan kesalahannya —yaitu ia dan istrinya memakan buah dari pohon tersebut. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan keduanya untuk turun dari Surga ke bumi. Maka keduanya pun turun ke bumi, dan dari keduanya lahir keturunan yang di antaranya terdapat para nabi, para rasul, para syuhada, dan orang-orang saleh. Kemudian Adam meminta maaf dengan alasan tersebut.
Dalam hadis ini —yakni hadis syafaat— disebutkan bahwa Adam menyampaikan alasannya dengan menyebutkan bahwa ia memakan dari pohon itu. Hal ini menunjukkan bahwa kisah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, yaitu bahwa Hawwa pernah mengandung, lalu setan datang kepadanya dan berkata, “Namailah anak itu ‘Abdul-Harith, atau aku akan menjadikannya bertanduk seperti rusa sehingga ia keluar dari perutmu dan merobeknya.”
Pada awalnya keduanya menolak untuk menaatinya. Setan datang lagi kepada mereka untuk kedua kalinya, dan mereka tetap menolak. Kemudian ia datang kepada keduanya untuk ketiga kalinya. Saat itu keduanya telah dikuasai oleh rasa cinta terhadap anak, sehingga mereka pun menamainya ‘Abdul-Harith.
Kisah tersebut dijadikan sebagai tafsir firman Allah Ta’ala:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۚ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۚ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا ۚ فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dia-lah yang menciptakan kalian dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya agar ia merasa tenteram kepadanya. Maka ketika ia mencampurinya, istrinya mengandung kandungan yang ringan, lalu ia terus membawanya. Ketika kandungan itu menjadi berat, keduanya berdoa kepada Allah, Rabb mereka, ‘Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Ketika Dia memberi keduanya anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya terhadap apa yang telah Dia berikan kepada keduanya. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS al-A’raf: 189-190)
Sesungguhnya kisah tersebut adalah kisah yang dusta dan tidak sahih, ditinjau dari beberapa sisi:
Pertama: tidak terdapat berita yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Padahal kisah semacam ini termasuk berita yang tidak dapat diketahui kecuali melalui wahyu.
Kedua: para nabi terjaga dari perbuatan syirik berdasarkan kesepakatan para ulama.
Ketiga: dalam hadis syafaat telah ditegaskan bahwa manusia mendatangi Adam untuk meminta syafaat, lalu ia meminta maaf dengan menyebutkan kesalahannya karena memakan dari pohon tersebut —padahal itu hanyalah sebuah maksiat. Seandainya syirik pernah terjadi darinya, tentu ia akan menyebutkan hal itu sebagai alasan, karena alasan tersebut lebih kuat, lebih layak, dan lebih utama untuk disebutkan.
Dengan demikian, dalil-dalil ini dan yang lainnya menunjukkan bahwa tidak boleh meyakini bahwa Adam dan Hawwa pernah melakukan syirik dalam keadaan apa pun.
Adam pun meminta maaf untuk memberikan syafaat. Lalu manusia mendatangi Nuh ‘alaihissalam, yaitu rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi.
Manusia menyebutkan keutamaan itu kepadanya dan berkata, “Engkau adalah rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi, maka berilah kami syafaat di sisi Rabb-mu.”
Namun Nuh juga meminta maaf, karena ia pernah memohon kepada Rabb-nya sesuatu yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya, yaitu ketika ia berkata,
رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ
“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah benar, dan Engkau adalah Hakim yang paling adil.” (QS Hud: 45)
Nuh memiliki seorang anak yang kafir kepadanya. Ayahnya adalah seorang rasul, namun ia tetap kafir kepada rasul tersebut —wal’iyadzu billah. Nasab tidak memberi manfaat bagi seseorang.
Anak seorang alim belum tentu menjadi alim. Bahkan bisa saja menjadi orang yang bodoh. Demikian pula anak seorang ahli ibadah belum tentu menjadi ahli ibadah. Bahkan bisa menjadi orang yang fasik dan durhaka. Anak seorang rasul pun tidak mesti menjadi orang beriman.
Inilah anak Nabi Nuh ‘alaihissalam. Salah seorang anaknya adalah seorang kafir. Ketika itu ayahnya berkata,
يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ
“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS Hud: 42)
Namun ia menjawab,
سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ
“Aku akan berlindung ke sebuah gunung yang akan melindungiku dari air.”
Nuh berkata,
لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ
“Tidak ada yang dapat melindungi pada hari ini dari ketetapan Allah kecuali orang yang dirahmati-Nya.”
Lalu gelombang memisahkan keduanya, sehingga ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS Hud: 43)
Anak itu pun tenggelam bersama orang-orang kafir —wal’iyadzu billah. Sementara Nuh telah berkata,
رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ
“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah benar, dan Engkau adalah Hakim yang paling adil.”
Nuh pun meminta maaf karena ia pernah memohon sesuatu yang tidak ia ketahui hakikatnya.
Seorang pemberi syafaat tidak boleh memiliki hubungan yang renggang dengan pihak yang dimintai syafaat; harus ada hubungan yang kuat yang tidak ternodai oleh apa pun. Padahal Allah telah mengampuni Nuh ‘alaihissalam, dan Adam pun telah diampuni oleh Allah. Rabb-nya telah memilihnya, menerima tobatnya, dan mengampuninya. Namun karena kesempurnaan kedudukan mereka dan tingginya derajat mereka, dosa yang telah diampuni itu tetap mereka anggap sebagai penghalang untuk memberikan syafaat. Semua itu karena pengagungan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta karena rasa malu dan tunduk kepada-Nya.
Kemudian mereka mendatangi Ibrahim ‘alaihissalam, khalil (kekasih) Allah ‘Azza wa Jalla. Namun ia pun meminta maaf dan mengatakan bahwa ia pernah berdusta dalam perkara Allah sebanyak tiga kali. Padahal dusta yang disebutkan itu bukan dusta dalam hakikatnya, karena ia ‘alaihissalam menakwilkannya. Ta’wil semacam itu sebenarnya bukan dusta. Akan tetapi, karena besarnya pengagungan Ibrahim kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia memandang hal itu sebagai penghalang baginya untuk memberikan syafaat, yaitu untuk maju memohonkan syafaat bagi seseorang.
Kemudian mereka mendatangi Musa ‘alaihissalam dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah berbicara langsung denganmu dan menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya.”
Namun Musa pun meminta maaf karena ia pernah membunuh seseorang yang tidak diperintahkan untuk dibunuhnya.
Kisahnya adalah bahwa Musa ‘alaihissalam termasuk orang yang sangat kuat dan perkasa. Pada suatu hari ia melewati dua orang yang sedang berkelahi. Yang satu dari golongannya, yaitu Bani Israil, dan yang lainnya dari musuhnya, yaitu kaum Fir‘aun dari bangsa Qibthi.
Orang yang berasal dari golongannya meminta pertolongan kepadanya terhadap orang yang menjadi musuhnya, yakni meminta agar Musa menolong dan membantunya melawan orang tersebut.
Musa memukul orang yang menjadi musuhnya itu dengan satu pukulan, sehingga ia tewas seketika. Ia mati hanya dengan satu pukulan, karena Musa ‘alaihissalam adalah seorang yang sangat kuat dan perkasa.
Musa berkata,
هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ
“Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata.” (QS al-Qhashash: 15)
Pada pagi harinya, Musa mendapati orang yang kemarin meminta pertolongannya itu kembali berselisih dengan orang lain.
Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالْأَمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ قَالَ لَهُ مُوسَى إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ
“Ternyata orang yang kemarin meminta pertolongannya itu kembali meminta pertolongannya. Musa berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sesat dengan nyata.’” ( QS al-Qhashash:18)
Yakni, kemarin engkau berselisih dengan seseorang, dan hari ini engkau berselisih lagi dengan orang lain.
Ketika Musa hendak memukul orang yang menjadi musuh bagi keduanya itu, orang Israil tersebut berkata,
اَتُرِيْدُ اَنْ تَقْتُلَنِيْ كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًاۢ بِالْاَمْسِ
“Apakah engkau ingin membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh seseorang kemarin?” (QS al-Qashash: 19)
Saat itu orang-orang sedang mencari siapa yang membunuh orang tersebut pada hari sebelumnya. Orang Qibthi itu pun memahami hal tersebut, lalu ia memberitahukan kepada orang-orang bahwa Musa adalah pembunuhnya.
Inti dari kisah ini adalah bahwa Musa ‘alaihissalam meminta maaf kepada manusia pada Hari Kiamat, karena ia pernah membunuh seseorang yang tidak diperintahkan untuk dibunuhnya.
Kemudian mereka mendatangi Isa ‘alaihissalam dan berkata kepadanya, “Engkau adalah kalimat Allah dan roh dari-Nya.”
Adapun “kalimat Allah” maksudnya adalah bahwa engkau diciptakan dengan kalimat Allah. Adapun “roh dari-Nya”, maksudnya bahwa engkau adalah salah satu roh yang Allah ‘Azza wa Jalla ciptakan.
Isa pun meminta maaf, namun ia tidak menyebutkan suatu dosa atau sesuatu yang dijadikannya alasan. Ia kemudian mengarahkan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Pergilah kepada Muhammad, seorang hamba yang Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.”
Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri, lalu diizinkan baginya, kemudian beliau memberikan syafaat.
Beliau pun memberikan syafaat kepada manusia hingga diputuskan perkara di antara mereka.
Dalam hadis yang disebutkan oleh penulis rahimahullah ini juga dijelaskan bahwa amanah dan silaturahim berdiri di kedua sisi Shirath.
Adapun Shirath adalah jembatan yang terbentang di atas Jahanam.
Para ulama berbeda pendapat tentang jembatan ini. Apakah ia jembatan yang luas atau jembatan yang sempit.
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ia lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. Namun manusia tetap akan melintasinya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ia adalah jalan yang licin dan membuat tergelincir.
Di atas jembatan itu terdapat kait-kait (kalalib) yang menyambar manusia sesuai dengan amal-amal mereka. Di antara manusia ada yang disambar lalu dilemparkan ke dalam Neraka. Ada pula yang melintas secepat kilat, ada yang melintas seperti kencangnya unta yang berlari, dan ada yang seperti angin, sesuai dengan tingkatan dan amal-amal mereka. Amal-amal mereka membawa mereka melintas.
Barang siapa di dunia lebih cepat dalam menempuh jalan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti syariat-Nya, maka ia akan lebih cepat pula melintas di atas Shirath. Sebaliknya, siapa yang di dunia lambat dalam mengikuti syariat, maka perjalanannya di sana juga akan lambat.
Pada hari itu para rasul berdoa, “Allahumma sallim, sallim” (Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah). Masing-masing merasa khawatir terhadap dirinya, karena perkara itu bukan perkara yang ringan, melainkan perkara yang sangat berat.
Manusia berada dalam keadaan sangat takut dan cemas, hingga akhirnya mereka dapat menyeberangi Shirath tersebut menuju Surga. Sebagian manusia ada yang terjerumus ke dalam neraka Jahanam lalu disiksa sesuai dengan amal perbuatannya.
Adapun orang-orang kafir murni, mereka tidak naik ke atas Shirath dan tidak pula melintasinya. Mereka dibawa ke Jahanam sebelum naik ke atas Shirath, dan mereka digiring menuju Jahanam secara berkelompok. Yang naik ke atas Shirath hanyalah orang-orang beriman. Namun siapa di antara mereka yang memiliki dosa yang belum diampuni, bisa saja ia jatuh ke dalam neraka Jahanam, lalu disiksa sesuai dengan amal perbuatannya.
Wallahu a‘lam.
Baca juga: RUKUN ISLAM: SYAHADAT
Baca juga: SYAHADAT, KEPEMIMPINAN, DAN KETEGASAN ISLAM: PELAJARAN DARI KHAIBAR
Baca juga: KESABARAN MENGHADAPI PEMIMPIN ZALIM DAN UJIAN ZAMAN
Baca juga: BERIMAN KEPADA TAKDIR DAN PILIHAN MANUSIA
Baca juga: HUKUM MAKAN DENGAN MENGGUNAKAN WADAH KAUM AHLI KITAB
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

